
Alfian dan Liani datang ke panti asuhan, lalu meminta ibu Pratiwi membebaskan saudaranya. Dengan segala pertimbangan, akhirnya ibu Pratiwi setuju. Perempuan itu teringat dengan kebaikan, yang pernah Liani lakukan pada panti asuhan.
"Bu, terima kasih karena telah bersedia menolongku!" ucap Liani.
"Ya Nak, sama-sama!" jawabnya.
Regart menerima Liana apa adanya, meski perempuan tersebut sudah cacat. Sejak awal bertemu, Regart sudah naksir dengan Liana. Di balik sel jeruji besi, Regart memanggil perempuan tersebut.
"Liana, aku sedih melihat kamu seperti ini. Aku benar-benar menyukai kamu, dan ingin menjalani hari kedepan bersama." Regart mengungkapkan perasaan.
"Regart, kamu jangan berharap banyak. Sampai kapan pun, hanya Alfian yang ada dalam hatiku!" jawab Liana.
Setahun kemudian.
Tia sedang berada dalam mall, bersama dengan Alfian dan Liani. Tiba-tiba saja, Alfian ingin ke toilet. Tia dan Liani tinggal berdua, di dalam sebuah toko perhiasan.
"Tante sebenarnya tidak setuju, kamu bertunangan dengan Alfian!" ucap Tia.
"Hmm... bukankah sudah kesepakatan sejak dulu?" jawab Liani.
"Kamu yang ada di hadapanku, belum tentu Liani yang asli!" Tia berbicara dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Tante, aku ini Liani. Aku bukan Liana, yang sengaja menyamar. Dia selama ini menemani Tante, demi mendapatkan cinta Alfian!" jawab Liani.
Liana sengaja ingin mendorong Liani dari belakang, hingga tangannya tidak sengaja mendorong mama Alfian. Liana segera kabur, sebelum ada yang memergokinya. Tia hampir jatuh dari balkon, lalu dibantu oleh Liani. Tangan kanan dan kirinya berusaha sekuat tenaga, menahan Tia yang hampir jatuh.
"Jangan lepaskan Tante Liani, aku mohon!" pinta Tia.
"Tidak Tante, aku akan berusaha membawa tubuh Tante kembali ke atas!" jawab Liani.
Alfian muncul tiba-tiba, lalu membantu Liani yang kesulitan mengimbangi pertahanan tubuh. Tia jadi merasa bersalah, karena sudah jahat dengan Liani. Tia segera memeluk Liani, sambil menangis tersedu-sedu.
"Maafin Tante ya Liani!" ucap Tia.
Alfian segera mengejar Liana, yang kabur begitu saja. Alfian lewat jalan pintas, tempat penurunan barang sembako. Alfian menumpang naik kotak besi tersebut, lalu mencegat Liana di pintu gerbang.
"Mau kemana kamu? Cepat minta maaf ke Liani, atau aku laporkan ke polisi!" ancam Alfian.
"Alfian, aku mohon jangan!" jawab Liana, dengan wajah iba.
Tia dan Liani menghampiri Alfian, yang menarik paksa lengan Liana. Liani terkejut saat Liana memeluknya, lalu meminta maaf dengan tulus.
"Liani, aku minta maaf atas kesalahan aku selama ini!" ucapnya.
__ADS_1
"Ya Liana, aku sudah memaafkan kamu!" jawab Liani.
Alfian membawa kotak berisi sepasang cincin yang diberikan pada Tia, supaya memasangkannya pada Liani. Tia melihat ke arah seseorang, yang akan menjadi istri dari putranya.
"Liani, jaga hati anak Mama dengan baik!" ucap Tia.
"Ya Ma, kalau menjadi istrinya in syaa Allah aku berbakti!" jawab Liani.
Tia memasangkan cincin pada jari manisnya. "Bagus, jangan mengecewakan aku. Alfian pasti beruntung memiliki kamu."
"Semoga dia memang benar-benar merasa beruntung." Liani berharap seperti itu.
Beberapa jam setelah pemasangan cincin, pesta pernikahan diadakan. Liani tampil cantik, dengan make up sederhana. Hari ini hari bahagia, harus terlihat indah, ceria, dan rapi. Nhiky dengan setia mendampingi Liani, sampai ke panggung acara.
"Selamat ya anak Papa!" ucap Rahman.
"Ya Papa, terima kasih!" jawab Liani.
Liuqy dan Nhiky mengucapkan selamat kepada Alfian dan Liani. Liana memegang tongkatnya, lalu mengucapkan kalimat tulus pada Alfian. Sebuah ucapan selamat, yang dia berikan juga, kepada saudara kembarnya Liani. Regart pun ada di sana, untuk menghadiri acara peresmian hubungan tersebut.
(Tamat)
__ADS_1