
Zeylo dan Dhilo menghampiri Liana, memintanya untuk tanggungjawab. Jika dia tidak mau, lihat apa yang akan keduanya lakukan.
"Liana, kamu harus beri aku uang yang banyak, supaya aku bisa kabur dari sini. Sekarang kami berdua jadi buronan, karena aksi kejahatan hari kemarin." Zeylo mendesak orang, yang kini ada di hadapannya.
"Aku bisa memberi lima puluh juta, itu pun menggunakan uang tabungan pribadiku." Liana berterus-terang saja.
"Liana, kamu jangan coba-coba mempermainkan kami. Tugas berat seperti hari kemarin, sangat tidak masuk akal diberi imbalan lima puluh juta!" ucap Zeylo, dengan spontan.
"Tapi, aku tidak punya uang lebih dari itu. Kalian tahu sendiri, bahwa aku ini masih anak sekolah." Liana menjadi takut, kalau perbuatannya terbongkar.
Dhilo ikut berbicara. " Kami tidak bodoh! Kami berdua tahu, kalau papa kamu itu kaya. Kami tidak peduli, bagaimana pun caranya harus bawa uang seratus juta." Sangat memaksa, tanpa ingin mendengar sebuah alasan.
"Aku akan memberikan uangnya, namun tidak cuma-cuma. Kerjakan satu tugas lagi, setelah itu pergilah yang jauh!" Liana meminta syarat akhir.
Zeylo dan Dhilo sengaja mengganggu Liani, membawanya ke sebuah gudang. Liani sibuk bergerak untuk melepaskan diri, dari cengkeraman mereka.
__ADS_1
"Kalian mau apa dari aku?" tanya Liani.
Liana masuk ke perusahaan diam-diam, dengan menggunakan topeng. Tidak sengaja roknya tersangkut pada meja, lalu ditarik dengan terburu-buru saat mendengar suara pintu terbuka.
Rahman bersama dengan dua orang tamu kantor, berbincang tentang rencana rehabilitasi bangunan hotel. Ada sebuah lokasi, yang sudah lama tidak dijamah oleh telapak kaki manusia.
"Menurutku proyek ini harus dipromosikan dengan gencar, supaya memiliki daya pikat yang tinggi." Rahman mengusulkan idenya.
"Tuan Rahman, yang kami pikirkan malah banyak masyarakat takut. Gedung itu sudah lama terbengkalai. Mungkin saja masyarakat mengira, tempat itu tidak layak jadi penginapan. Orang-orang akan berpikir, ruang-ruang gedung tersebut angker!" jawab pria yang lebih muda darinya.
Pria itu menjawab dengan cepat. "Baiklah, aku bersedia asal tidak menanggung kerugian!"
"Gawat, uangnya hilang! Segera lapor satpam, untuk memeriksa perusahaan. Aku yakin, pencurinya belum jauh!" Rahman berlari keluar.
Dua orang pria mengikutinya dari belakang. "Tuan Rahman, tunggu kami!"
__ADS_1
Alfian mencari Liani, yang tidak kelihatan batang hidungnya. Seluruh lingkungan sekolah ditelusuri dengan Alfian, sampai menemukan yang dituju.
"Kalian apakan Liani temanku?" Alfian terlihat marau menggebu-gebu.
"Tidak bosan, selalu ikut campur!" jawab Dhilo.
Alfian dan keduanya saling melakukan perlawanan, membuat perkelahian semakin sengit. Sementara Liana menyelamatkan diri dengan cepat, namun masih dipergoki dengan satpam. Liana masuk ke dalam mobil tangki, lalu mengendarainya dengan kekuatan tinggi.
"Beruntung ada mobil, yang ditinggal sopir di pinggir jalan!" monolog Liana.
Alfian menyuruh Liani supaya pergi, agar Dhilo dan Zeylo tidak dapat menyakitinya. Liani berlari ke arah jalan besar, lalu mobil tangki besar hendak menabraknya. Yoehun datang tepat waktu, mendorong Liani ke pinggir jalan.
Bruk!
Tubuh Yoehun terpental, hingga mengalami pendarahan di bagian kepalanya. Liani meringis sambil melihat ke arah sikit, yang banyak mengeluarkan darah. Liana kehilangan kendali, saat terburu-buru melarikan diri. Liana tidak sengaja menabrak pohon, karena melihat kendaraan yang mengejar di belakangnya. Mobil yang dikendarai Liana terguling, dengan luka yang serius pada bagian kaki kanannya.
__ADS_1