
"Liani beristirahat lah, aku membawakan kamu air minum." Alfian memberikan sebotol air yang dibelinya.
Liana tersenyum. "Kamu ganteng Alfian!" puji Liana, dia terus memandangi Alfian.
”Sepertinya aku mulai jatuh hati padanya.” batin Liana.
Alfian mengerutkan dahinya. "Yaelah, sejak kapan kamu memuji-muji aku Liani. Kamu 'kan orangnya cuek." celetuknya.
"Aku sekarang tidak cuek lagi, memangnya kamu tidak suka?" tanya Liana.
"Suka, tapi sedikit aneh. Memangnya alasan kamu dulu cuek karena apa?" Alfian balik bertanya.
"Itu karena aku tidak ingin membuka hati untuk siapapun, sekarang aku sadar kalau kamu memang selalu ada untuk aku." jawab Liana, dengan tatapan penuh arti.
"Biasa saja kali memandangnya, nanti kamu tergila-gila lagi." canda Alfian.
"Biarin, aku memang naksir dengan kamu." jawabnya, tanpa ragu.
Beberapa bulan kemudian, hari-hari telah berlalu. Liani berusaha menerima posisinya yang sekarang.
"Ke mana aku harus mencari bukti. Percuma saja aku meyakinkan Papa. Papa tidak akan percaya padaku." monolog Liani.
"Liana, mbok ingin kamu membantu mbok menjual kue." titah mbok Inem.
"Iya Mbok, aku akan membantu Mbok." jawab Liani.
__ADS_1
Liani dan Mbok Inem menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba di pasar saat matahari telah menyingsingkan sinarnya ke tengah langit tepatnya di atas kepala.
"Kita akan berjualan di sana, karena kebetulan lagi ada pembagian buku gratis dan ramai yang mengantri." ujar mbok Inem.
"Iya Mbok!" Liani menurut saja.
Mereka melangkahkan kakinya menuju pinggir jalan. Menggelar terpal dan Liani membantu mbok Inem menyusun jualannya.
"Itu kan Liani. Hah, ternyata sekarang dia menjadi miskin." gumam Liana.
Dia terus memperhatikan mereka dari kejauhan, tiba-tiba saja muncul niat jahatnya untuk mengerjai Liani. ”Sepertinya seru kalau mengerjai Liani dan membuatnya malu.” batin Liana.
"Liana!" panggil Alfian.
Liana tidak menyahut, dia fokus dengan tawa ria sendiri di dalam hati.
Liana tersentak, dan segera membalikkan badan. Sekarang, posisinya dan Alfian berhadapan.
"Kamu memanggilku?" tanyanya.
"Iya, terus siapa lagi. Kamu ngapain melamun?" tanya Alfian.
"Tidak, aku hanya memikirkan anak jalanan yang datang ke sini pasti banyak." alibinya.
"Iya, aku senang karena mereka akan mendapatkan wawasan yang luas." jawab Alfian. Pikirannya membayangkan, saat mereka membaca buku.
__ADS_1
”Aku benci dengan membagi-bagikan harta seperti ini. Kalau tidak karena terpaksa, aku tidak akan pernah mau.” batin Liana.
"Sekarang kita bagi-bagi dulu ayo bukunya. Sudah ada yang datang lagi itu." Menunjuk anak-anak kecil yang jalan.
"Hmmm iya." jawab Liana.
”Kalau tidak karena Alfian aku tidak akan mau. Aku mencintaimu Alfian, aku takut Liani akan mengambil kamu dariku.” batin Liana.
"Adik-adik kalian mau buku apa?" tanya Alfian.
"Kak ada buku tentang cara mengerjakan shalat tidak." tanya seorang anak perempuan, dengan rambut dikuncir dua.
Alfian mencarinya pada tumpukan buku-buku. "Iya ada, ini bukunya." Memberikannya.
"Terima kasih iya Kak, semoga Allah membalas kakak dengan kebaikan."
"Aamiin. Terima kasih iya Adik atas doanya!"
”Aduh, panas deh lihat basa-basi menyebalkan itu. Alfian jangan terlalu baik, ih menyebalkan. Setiap jalan pasti mengajaknya ke panti asuhan, memberi uang untuk masjid. Sembunyi-sembunyi lagi biar tidak ketahuan. Kalau semua orang tahu kan terkenal, masukin ke sosial media itu kan bagus menambah pengikut. Kan masih lumayan dapat pencitraan, siapa tahu disorot reporter dan masuk ke televisi.” batin Liana, mengoceh panjang dan lebar.
Liana merasa muak, dan memutuskan untuk segera pergi. Baru beberapa langkah, Alfian telah memanggilnya. "Mau ke mana?" tanyanya.
"Mau pergi ke toilet dekat sini, aku kebelet." alibinya.
"Iya, tapi jangan lama-lama." Pesannya.
__ADS_1
"Iya bawel." Liana tersenyum, dia sudah tidak sabar untuk mengerjai Liani.