
Liana menghampiri dua orang teman baik Regart. Liana sudah punya niat sejak awal, untuk menjalankan rencana dengan mulus tanpa terendus.
"Kalian mau uang tidak?" tanya Liana.
"Pasti ini bukan uang cuma-cuma!" jawab Zeylo.
"Ya, aku memang ingin memberi tugas." Liana mengakuinya.
"Katakan saja, jangan basa-basi!" jawab Zeylo.
"Kalian harus mencelakai Liani. Aku ingin wajahnya hancur, supaya Alfian tidak sudi lagi melihatnya." Liana mengutarakan maksud hatinya.
"Baiklah, asalkan ada uang semua beres!" Zeylo senang dengan uang, yang sekarang menari-nari di pikirannya.
Liana memberikan amplop coklat, yang sudah diisi dengan banyak uang. Dhilo dan Zeylo sangat senang, sampai mencium amplop berulang kali.
Zeylo dan Dhilo menghadang Liani, yang baru saja pulang sekolah. Wajah Liani hendak digores dengan pisau, namun Alfian segera menangkis tangan kanan pelaku. Zeylo hendak menonjok Alfian, namun mendapatkan serangan tinju balik darinya.
"Alfian, kamu jangan terlalu sering menampilkan kemampuan diri. Kamu menyerang pun, tidak membuat kami takut!" ujar Zeylo.
"Ya benar, karena kekuatannya tidak seberapa hahah…!" Dhilo tertawa meremehkan.
Zeylo dan Dhilo mengeluarkan pisau dari dalam saku celananya. Mereka mulai memajukan pisau, dan Alfian mengelak serangan dua arah. Liani khawatir melihat perkelahian tersebut, karena tidak ingin jikalau Alfian kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Tolong! Tolong!" Liani berteriak memanggil banyak orang, agar menghentikan keributan tersebut.
Yoehun menolong Alfian, saat pisau hendak menikam punggungnya. Banyak orang berdatangan, untuk membantu mereka. Darah bercucuran dari tangan Alfian, karena terkena sayatan pisau.
"Cepat bawa dia berobat ke puskesmas terdekat. Urusan mereka biar aku bereskan!" ucap Yoehun.
"Baiklah, kamu hati-hati. Maaf, aku terpaksa meninggalkan kamu." Liani segera membantu Alfian berjalan, bersama dengan beberapa orang perempuan paruh baya.
Sesampainya di puskesmas.
"Dokter, tolong periksa teman saya, dia terluka." ujar Liani.
"Baiklah, ayo jalan ke ruang pemeriksaan!" jawab seorang dokter perempuan.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Liani.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Aku akan meresepkan obat, agar lukanya cepat kering!" jawab dokter.
"Terima kasih Dokter!" ujar Liani.
"Ya, sama-sama!" jawabnya.
Pintu terbuka lebar, saat Liani mendorongnya. Yoehun memapah tubuh Alfian, sampai duduk di kursi sofa. Bibi Ijah menghampiri mereka, dengan membawa sup buntut ayam.
__ADS_1
"Tuan muda Alfian, kamu kenapa?" tanya bibi Ijah.
"Dia dilukai oleh teman satu sekolahan, yang mencoba mencelakai aku!" jawab Liani.
Liana berpura-pura prihatin, seakan tidak tahu apa yang terjadi. "Alfian, mengapa bisa menjadi seperti ini?"
"Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Aku tidak apa-apa, dan akan segera membaik." Alfian malas melihat Liana basa-basi, memberi perhatian padanya.
"Bagaimana bisa berucap seperti itu, jelas-jelas ini parah!" ucap Liana.
"Terlalu melebih-lebihkan!" jawab Alfian.
"Aku ini sedang mengkhawatirkan kondisi kamu. Bagaimana mungkin kamu bilang berlebihan. Lihatlah, tangan sampai diperban seperti itu!" ujar Liana.
"Cukup, aku tidak ingin membahasnya!" jawab Alfian.
Alfian tahu Liana jahat pada Liani, sehingga dia tidak bisa melihat ketulusan Liana. Liani yang menjadi korban, tidak pernah menuntut Liana ke pengadilan.
"Tuan muda Alfian, sekarang makan sup buntut ini saja!" ujar bibi Ijah.
"Aku tidak ingin makan sendiri!" Alfian tidak menerima mangkuk yang disodorkan.
"Tenang, aku akan menemani kamu." Liana tampak bersemangat.
__ADS_1
"Tidak perlu, sudah ada Liani, Yoehun, dan Bibi Ijah!" jawab Alfian, yang melakukan penilaian langsung.