
Tia bersama Liana melihat aksesoris keluaran terbaru, lalu saling bertepuk tangan heboh. Liana sengaja mencari perhatian Tia, supaya hubungannya dengan Alfian lebih mudah direstui. Liana berharap, bahwa dialah yang akan menjadi istri Alfian di masa depan.
"Tante lebih suka perhiasan, yang modelnya bagaimana?" tanya Liana.
"Ada bentuk bunga, bintang, atau mutiara juga bagus." jawab Tia.
"Tante, lebih seru denganku atau dengan Liani?" tanya Liana.
"Tentu saja lebih seru denganmu, orangnya sangat asyik." jawab Tia, dengan sumringah.
Liani melihat kurir berteduh di emperan karena hujan, lalu menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Lagipula ada papanya juga, jadi tidak akan menimbulkan fitnah.
"Ayo Kak masuk ke rumah, hujan masih turun dengan deras." ucap Liani.
"Iya, terima kasih." jawabnya.
__ADS_1
Kurir masuk ke dalam rumah, lalu dibuatkan kopi oleh bibi Ijah. Rahman menyuruhnya duduk di kursi ruang tamu, lalu memberikan handuk untuk mengelap rambutnya yang basah.
"Terima kasih Pak karena sudah sudi membiarkan saya singgah."
"Iya, sama-sama." jawabnya.
Liuqy ingin hijrah secara sungguh-sungguh, namun perlu berbicara perlahan dengan Nhiky. Tidak semudah itu untuk cuek sepihak, tanpa kesepakatan meminta untuk putus hubungan.
"Nhiky, aku ingin kita putus." ujar Liuqy.
"Apa? Siapa orang yang telah mengambil hatimu." Nhiky sudah berpikir terlalu jauh, jadi berprasangka buruk.
"Tapi, aku cinta sama kamu Liuqy." jawab Nhiky.
"Jika kamu cinta pada seseorang, biarkan dia pergi dan jaga jarak saja. Kalau dia kembali, berarti kalian takdir. Lagipula jodoh itu seperti rezeki, datangnya tidak disangka-sangka. Mau terlihat tidak mungkin, mustahil, namun tetap hadir disaat yang terbaik." jelas Liuqy.
__ADS_1
Nhiky terdiam sejenak. "Baiklah, bila itu keputusan kamu." Meski berat, tapi berusaha rela.
Liuqy menatap kepergian Nhiky, yang tanpa menoleh lagi. Tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya, mungkin saja dia menangis di tengah derasnya hujan. Nhiky pergi ke rumah Liani, karena ingin berbagi cerita dengannya.
"Eh, kamu mau ngapain ke sini sambil hujan-hujanan?" tanya Liani.
"Aku ingin bercerita sama kamu, makanya aku ke sini sekarang juga." jawab Nhiky.
Nhiky ditawari masuk ke kamar Liani, lalu membersihkan diri terlebih dulu. Nhiky mengganti bajunya dengan baju yang biasa dipakai hari-hari. Mengelap rambutnya yang basah dengan perlahan, meski mengenakan baju orang lain.
"Aku sakit hati, karena Liuqy memutuskan hubungan kami. Dia bilang ingin hijrah, makanya melakukan hal tersebut. Apakah Tuhan benar-benar melarang hal ini, padahal aku sangat nyaman berhubungan dengan dia." ucap Nhiky.
"Hal yang dibenci oleh manusia, adalah hal yang Allah suruh. Mungkin, untuk menguji niat tulus seorang hamba. Contohnya saja menjaga jarak dengan lawan jenis dibilang sok suci, betah di rumah dibilang kurang pergaulan, dan lain sebagainya. Tapi lebih baik ditolak dunia, karena Allah suka lebih dari cukup." jelas Liani.
Nhiky bersandar di pundak Liani. "Tapi, Aku tidak sekuat kamu. Aku merasa kesepian, jika harus sendirian."
__ADS_1
"Tenang saja, kamu masih ada aku kok. Aku siap menjadi teman kamu, insyaAllah sampai kapan pun tetap seperti ini." jelas Liani.
Nhiky berusaha merelakan, meski rasanya sangat sakit. Dia diam saja, tidak mengatakan hal apa pun lagi. Mungkin setelah ini, akan menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.