Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Liani Perhatian Pada Mbok Inem


__ADS_3

"Mbok capek?" Liani melihat mbok Inem, yang sedang memijat tengkuknya sendiri.


Mbok Inem menoleh ke arah Liani. "Iya lelah sekali, rasanya pegal sudah bekerja seharian."


"Mbok mau aku pijat badannya? Kalau mbok capek mbok istirahat jangan melakukan pekerjaan, nanti biar aku selesaikan sendiri."


Mbok Inem menatap Liani lekat. ”Kenapa dia berubah 180 derajat, kenapa aku seperti tidak mengenalnya. Biasanya Liana tidak pernah peduli dengan keadaanku. Yang dia tahu, dia harus punya uang jajan untuk pergi ke sekolah.” batinnya.


Liani memanggil mbok Inem berulang kali, namun orang tersebut sibuk berkelana dengan pikirannya. Mbok, panggil Liani untuk kesekian kalinya.


Mbok Inem tersadar dari lamunannya. "Iya Liana. Kamu memanggil Mbok sudah berapa kali?" tanyanya.


Liani tersenyum. "Sudah dari tadi Mbok, tapi tidak ada sahutan. Mbok lagi mikiran apa?


"Mbok mikir apa kamu bisa memijat?" Wanita tua renta itu tersenyum, pipinya mengerut.


Deretan gusi yang terlihat tidak ada gigi ketika berbicara, membuatnya enggan memakan hidangan yang keras.

__ADS_1


"Aku bisa memijat mbok, iya walaupun hanya sedikit." jawabnya. Tangan Liani mengurut tengkuk mbok Inem.


"Enak sekali pijatan kamu Liana. Mbok sangat menikmatinya, ternyata kamu pintar juga memijat." puji mbok Inem.


"Heheh... masih belajar Mbok."


Guru menjelaskan di depan kelas, semua murid memperhatikan. Liana melihat guru menjelaskan pelajaran yang baginya bertele-tele, membuat dia memejamkan matanya lalu tertidur.


"Liani, tolong kamu maju ke depan. Jelaskan kepada teman-temanmu." titah ibu guru.


"Liani bangun, kamu jangan tidur!" seru Alfian.


Seorang siswi menyenggol tangan Liana, hingga membuatnya tersentak. "Ada apa sih, ganggu orang tidur saja." Mulutnya menguap, dan tangan kanannya menutupi.


Ibu guru memukul penggaris ke papan tulis, membuat Liana tersadar bahwa dia ada di sekolah. Semua murid tidak bergeming, menyadari bahwa gurunya itu sedang murka.


"Sudah kenyang tidurnya Liani?" Ibu guru itu melotot.

__ADS_1


"Maaf ibu Vivi yang cantik, aku tadi sangat mengantuk sehingga ketiduran. Benar-benar sudah tidak tahan." jawabnya dengan jujur, meskipun jawaban itu membuat siswa dan siswi yang mendengarnya ingin tertawa.


"Tidur pukul berapa kamu semalam?" Ibu guru itu mengintrogasi.


"Tidur pukul 24.00." jawabnya santai, tanpa keraguan.


"Brak!" Ibu guru itu memukul papan tulis sekali lagi, membuat semuanya terkejut karena suaranya yang keras.


”Ibu membuat jantungku mau copot saja.” batin Alfian, dia mengelus dadanya.


”Yaelah, dasar guru ribet. Yang punya mata kan aku, kenapa harus dia yang terbebani ketika aku ingin terpejam.” Liana menggerutu di dalam hati.


"Apa yang kamu lakukan hingga bergadang sampai tengah malam? Jangan bilang karena belajar atau membaca buku, karena Ibu tidak akan percaya. Nilai kamu yang sekarang turun drastis." terang ibu guru.


"Saya tidak bisa tidur." jawabnya asal, ingin menghindari ibu Vivi yang sudah seperti presiden berpidato tanpa ada kata berhenti.


"Sekarang juga kamu keluar dari kelas, dan berdiri di depan tiang bendera sambil memberi hormat." titah ibu Vivi, dengan tatapan garangnya.

__ADS_1


"Dasar menyebalkan." Bergumam pelan, namun Liana segera beranjak dari duduknya. Meski dia enggan, karena itu sudah menjadi posisi ternyaman.


"Aneh sekali dengan Liani, biasanya dia malu kalau diperlakukan oleh guru seperti itu. Tapi ini, dia malah merasa santai seperti tidak punya dosa." Alfian menggaruk tengkuknya, yang tidak gatal.


__ADS_2