Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Mengatakan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Assalamualaikum!" ujar Alfian.


"Waalaikumus'salam." jawab Bibi Ijah. "Tuan muda mencari Liani?"


"Tidak, saya mencari om Rahman." jawab Alfian.


"Silakan masuk ke rumah tuan muda."


"Iya Bibi, terima kasih." Alfian segera masuk ke dalam.


"Silakan duduk tuan, Bibi panggilkan dulu tuan besar." Bibi Ijah melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja Rahman, setelah sebelumnya mengetuk pintu. Tidak lama kemudian Rahman muncul, lalu duduk di kursi sofa.


"Alfian, ada apa pagi-pagi seperti ini mencari saya?"


"Om, saya ingin mengatakan bahwa yang tinggal sekarang bersama om itu bukan Liani. Dia adalah Liana." tutur Alfian.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Kalau Om tidak percaya, aku bisa membawakan Liani yang asli ke sini. Om bisa lihat, keduanya akan tinggal bersama di sini." jawab Alfian menantang.


Rahman tampak berpikir. "Baiklah, Om setuju."


Raut wajah Alfian sudah sumringah, dia terlihat lega sudah mengatakan yang sebenarnya.


"Papa tidak bisa mengambil keputusan seperti itu!" sahut Liana, dengan suara sedikit berteriak.

__ADS_1


Dia menghampiri Alfian. "Kamu kenapa sih belain dia terus? Apa kamu tidak bisa lihat aku, yang ada di depan kamu sekarang?" Tatapan Liana tajam.


"Liani duduk Nak, kamu harus tenang sayang!"


"Pa, aku tidak mau posisiku ditukar dengan iblis gila itu." Alih-alih berusaha membela diri, malah keceplosan menghina Liani di depan papanya.


”Benar-benar aneh, kenapa sikapnya sekasar itu. Aku akan menyelidiki semuanya.” batin Rahman.


"Papa akan menyuruh dia untuk tinggal di sini. Ini sudah keputusan Papa, biarkan Papa yang menilai bagaimana antara kamu dan Liana."


”Baiklah, aku akan membiarkan kamu tinggal di sini. Namun, akan aku buat kamu tidak betah Liani.” batin Liana, dia sudah mempunyai niat yang buruk.


Liana memang berpura-pura bersikap manis bila ada Rahman, namun bila dia pergi pasti sikapnya sudah semena-mena.


"Aku permisi dulu iya Om. Aku akan pergi ke sekolah." Alfian menyalami tangan Rahman, dan mencium punggung tangannya.


Mbok Inem memegang dahi Liani. "Badan kamu panas sekali Nak, kamu demam iya!" Mbok Inem terlihat khawatir.


"Iya Mbok, aku tidak apa-apa kok. Nanti insyaAllah sembuh." jawabnya lembut.


"Tok! Tok! Tok! Assalamualaikum." seru suara dari luar.


Mbok Inem berjalan membukakan pintu. Jalannya tergopoh-gopoh, karena sudah tua.


"Waalaikumus'salam. Maaf cari siapa iya?" tanya mbok Inem, pada pemuda yang ada di depannya.

__ADS_1


"Aku Alfian, temannya Liana. Apa Liana ada?"


"Liana sedang demam, silakan masuk." Mbok Inem berjalan masuk ke dalam, dan Alfian mengikutinya.


"Liana, ada yang mencari kamu." ujar mbok Inem dari luar kamar.


"Siapa Mbok?" tanya Liani.


"Namanya Alfian."


Liani bangun dari pembaringannya, dia segera keluar dari kamar dan menghampiri Alfian.


"Alfian, kamu kenapa mencari aku ke rumah?" tanyanya.


"Aku akan mengajak kamu pergi, untuk tinggal di rumah Om Rahman. Dia sudah mengizinkan kamu, untuk tinggal di rumahnya."


Mbok Inem mendengar pembicaraan Alfian dan Liani.


"Liana, siapa Om Rahman?"


"Mbok, jadi seperti ini aku akan mengatakan yang sebenarnya. Semoga saja Mbok percaya, dia adalah Liani bukan Liana."


"Tidak, dia adalah Liana anakku." Mbok Inem tidak mau ada yang mengambil Liana. Dia sudah terlanjur menyayanginya.


"Mbok boleh ikut dengan kami, sekarang kami akan pergi ke rumah Liani."

__ADS_1


"Tidak, dia masih sakit. Mbok tidak mengizinkannya untuk ikut denganmu." Mbok Inem tidak rela, anak angkatnya dibawa oleh Alfian.


Setetes cairan bening jatuh di sudut mata Liani. "Mbok, tolong jujur padaku. Liana bukan anak kandungnya Mbok 'kan?"


__ADS_2