
Suara lantunan ayat suci Alquran tengah terdengar di kamar yang dilalui oleh Liana. Ternyata mbok Inem sedang mengaji.
Liana membuka sedikit pintu, dan mengintip dari celah yang kecil.
"Harusnya kau tidak membiarkan dia tinggal di sini, dan aku pasti tidak benci padamu. Karena kesaksian mu itu membuat Papa membiarkan Liani tinggal di sini lebih lama." Menatap mbok Inem dengan seluruh rasa kesalnya.
Sore harinya Rahman pulang dari kantor. Dia membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Teringat kedua putri cantiknya, membuat dia tidak sabar untuk segera sampai ke rumah.
"Assalamualaikum." ucap Rahman, sambil membuka pintu.
"Waalaikumus'salam." jawab Liana dan Liani bersamaan.
"Anak Papa, sekarang kalian berdua pejamkan mata. Papa punya hadiah untuk kalian."
"Apa itu Pa?" tanya Liana.
"Sudahlah, sebaiknya kalian memejamkan mata saja. Kalian boleh membukanya, ketika Papa menghitung di hitungan ke 3."
Mereka berdua mengangguk, dan memejamkan mata. Keduanya sama-sama merasa penasaran, ntah apa yang akan diberikan oleh papa mereka.
"Satu!" Hitungan pertama.
"Dua, tiga!" Dan tibalah hitungan terakhir.
Mereka berdua membuka mata, terkejut mendapati hadiah yang diberikan oleh papanya.
"Kunci mobil Pa?" tanya Liani bingung.
__ADS_1
"Iya, kalian akan naik mobil sendiri saat sudah SMA. Pak Jamian akan mengajari kalian berdua sampai bisa." jawab Rahman.
”Aku sudah bisa Papa, bahkan sebelum Papa menyuruh dia mengajari aku mengendarai mobil.” batin Liana.
Liana mengingat bagaimana dia memaksa supirnya untuk membiarkan dia mengendarai mobil sendiri.
"Kalian suka 'kan?"
"Iya Pa suka. Terima kasih iya Pa." jawab Liana, dengan mata berbinar-binar.
"Papa tidak perlu melakukan ini, diantar jemput saja aku sudah senang. Yang terpenting aku bisa sampai ke sekolah dan belajar." jawab Liani.
"Kalau kamu tidak mau menyopir mobil sendiri iya sudah. Tidak ada yang memaksamu untuk naik mobil saat SMA." celetuk Liana.
"Liana, kamu tidak boleh ketus seperti itu. Kalian harus akrab iya." Rahman menasehatinya.
SMP Harapan Cemerlang sedang melaksanakan ujian. Kelas 9 SMP gaduh dengan suara riuh para siswa dan siswi yang melempar kertas contekan ke sana ke mari.
"Jangan ada yang mencoba-coba untuk mencontek!" Ibu Diandra memberi peringatan.
"Iya Ibu." jawab siswa-siswi serentak.
Suasana menjadi kembali tenang setelah diberikan instruksi. Fokus pada kertas ujian masing-masing. Hingga Liani yang maju duluan untuk mengumpulkan kertas ujian karena dia sudah selesai.
”Benci aku dengan Liani. Dia menjawab dengan benar, dan menyelesaikan semuanya dengan mudah. Ini pasti karena dia selalu menikmati fasilitas kaya. Ada guru bimbingan belajar yang profesional. Tidak seperti aku dulu yang tinggal bersama mbok Inem.” batin Liana.
Alfian akhirnya maju juga, dia sudah selesai mengerjakan tugas soal ujiannya.
__ADS_1
"Hei Liani, kamu yang susah tadi nomor berapa ujian IPA fisikanya?" tanya Alfian.
"Menurutku yang susah nomor 37, aku bingung dengan rumusnya."
"Kamu lupa?"
"Sedikit sih." jawab Liani, sambil tergelak.
"Kalau bingung berarti banyak lupanya." ledek Alfian.
Mbok Inem dan bibi Ijah menyambut Liani yang pulang. Mereka tersenyum bahagia melihat anak manis itu.
"Najis aku melihatnya." ujar Liana. Dia segera melangkahkan kakinya menapaki tangga.
"Liani, kamu yang sabar iya." ujar mbok Inem.
Liani tersenyum "Iya mbok, aku tidak apa-apa kok." jawabnya.
Bibi Ijah mengelus punggung Liani. "Ayo kita masuk ke dalam nona. Bibi sudah memasak makanan yang lezat untuk kamu."
"Terima kasih Bibi, aku senang sekali dengan masakan Bibi."
"Ah non ini, seperti dengan siapa saja."
"Ajak Liana makan juga iya."
"Tidak perlu. Apa kamu tidak melihat kebencian pada mata anak itu." jawabnya.
__ADS_1