
Saat sudah jauh dari posisi Alfian berdiri, dia sengaja memakai masker dan kacamata. Dia segera menghampiri tempat Liani yang sedang berjualan bersama mbok Inem.
"Mau beli kue apa mbak?" tanya Liani ramah.
"Kue lapisnya 6." jawabnya.
Liani mengambil 6 kue lapis dari tumpukan kue lain. Liana sudah sumringah, lelah berdiri menunggu pelayanan yang menurutnya kampungan. Memandang rendah mbok Inem, mentang-mentang tidak tinggal di rumahnya lagi.
”Dasar janda tidak punya anak, sehingga harus memungut ku untuk hidup bersamanya. Aku benci denganmu Mbok, lebih baik aku tidak merasakan hidup saat itu, daripada harus miskin denganmu.” batinnya mencela.
"Ini Mbak kuenya." Liani memberikan kue yang dipinta oleh Liana.
"Boleh minta tolong tidak Mbak?" ucap Liana.
"Minta tolong apa ya?" tanya Liani dengan ramah.
"Ikut aku kalau kamu ingin tahu. Mobilku mogok, dan aku perlu bantuanmu untuk menemani aku ke bengkel." ujarnya.
Liani menoleh ke arah Mbok, dan Inem mengangguk pertanda memperbolehkan.
"Aku pergi dulu iya Mbok." ucap Liani, seraya menyalami tangan mbok Inem dan menciumnya.
"Iya, hati-hati di jalan." jawab mbok Inem.
__ADS_1
Liani segera pergi mengikuti langkah Liana, dan Liani ikut masuk ke dalam angkot yang telah disinggahi Liana. Liana turun dari angkot dan membayar ongkosnya, Liani juga ikut turun.
"Pak, saya bayar hanya untuk diri saya sendiri." ujar Liana.
"Ongkos kamu mana?" tanya sopir angkot pada Liani.
Liani menoleh ke arah Liana. "Dia yang akan membayarnya Pak, saya tidak membawa uang."
"Bapak jangan percaya, dia ini selalu suka naik angkutan umum gratisan. Tidak mau bayar, dan mau menumpang saja. Dan kalian tahu dia itu sengaja memanfaatkan wajah kembarnya, dengan mengaku-ngaku sebagai saya. Karena apa, dia terobsesi menjadi kaya." Fitnah Liana sambil menatap penumpang lain dari pintu angkot.
"Tidak, bukan seperti itu. Ini fitnah." Liani mengelak.
Salah satu penumpang melemparkan air dari gelas plastiknya. "Dasar tidak tahu malu. Kalau tidak bisa bayar, jangan naik angkot dong. Dasar miskin."
"Neng ini cantik-cantik penipu." Sopir itu menghina Liani.
"Saya kasian dengan dia yang sangat mengharap dibayarin. Baiklah, akan saya bayar ongkosnya." Membuka resleting tasnya dan memberikan uang ke sopir, dengan jumlah yang banyak. "Ambil saja kembaliannya." ujarnya ramah.
"Terima kasih neng yang cantik dan baik. Harusnya kamu terima kasih sama dia." Melirik Liani.
"Huuu...!" Seluruh penumpang bersorak kepada Liani. Sementara Liani tidak bisa menjelaskan apa pun lidahnya keluh, terlalu lelah karena tidak dipercayai untuk ke sekian kalinya.
Di dalam rumah Alfian.
__ADS_1
"Liani, selamat iya sayang! Kamu berhasil lolos seleksi untuk mengikuti perlombaan bermain basket wanita." ucap Tia pada Liani.
"Iya tante, aku pintar kan?" Liana berharap dipuji.
"Kenapa kamu tidak mengikuti perlombaan mengaji saja. Kamu kan pintar di bidang itu." sahut Bram.
Mata Liana melotot, sedangkan huruf Hijaiyah saja dia tidak pernah mengulanginya. Saat diajarkan mbok Inem mengaji dia malas-malasan.
"Kenapa terkejut seperti itu? Kamu kan pintar mengaji papa setuju." Rahman ikut menimpali ucapan Bram.
"Om, Alfian mana?" tanya Liana.
"Alfian sedang pergi, apa kamu tidak tahu dia sedang menyiapkan sesuatu untukmu." jawab Bram.
”Pasti Alfian memberiku surprise yang mewah, kalung mahal keluaran terbaru. Semoga saja dia membuatku senang dan melayang, dan hadiahnya tidak mengesalkan hatiku.” batin Liana, dia terus bermain dengan khayalan tingkat tingginya.
"Kenapa kamu melamun sayang?" tanya Tia.
"Tidak Tante, aku hanya kepikiran dengan anak yang berwajah kembar denganku. Bagaimana kalau dia mengambil Alfian dariku, aku takut dia datang lagi untuk sekadar mengaku-ngaku." Berpura-pura sedih, untuk semakin mendapat simpati dari Tia.
"Kamu tenang saja, Tante tidak akan membiarkannya. Anting yang kamu pakai, sekarang menandakan bahwa kamu Liani." Tia menjawab, dengan senyum mengembang.
"Aku akan memberi tato pada tubuhku, aku ingin semua orang tetap mengenalku sebagai Liani." usulnya.
__ADS_1
"Apa? Sejak kapan kamu menjadi nakal dan mempunyai niat membuat tato. Jangan seperti itu, bahkan anak Papa yang cantik akan terlihat seperti preman." ujar Rahman.
"Iya Pa aku tidak akan melakukannya, ini semua karena aku takut posisiku ditukar oleh Liana." jawabnya, sambil menunduk.