Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Digigit Tawon


__ADS_3

Liani pergi ke danau Biru, untuk mencari sebuah kayu. Tiba-tiba tangannya digigit tawon saat memanjat, lalu terjatuh ke bawah. Tiba-tiba Alfian datang, lalu mengulurkan batang bambu. Liani berdiri dengan meraih benda runcing, yang ditarik dengan Alfian.


"Mengapa kamu bisa ada di sini?" tanya Liani.


"Aku ke sini membuat tape. Ada tugas kerja kelompok dari Pak Wedri." jawab Alfian.


"Aku satu kelompok dengannya." sahut Liana.


"Oh gitu, aku tinggal dulu." Liani meringis memegangi tangannya yang kemerahan, berlari tunggang langgang mengambil ransel Bolang.


Setelah berhasil mendapatkan balsem, Liani segera mengolesinya. Badannya terasa menggigil, karena racun dari gigitan tawon. Alfian dan Liana mendekatinya, lalu melihat Liani mengusap-usap tangannya yang bengkak.


"Kenapa tangan kamu bisa seperti ini?" Liana pura-pura khawatir.


"Ini terkena gigitan tawon. Tapi tidak apa-apa, sekarang sudah mendingan." jawab Liani.


Bukannya membuat tape bersama, Alfian malah meminta tolong agar Liana mengerjakannya. Dia buru-buru membawa Liani pulang ke rumahnya.


"Aku akan panggilkan dokter." ujar Alfian.

__ADS_1


"Hanya cidera kecil, sudahlah jangan repot-repot." jelas Liani.


"Tidak bisa, biar aku panggil dokter. Dia harus memeriksa bekas gigitan tawon tersebut. Setelah dipastikan tidak berbahaya, baru aku bisa lega membiarkannya." ucap Alfian.


"Terserah, mana baiknya saja." jawab Liani, yang akhirnya menurut saja.


Tidak lama kemudian, dokter datang. Dia mengobati tangan Liani, dengan sebuah cairan pereda bengkak. Dokter juga memberikan kapsul, untuk diminum setelah makan.


"Ingat tiga kali sehari harus rutin dikonsumsi." ucap dokter mengingatkan.


"Obat kapsul tablet ini untuk kamu." ujar Alfian.


Alfian mengambilkan sepiring nasi, untuk Liani. Tangan Liani menyendok makanan, lalu menyuapi mulutnya sendiri. Alfian ikut makan juga, di piring yang berbeda dengannya.


"Dulu kita bisa sekelas terus. Sekarang malah berpisah tiga tahun." ucap Alfian.


"Tidak usah sedih, masih bisa bertemu juga." jawabnya.


"Tetap saja Liani, aku itu tidak mau jauh dari kamu." Alfian berterus-terang.

__ADS_1


"Astaghfirullah, tidak baik seperti ini. Sabar sebentar, nikmati masa muda dengan banyak hal positif." Liani fokus ke makanannya, tanpa menoleh ke Alfian.


Alfian mengelus dadanya, berusaha sabar. Dia tahu kalau Liani tidak mau diajak berpacaran, dan ingin sebatas berteman saja. Kalau pun ingin menjalin hubungan, maka menikah setelah lulus sekolah. Sesuai ketentuan orangtuanya, mereka akan bertunangan di kelas dua belas.


”Untung saja orangtuaku menyuruh menikah lulus sekolah. Aku ingin segera memiliki Liani, nanti setelahnya aku baru meneruskan kerja di perusahaan Papa.” batin Alfian.


Alfian mengantar Liani pulang ke rumahnya. Lalu bibi Ijah melihat ke arah mereka berdua, dia segera membuka pintu gerbang. Liani ingin menyimpan kenangan, sengaja membidik diri sendiri dengan kamera ponselnya.


"Nona Liani, jangan tebar pesona di sosial media ya, nanti bisa timbul fitnah." ujar bibi Ijah.


"Iya Bibi." jawab Liani.


"Ingat, malu termasuk salah satu cabang iman. Jangan ikut-ikutan foto menjulurkan lidah, lalu menjadi pusat perhatian laki-laki." ucap bibi Ijah.


"Iya, aku cuma unggah foto senyum saja kok. Bibi tenang saja, story WhatsApp aku privasi. Bebas dari laki-laki, siapa pun tidak melihat." jawab Liani.


"Bibi tidak bermaksud menggurui, namun menjaga amanat yang diberikan oleh Nyonya Aulia." ucap bibi Ijah.


"Iya Bibi, tidak apa-apa. Saling menasehati, merupakan kewajiban sesama muslim." jawab Liani, sesuai fakta.

__ADS_1


__ADS_2