Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Pura-Pura Baik


__ADS_3

Saat Liana turun ke bawah, ada Alfian yang sudah duduk santai. Senyumnya kali ini tidak tulus, seperti membawa peringatan tegas lewat sorot mata. Liana berpura-pura tidak tahu saja, tentang yang terjadi semalam.


"Liana, kalau kamu masih ingin posisi aman, lebih baik mengakui saja niat jahat kamu." ujar Alfian.


"Alfian, kamu kok tega sekali menuduh aku. Memangnya aku bisa punya niat jahat apa, pada keluarga sendiri." jawab Liana.


"Jangan mengelak lagi, Papa kamu sudah mengetahui yang sebenarnya." ucap Alfian.


"Aku tidak peduli, karena aku memang tidak bersalah." jawab Liana mengelak.


"Liana, kamu jangan membiasakan diri mengelak. Tidak bagus seperti itu, bukan ciri-ciri anak baik." Rahman menasehatinya, berusaha meluluhkan hati.


"Maaf Pa, aku hanya ingin diperhatikan" jawab Liana.


"Baiklah, kamu minta maaf dengan Liani. Papa akan memberikan perhatian untukmu seorang. Sementara saja selama satu tahun, bagaimana?" tawar Rahman.


"Iya Pa." jawab Liana.


Liana meminta maaf dengan Liani, dengan sorot mata tajamnya. Belum dengan niat sungguhan, hanya pura-pura di depan Rahman. Liani melihat Liana menghempaskan tangannya sendiri, lalu tersenyum ke arah Rahman.

__ADS_1


"Nah, dengan saudara sendiri harus akur. Apalagi kalian ini saudara kembar." ujar Rahman.


"Iya Papa." jawab Liana, dengan malas.


Liana merangkul pundak Liani, sebagai pencitraan di depan Rahman. Alfian menatap pemandangan tersebut dengan jengah, karena mengetahui Liana pura-pura baik.


"Liani, setelah ini kita pergi yuk!" ajak Alfian.


"Mau kemana, ini 'kan masih pagi." jawab Liani.


"Aku mau mengajak kamu ke sebuah tempat kuliner paling enak." ujar Alfian.


"Aku mau ikut. Jangan halangi aku kau ini." sahut Liana.


"Boleh, tapi kamu tidak boleh membuat kerusuhan." ucap Alfian, mengajukan persyaratannya.


"Aku anak baik, mana mungkin membuat ulah. Anak orang kaya harus terhormat, jangan berpenampilan sederhana." Liana sengaja menyindir Liani.


Di restoran, Liana selalu merebut makanan yang diambil Alfian. Liana berusaha menghalangi Alfian, yang ingin memberikan leunca untuk Liani.

__ADS_1


"Alfian, kamu tahu 'kan aku sangat suka jantung ayam. Apalagi ada sayur imut ini, aku tidak tahan untuk menyantapnya." ujar Liana.


"Jaga sikap kamu, dari tadi sibuk terus." jawab Alfian.


"Lah, aku ini seorang penghibur di meja makan. Bayangkan saja tidak ada aku, pasti kurang ramai. Liani begitu pendiam, sedikit aneh bukan?" Liana menoleh ke arahnya.


"Tidak penting basa-basi, karena waktunya makan lebih nyaman diam. Tidak ada hal menarik juga, yang harus dibahas." jawab Liani.


Malam hari pukul 21.00 mabuk-mabukan di dalam bar. Melisa, Malika, dan Dora menemaninya, masih mengira dia Liani.


"Kalian sudah berjanji menjadi sahabatku. Maka kita minum dulu, sebagai tanpa kerjasama yang kompak." Liana mengangkat gelas di atas udara.


"Iya Liana, kami akan tetap menjadi sahabatmu. Namun, bila kamu bersedia menjadi ATM berjalan." jawab Dora.


"Tenang saja, selama kalian singkirkan saudara kembar ku tidak masalah." ucap Liana.


"Sekarang tidak bisa berlaku semena-mena, karena Ibu Diandra sedang pantau siswa dan siswi. Gara-gara Alfian melaporkan perbuatan kami." jawab Dora datar.


"Hahah... maksudku kita serang di sekolah SMA Permata. SMP Harapan Cemerlang sebentar lagi kita tinggalkan juga." ujar Liana.

__ADS_1


"Benar juga, kita harus meninggalkan kenangan berkesan, sebelum perpisahan tiba." Dora tersenyum.


__ADS_2