
Liana keluar dari mobil tangki tersebut, dengan pandangan mata berkunang-kunang. Liana hendak menyeberang jalan, lalu tertabrak oleh motor yang sedang melaju dengan kencang. Liana mengalami pendarahan, lalu ditolong oleh Regart.
"Aaa… kakiku sakit sekali!" keluh Liana.
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit!" jawab Regart.
Sesampainya di rumah sakit, suster segera membawa Liana ke ruang operasi. Kakinya yang terluka parah diamputasi, agar tidak menyebabkan infeksi ke anggota yang lain.
Regart melihat Liana yang sudah sadarkan diri, setelah sebelumnya pingsan karena pengaruh obat bius. "Bagaimana keadaan kamu sekarang?"
"Aku sudah lebih baik, hanya saja kakiku terasa berat untuk digerakkan!" jawab Liana.
"Itu karena kaki kamu diamputasi!" ujar Regart.
Liana tidak terima, karena dirinya harus cacat seumur hidup. "Aku tidak mau hidup seperti ini. Kembalikan kakiku seperti semula, aku mohon!" Menangis histeris, dengan air mata yang terus mengalir.
Ibu Domiko mewakili guru lain, untuk menjenguk Liana. Keranjang buah dibawa ke ruang pasien, dan beberapa makanan lain. Liana tidak ingin ditemui, hanya membiarkan punggungnya terlihat.
"Liana, Ibu turut prihatin dengan masalah yang menimpa kamu!" ucap ibu Domiko.
__ADS_1
"Sudahlah Bu, tidak berpengaruh dalam takdir buruk ini. Seberapa banyak orang menjenguk, tidak akan pernah mengembalikan kakiku!" jawab Liana.
"Ibu tahu, apa pun yang orang lain lakukan tidak membuatmu bahagia. Tapi kamu harus menggunakan kekuatan penuh dari dalam diri, sampai bisa bangkit kembali." Ibu Domiko menasehati Liana.
"Tolong keluar, aku ingin sendiri!" Liana menjawab, dengan suara datar.
Liani tidak ada di ruangan tersebut, sedang menunggu Yoehun. Alfian juga ada di samping ranjang pasien.
"Yoehun, terima kasih telah menolong Liani. Dia sangat berarti untuk hidupku, dan juga kesayangan papanya." Alfian menggenggam tangan Yoehun.
"Dia teman terbaik kita, mari mendo'akan Yoehun dengan tulus!" Liani melihat jam dinding, yang menunjukkan waktu salat Ashar.
Rahman sedih melihat Liana selalu murung, tidak mau disuruh pergi ke sekolah. Rahman memperhatikan dari pintu kamar, yang setengah terbuka. Liana melempar semua botol perawatan, yang ada di depan kaca rias.
"Aku benci diriku yang sekarang, aku sudah cacat. Aku tidak sempurna seperti dulu, mengapa ini harus terjadi padaku." Liana menangis, memperhatikan diri sendiri di depan cermin.
Liani masuk ke dalam kamar Liana, setelah mengetuk pintu terlebih dulu. Liani memberikan sup ceker ayam, agar perut Liana yang kosong terisi.
"Ngapain kamu masih baik padaku? Kamu sedang berpura-pura, padahal hatimu menertawakan penderitaan aku!" ucap Liana, dengan spontan.
__ADS_1
"Tidak Liana, aku tulus melakukan ini. Kamu adalah saudaraku satu-satunya, dan tidak ada lagi selain kamu!" jawab Liani.
"Bohong! Kamu pasti senang, karena Alfian akan menjadi milikmu!" ujar Liana.
"Aku belum memikirkan ke arah sana, karena sekarang masih sekolah." Liani tersenyum ke arahnya, menyentuh dengan lembut kedua pundaknya.
Liana menghempaskan dengan kasar. "Lebih baik kamu pergi!"
"Baiklah, aku akan meninggalkan kamu sendiri!" jawab Liani.
Polisi datang atas tuntutan dari seorang perempuan, yang tidak lain pemilik panti asuhan. Dia tidak terima, melihat Yoehun sampai koma. Liani yang sudah memohon, tetap tidak dapat mengubah jerat hukum.
"Kami ingin membawa Liana ke kantor polisi!" ucapnya.
"Pak, aku mohon jangan!" jawab Liani.
Nhiky tidak sengaja berpapasan dengan Liuqy, namun mereka saling diam-diaman membuang pandangan. Begitulah hari-hari dijalani, sejak memutuskan untuk hijrah.
"Nhiky, aku tidak mau menyapamu, karena takut membuat diri sendiri kehilangan arah. Aku sudah bertekad, sekali ini harus menjauh. Aku tidak ingin kekuatan ini lemah, bila terus berdekatan denganmu!" monolog Liuqy.
__ADS_1