Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Kembar Tapi Beda


__ADS_3

"Stik daging ini enak sekali Alfian." Liana terus mengunyah makanan di mulutnya, dia sangat menikmati.


Seseorang di depannya menatap dengan keheranan. "Kamu seperti orang yang tidak pernah memakannya saja, keluarga kita sering pergi bersama ke restoran besar, dan sebelumnya kamu terlihat biasa saja." tutur Alfian.


Liana lupa lagi bahwa dia sedang menyamar, dia sangat terbuai dengan kemewahan yang kini dirasakan. Penjelasan Alfian membuat hatinya dongkol, timbul rasa iri yang semakin menjadi-jadi. Hasrat hatinya ingin bertukar posisi, menyembunyikan jati diri dilakukan seumur hidup. Berencana membuat Liani mengalami penderitaan, yang pernah dialaminya.


”Kamu enak sekali iya Liani, sekarang kamu harus menderita. Aku harus jahat padamu, kamu bersenang-senang di atas penderitaan aku. Papa tidak adil, dia membuang ku.” batin Liana.


Alfian melambaikan tangannya, tepat di depan wajah Liana. "Kenapa kamu melamun Liani?" tanya Alfian.


Tidak ada sahutan dari orang yang ditanyainya, karena sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Brak!" Alfian sengaja menggebrak meja, dan berhasil membuat Liana tersadar.


"Kamu kenapa sih Alfian?" Liana segera mengambil gelas berisi air di atas meja, dan meminumnya sebelum dia tersedak.


"Kamu sih melamun saja, nanti tersenggol makhluk halus loh." Alfian meledeknya.


Liani berbicara dalam batin. ”Makan stik daging pakai garpu saja aku sampai tidak bisa, sangat kampungan. Aku akan terus menyembunyikan hasil tes DNA itu, hanya aku yang boleh tahu.”

__ADS_1


Liani menghampiri mbok Inem yang tengah bersandar di kursi. "Mbok, maafkan aku iya, kalau ucapanmu tadi siang membuat Mbok sedih." ucap Liani.


Mbok menoleh. "Tidak apa Liana, tapi kamu harus berjanji, jangan pernah menanyakan hal seperti itu lagi."


Liani mengangguk. "Tapi aku bukanlah Liana Mbok."


"Apa kamu tidak bahagia menjadi anak Mbok, hingga mengakui namamu saja tidak mau." Mbok Inem terlihat sedih, mungkin aku terlalu miskin pikirnya.


"Tidak mbok, aku bahagia." jawabnya terpaksa. Dia memeluk mbok Inem, untuk menenangkan hatinya.


Mata Liani sudah mulai berkaca-kaca, dia tidak tahu harus berbuat apa. Bukan tentang harta yang dia cemaskan, tapi papanya yang dia rindukan tidak bisa sering dilihatnya lagi.


Mbok Inem merasa nyaman dalam pelukan Liani. ”Maafkan Mbok Liana, ini belum saatnya mbok untuk memberitahukan kamu tentang kebenarannya.” batinnya.


"Liana, siapa yang mengajarimu berjilbab?" tanya mbok Inem.


"Seseorang mbok." jawabnya.


"Siapa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Seseorang yang sangat berarti di dalam hidupku." Membayangkan wajah Aulia sang mama tercinta, yang kini telah bergelar Almarhumah.


"Cie, kamu lagi dekat sama siapa?" Goda mbok Inem, dengan senyum khasnya.


"Dekat dengan Mbok." jawabnya tersenyum.


”Kenapa Liana bisa berubah secepat ini iya. Dia kan tidak bersifat seperti ini, mungkin saja hidayah sedang menyapanya.” batin mbok Inem.


Liana melempar piring yang ada di atas meja makan. "Kenapa makanan ini tidak enak bibi." teriaknya.


"Astaghfirullah, nona kenapa marah-marah?" tanya bibi Ijah.


"Bibi masih bertanya kenapa? Apa Bibi tahu, makanan ini sangat tidak enak. Apa bahan yang Bibi masukan ke dalam sini?" Berteriak lantang.


"Bibi hanya memasukkan bawang, cabe, garam, bumbu tambahan penyedap rasa, dan mentega ke dalam sayuran." jawabnya, sambil menundukkan kepala.


"Bibi bilang hanya? Aku tidak suka, jika ada mentega di dalam sayuran." Liana berbicara kasar, sambil melempar sendok garpu ke lantai.


Dia segera pergi meninggalkan bibi Ijah di ruang makan, yang menatap penuh dengan tanya di kepala.

__ADS_1


__ADS_2