
Namun, Liani salah duga. Liana tidak ingin Liani tinggal bersamanya. Dia ingin posisi Liani menjadi miliknya seorang.
"Liana sudah meninggal, jangan berpikiran untuk menyamar." Liana tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo kita segera ke kelas." ajak Alfian, pada Liana.
Liani berjalan gontai, dia pergi keluar sekolah. "Aku akan menemui Papa di kantornya." monolog Liani.
Guru mata pelajaran masuk ke dalam kelas, dia menjelaskan tentang pelajaran matematika.
"Siapa yang ingin menjelaskan di depan kelas tentang materi ini." ucap ibu Diandra.
Semua murid bersorak. "Liani, ayo maju."
”Cih, Liani seperti siswi pilihan di kelas.” batin Liana.
"Kenapa kamu tidak maju Liani, ayolah." seru Alfian.
"Aku sedang tidak berselera, untuk berdiri di depan kelas." alibinya.
Alfian segera angkat tangan. "Saya yang akan menjelaskan materi ke depan Bu." ujarnya.
Ibu Diandra tersenyum. "Silakan maju Alfian, jelaskan kepada teman-temanmu."
Liani sudah sampai di kantor milik Rahman, saat dia hendak masuk kedua satpam menghalangi.
__ADS_1
"Kamu siapa nona?" tanyanya.
"Saya Liani, anak Pak Rahman. Izinkan saya bertemu dengannya."
"Maaf nona, Pak Rahman sedang meeting. Dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun."
"Baiklah, saya akan menunggunya di sini." jawab Liani.
"Sebaiknya nona pulang saja, karena menunggunya akan lama." Salah satu satpam memberitahunya.
Liani menunggu di bawah pohon, dia kelelahan mondar-mandir tapi papanya tidak kunjung keluar. Liani akhirnya duduk dan bersandar di bawah pohon. Dia tertidur, karena sejuknya udara di sana.
Setelah cukup lama Liani menunggu, akhirnya Rahman selesai dengan kegiatan meeting yang dilakukan tadi. Liana datang bersama dengan Alfian, mereka menghampiri Rahman.
"Papa!" panggil Liana.
"Tidak apa-apa Pa, aku hanya ingin menemui Papa di sini." Liana tersenyum.
"Papa!" panggil Liani.
"Kamu siapa?" Rahman bertanya pada orang, yang di sebelah Alfian.
"Aku Liani Pa." jawab Liani, matanya sudah berkaca-kaca. Dia takut, papanya tidak percaya.
"Dia Liana om, bukan Liani." sahut Alfian, dia menunjuk Liani yang tengah berdiri dengan lemas.
__ADS_1
"Aku Liani, kamu siapa? Wajahmu kok mirip sama aku?" Liana pura-pura tidak mengenalnya.
"Kamu bukan Liani, kamu jangan bohong." teriak Liani histeris.
"Atau jangan-jangan, dia Liana saudarimu yang masuk ke sungai belasan tahun lalu." Rahman menduga-duga.
Liana segera menyahutnya. "Dia bukan siapa-siapa kita Pa, dia hanya orang licik yang mengaku-ngaku sebagai diriku. Dia tidak tahu malu." ucapnya dengan lantang.
Alfian segera membisikkan sesuatu, ke telinga Rahman. "Tadi dia juga ke sekolahan kami Om, dia terus mengaku sebagai Liani."
"Kelihatannya kamu miskin uang iya, sehingga memanfaatkan wajah kembar mu." Liana tersenyum mengejek.
Rahman mengeluarkan dompetnya dan mengambil lima lembar uang berwarna merah. "Ambil ini dan pergilah." Menyodorkannya ke Liani.
Liani menangis, pipinya basah seperti disiram oleh air. "Aku bukan mau itu Pa, aku butuh Papa."
"Ayo Pa kita pulang, aku sudah lapar. Tadi aku belum sempat makan." Liana menarik tangan Rahman.
Liani ingin mengejar Liana yang hendak masuk ke dalam mobil, Alfian mencegahnya.
"Awas, aku mau bicara dengan papaku." Liani berteriak histeris, dia menangis tersedu-sedu.
Liani tidak ingin kehilangan papanya, sebagaimana dia kehilangan seorang mama di masa kecilnya. Mobil Rahman mulai berjalan keluar gerbang perusahaan, Liani tampak tidak menerima kenyataan pahit itu.
Liani mendorong Alfian, lalu mengejar mobil yang sudah menjauh itu. "Papa, jangan tinggalin Liani." Liani terus melambaikan tangannya di belakang mobil Rahman, yang melaju lumayan kencang.
__ADS_1
Dia penuh harap agar mobil itu mau berhenti, memperdulikan teriakan hatinya yang ingin didengarkan. Liani tidak sanggup mengejar kemudi mobil tersebut, kakinya terpeleset dan tubuhnya terjatuh diaspal.
"Kenapa tidak ada yang mempercayaiku." Liani melihat kedua telapak tangannya berdarah.