Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Danau Biru


__ADS_3

Danau Biru, tempat di mana kisah Alfian dan Liani bersemai di sana. Terukir nama mereka, yang saling menguatkan satu sama lain.


"Liani, kamu kalau lulus dari SMP, masuk saja SMA yang sama, dengan aku dan Liana iya!" ajak Alfian.


Liani tersenyum. "Ntahlah Alfian, aku pun tidak tahu akankah aku melanjutkan pendidikan ku. Sementara posisi aku dan Liana bertukaran, apa prestasi ku turun di sana?"


"Iya, sejak dia mengganti peran dirimu. Semua teman sekelas heran. Dia merasa seperti itu bukan kamu. Aku akan membuat kamu kembali ke posisimu." ujar Alfian.


"Terima kasih iya Alfian karena kamu sudah mempercayaiku. aku sangat senang mendengarnya."


"Iya Liani." jawabnya.


"Iya sudah, sekarang aku mau pulang ke rumah dulu iya, karena sudah malam. Aku juga minta maaf, karena saat kamu ke rumah Papa aku malah tidak ada. Aku pergi memancing di danau biru, tempat biasanya dulu aku mengajakmu, meski kamu hanya diam saja. Kamu masih ingat 'kan kenangan kita?" Alfian memancing Liana.


”Aduh, kenapa dia memancing pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.” batin Liana. Dia sudah terlihat cemas.


"Hmmm... aku tidak ingat, aku 'kan dulu tidak menyukaimu." Alibinya, berbicara pun masih memberi jeda untuk berpikir.


Alfian menjawab. "Oh, seperti itu iya. Padahal di danau biru, banyak kenangan kita. Sangat disayangkan iya, kalau semuanya sudah terlupakan." Memasang wajah menyedihkan. "Perahu kertas masa kamu juga lupa." pancing Alfian lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, sana pulang. Ini sudah malam." Liana berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Perahu kertas berikan jawabannya dulu." ujar Alfian.


"Iya aku ingat bawel. Sudah sana cepat pulang!" Liana segera mendorong tubuh Alfian, terburu-buru sampai ke depan pintu keluar. Dia segera menutup dan mengunci pintu.


"Kenapa sih, harus bertanya tentang masa lalu. Mana aku tahu dia dan Liani ngapain saja." Liana bersandar di pintu.


Bibi Ijah melihat gerak-gerik Liana dari kejauhan. Dia memang terlihat berbeda dari Liani, hanya wajahnya saja yang kembar. Isi hati mereka berbeda seratus delapan puluh derajat, membuat bibi Ijah semakin yakin dia bukanlah Liani. Selama beberapa bulan, bibi Ijah merasakan perlakuan kasar darinya.


"Suatu saat kebohongan pasti akan segera terungkap nona." monolog bibi Ijah.


"Pyarr!" Liana membanting gelas dan piring yang ada di dapur.


Bibi Ijah segera menghampiri Liana, dia terkejut mendapati Liana mengamuk seperti anak kecil yang tidak diberi mainan.


"Nona Liani, kenapa nona marah-marah?" tanya bibi Ijah.


"Sebaiknya Bibi diam, aku benci dengan hal yang barusan aku alami kemarin." Liana segera pergi meninggalkan dapur.

__ADS_1


Bibi Ijah geleng-geleng kepala, menatap dengan penuh keheranan. "Sudah aku duga, dia pasti bukan Liani. Aku semakin yakin, akan hal ini." monolog bibi Ijah.


Di sekolah.


"Alfian, kita latihan bola basket iya." ajak Liana.


"Iya Liana." jawabnya singkat.


”Kok Alfian berubah iya, kenapa dia menjadi cuek denganku?” batin Liana, bertanya pada dirinya sendiri.


"Kamu kok cuek sekarang?" Memberanikan diri bertanya.


Alfian menjawab. "Aku tidak cuek, aku hanya ingin kamu fokus dengan latihan saja. Ingat, sebentar lagi pertandingan akan dimulai."


"Iya. Aku pasti semangat latihannya. Apalagi kalau ada kamu." goda Liana.


"Sudahlah, latihan saja jangan sibuk melemparkan gombalan." jawab Alfian.


Liana merasa kesal melihat sikap Alfian yang berubah padanya, tidak seperti Alfian yang sebelumnya.

__ADS_1


”Aku akan menyelidikinya. Itu pasti, aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari diriku.” batin Liana.


__ADS_2