
Alfian yang baru saja datang bersama Liani terkejut dan langsung melerai keduanya.
"Apaan sih kalian, bertengkar seperti ini! Seperti anak kecil!" ujar Alfian.
"Hah, dia siapa Alfian?" Siswa dan siswi terkejut melihat kedatangan Liani, akhirnya Liana berada disatu tempat dengan saudaranya itu. Wajah mereka bagai pinang dibelah dua, sangat mirip.
"Dia adalah...." ucapan Alfian menggantung, ntah bagaimana dia menjelaskannya. Jika menjelaskan dia Liani akan bertambah rumit masalahnya.
"Dia 'kan siswi SMP dari Bintang Gemerlap, namanya Liana 'kan? Tadi aku ada melihatnya saat dia maju mengikuti perlombaan membaca Alqur'an." sahut siswi, yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Iya dia memang Liana, manusia tidak tahu diri yang ingin menukar posisiku." Menunjuk-nunjuk Liani, dengan memperlihatkan raut wajah garangnya.
"Tidak, aku tidak seperti itu."
"Aku bahkan tidak percaya padamu Liani. Kami malah simpati pada Liana, suaranya merdu saat membaca Alqur'an tadi."
”Sialan, mereka malah membela Liani. Hei iblis gila, aku ini sebenarnya Liana.” Sumpah serapah Liana di dalam hati.
Liana merasa kesal, segera pergi meninggalkan mereka menuju kedai sekolah. Alfian dan Liani juga pergi ke kantin bersama.
"Ibu, kami pesan sotonya dua iya." ucap Alfian, pada ibu yang menjaga kedai.
"Awas kamu saudara kembar tidak tahu diri, akan aku buat kamu tersiksa Liani." Liana menatap Liani dari kejauhan, yang sedang duduk bersama Alfian.
Liana menghampiri pemilik kedai yang sudah menata makanan yang dipesan tadi ke nampan "Ibu, biar saya yang membawa makanannya iya." ucap Liana.
"Kenapa?" tanya ibu pemilik kedai itu.
__ADS_1
Liana mengusap tengkuknya yang terhalang kain jilbab "Hmmm, tidak apa-apa. Karena aku ingin khusus saja aku yang membawanya untuk teman laki-laki ku."
"Baiklah, hati-hati iya membawanya Liani." Ibu pemilik kedai itu mengira bahwa dia adalah Liani. Dia memberikan nampan yang berisi dua mangkok soto hangat kepada Liana.
Liana mengambil nampannya. "Terima kasih Ibu."
Setelah cukup jauh dari pemilik kedai itu, Liana berhenti di meja yang terhalang tembok pembatas. Dia memasukkan obat, yang bisa membuat sakit perut.
"Rasain kamu Liani." monolog Liana.
"Hei, sini kamu!" Melihat siswi berkacamata, yang lewat di samping Liana.
Dia menghampiri Liana. "Ada apa?" tanya perempuan itu.
"Kamu tolong bawakan makanan ini ke meja Alfian iya."
"Bawa sendiri, apa untungnya untukku?" jawabnya acuh.
Dia mengambilnya. "Baiklah, aku akan mengantarnya." Sudah terlihat wajah gembira tidak seperti sebelumnya.
"Dasar iblis gila murid di sekolah SMP Harapan Cemerlang ini. Giliran dikasih duit saja, mata hijau dan melaksanakan tugas." Liana berkacak pinggang.
Siswi itu meletakkan dua buah mangkok di atas meja. "Alfian, ini sotonya." ujar siswi, yang membawakan makanan itu.
"Kok kamu yang mengantar?" Alfian sedikit merasa curiga.
"Pemilik kedai lagi sibuk, jadi aku yang antar."
__ADS_1
"Oh seperti itu."
Siswi itu segera pergi, setelah selesai dengan tugasnya. Alfian dan Liani makan bersama, awalnya tidak ada apa-apa. Tidak berselang lama, Liani merasakan perutnya terasa sembelit.
Liani memegangi perutnya yang sangat sakit. "Alfian, aku mau ke toilet dulu iya!"
Alfian melihat wajah Liani yang pucat. "Kamu sakit iya?"
"Iya, aku tinggal dulu." Liani segera berlari, menuju ke toilet sekolah.
Liana yang melihat dari kejauhan tertawa-tawa, menyaksikan rencananya berjalan dengan mulus.
"Rasain kamu Liani, huh siapa suruh berani melawan dengan aku. Liana pantang dilawan!" Bergumam dengan hati, yang dipenuhi kesombongan.
"Aduh, sakit sekali perutku." Liani memegangi perutnya. Tak berselang lama kembali ke meja makan.
"Kamu sakit perut?" tanya Alfian.
"Iya, Qadarullah tiba-tiba saja ini terjadi."
"Sekarang kita lebih baik pulang iya." ajak Alfian.
"Tapi nanti akan ada final untuk lombanya." tutur Liani.
"Biar aku yang menjelaskan kepada pak guru kenapa kamu pulang."
"Tapi ak..." Belum selesai dengan ucapannya, Alfian sudah menyahut.
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, ayo kita pulang."
Liani hanya mengangguk dan Liana kebakaran telinga, sambil mengepalkan kedua tangannya.