Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Rindu Mama


__ADS_3

Semilir angin yang kencang sedikit mengangkat roknya yang lebar, dan dasinya juga melayang ke kanan dan ke kiri. "Aku tidak mempercayai cinta seperti yang banyak orang katakan, aku hanya cinta kepada Allah. Mama dan papa juga dulu saling mencintai, tapi nyatanya saling melukai." Bernostalgia kembali, angan-angan tentang masa lalu di masa kecilnya itu muncul.


Berjalan gontai, langkah kakinya menghampiri tanah pemakaman yang dipenuhi kuburan-kuburan. Liani menghampiri nisan yang bertuliskan Aulia.


Liani duduk bersimpuh. "Mama, Liani rindu dengan Mama. Tolong Liani Ma, sekarang tidak ada yang mempercayai Liani." Liani mengadu kepada sang mama yang sudah mati, sampai kapan pun tidak akan mungkin memberikan jawaban pada dirinya.


Sementara di sisi lain.


"Anak Mama, kamu hari ini bagaimana belajarnya?" tanya Tia.


"Lancar Ma, Alfian senang bisa bermain bersama Liani." Melirik Liana, yang ada di sebelahnya.


"Eh Liani sayang, Mama dengar kamu melakukan tes DNA iya?" tanya Tia.


"Iya Tante. Anak yang berwajah kembar denganku itu tidak tahu malu, dia tetap kekeh mengaku sebagai diriku." Liana mengarang cerita.


"Apa mungkin dia Liana?" Tia ingin memastikan.


"Tante, dia bukan Liana. Saudariku sudah lama meninggal, polisi menerangkan dia dimakan buaya." Memberi jawaban yang menghindar, dia tidak mau Liani ikut masuk dalam kehidupannya.


"Hmmm... yang dikatakan kamu betul juga. Tante punya sesuatu, supaya kamu yang dikenal sebagai Liani." Mengusulkan ide.

__ADS_1


"Apa Tante?" tanyanya penasaran.


"Tunggu sebentar, Tante akan mengambil barangnya dulu."


Tia segera beranjak dari duduknya, dia menuju sebuah lemari dan membuka lacinya. Dia mengambil sebuah anting, yang telah dipesan khusus olehnya.


Anting diletakkan di atas meja. "Kamu ambil ini, dan pakailah. Anak licik itu tidak akan mengambil posisimu, Alfian saksinya. Dia yang akan terus menjagamu." Tia berucap, dengan tersenyum.


Liana tersenyum. ”Sepertinya perempuan tua ini mulai simpati denganku, kamu memang pintar Liana.” batinnya.


Liana mengeluarkan air mata palsunya. "Terima kasih, Tante telah baik padaku." ucapnya, dengan mencari perhatian.


"Iya sayang." jawab Tia.


Beberapa hari kemudian, diberitahukan oleh dokter bahwa hasil tes Dna telah keluar. Rahman pergi ke rumah sakit bersama Liana dan Liani beserta keluarga Alfian.


"Pak Rahman, ini bukti hasil pengetesan Liana dan Liani." Dokter memberikan sebuah kertas.


Rahman membuka kertas tersebut, dan melihat bahwa golongan darah Liana B sama seperti dirinya.


"Papa, pasti aku 'kan yang hasilnya sama dengan Papa?" tanya Liana.

__ADS_1


”Mampus kamu Liani, beruntung aku cerdik. Aku telah menukar hasil tes milik Liani dengan orang lain. Tapi aku benci melihat kenyataan ini, ternyata aku ini anak kandung pak Rahman yang sengaja dititipkan ke janda miskin itu.” batin Liana.


Rahman memeluk Liana. "Iya sayang, kamu memang Liani."


Liani mendekat. "Papa, aku yang Liani." Bicaranya sudah hampir seperti orang yang ingin menangis.


Liana menarik tangan papanya. "Papa, ayo kita pergi dari sini."


Beberapa hari kemudian, diberitahukan oleh dokter bahwa hasil tes DNA telah keluar. Rahman pergi ke rumah sakit bersama Liana dan Liani beserta keluarga Alfian.


"Pak Rahman, ini bukti hasil pengetesan Liana dan Liani." Dokter memberikan sebuah kertas.


Rahman membuka kertas tersebut, dan melihat bahwa golongan darah Liana B sama seperti dirinya.


"Papa, pasti aku 'kan yang hasilnya sama dengan Papa?" tanya Liana.


”Mampus kamu Liani, beruntung aku cerdik. Aku telah menukar hasil tes milik Liani dengan orang lain. Tapi aku benci melihat kenyataan ini, ternyata aku ini anak kandung Pak Rahman yang sengaja dititipkan ke janda miskin itu.” batin Liana.


Rahman memeluk Liana. "Iya sayang, kamu memang Liani."


Liani mendekat. "Papa, aku yang Liani." Bicaranya sudah hampir seperti orang yang ingin menangis.

__ADS_1


Liana menarik tangan papanya. "Papa, ayo kita pergi dari sini."


__ADS_2