
Alfian selesai menjalani hukuman, lalu Liani berjalan mendekat ke arahnya. "Eh Liani, ambil air minum untukku."
"Bukan air minum, tapi jambu kristal." jawab Liani.
Liani memberikan buah segar pada Alfian, karena air putih tidak ada. Liani belum menyediakan, dan entah mengapa bisa lupa.
"Temani aku ke kantin yuk." ajak Alfian.
"Minta temani dengan Yoehun saja. Maaf iya, menjaga jarak jauh lebih baik. Aku tidak ingin timbul hal yang tidak-tidak." jawab Liani.
"Aku mengerti kok, tidak apa-apa." ujar Alfian.
"Iya Alfian, terima kasih untuk pengertiannya." jawab Liani.
Yoehun dan Alfian akhirnya pergi ke kantin, untuk membeli air minum botolan. Yoehun menemani Alfian dengan elegan, tanpa banyak bicara hal tidak penting.
"Yoehun, kamu pulang nanti ada kegiatan apa?" tanya Alfian.
"Kosong." jawab Yoehun datar.
__ADS_1
"Oh, kirain ikut pertandingan sepakbola." ucap Alfian.
"Tidak, aku sibuk mengerjakan tugas mahasiswa, yang diserang skripsi." jawab Yoehun.
Ketahuan pelaku sebenarnya, membuat Liani mendapatkan simpati. Dia sudah berhenti dibully, namun hal itu tidak bisa menyenangkan hatinya. Dia merasa biasa saja, untuk semua hal.
"Liani, kamu baik sekali." ucap salah satu perempuan, yang sekelas dengannya.
"Kalian berkata demikian, karena mengetahui sebuah kebaikan. Nyatanya, manusia itu akan dibenci saat diketahui berbuat salah." jawab Liani.
"Kemarin kami hanya salah paham." ujarnya, dengan raut wajah memalukan.
"Aku tidak butuh pernyataan tersebut, karena selain mencuri, dosa lain pun banyak." jawab Liani.
"Eh kalian para laki-laki, siapa yang mau menggendongnya." ujar Liani.
"What? Kamu jangan gila Liani. Dia itu seorang laki-laki, nanti aku dikira apa sama orang." jawab Liuqy.
"Dia mau salat Jum'at, dan tampak kesulitan. Apa salahnya menolong, insyaAllah dapat pahala." ucap Liani.
__ADS_1
"Halah, banyak pahala juga belum tentu masuk surga. Manusia akhir zaman ini, dibakar semua baru dimasukin surga." jawab Liuqy.
"Terserah kamu deh, kalau tidak mau. Aku sudah mengingatkan, untuk peduli pada sesama manusia." Liani pasrah saja.
"Dia punya kaki, biarkan saja." jawabnya.
Alfian berinisiatif jalan, bersamaan dengan Yoehun. Mereka berlomba duluan, agar dapat pahala kebaikan tersebut. Nhiky geleng-geleng kepala, melihat kelakuan mereka.
"Sedang berniat karena Allah, apa ingin mengambil hatimu?" Nhiky tersenyum sendiri.
"Apaan si kamu," Liani tertunduk, sambil tersenyum. "Mereka melakukannya mungkin karena Allah."
"Aku tidak berpikiran sama dengan penilaian kamu, karena aku lihat mereka bergerak karenamu." Liuqy masih sibuk, mengutarakan pendapatnya.
"Sudahlah, yang penting laki-laki itu tertolong." jawab Liani, yang sengaja menyudahi perdebatan.
Pemuda itu akhirnya digendong dengan Alfian, lalu sampai ke masjid dengan selamat. Yoehun turut serta dalam membantu, dan keduanya bergiliran saat menggendong.
Liani pergi ke psikolog bersama Nhiky, lalu mengutarakan uneg-uneg dengan perlahan. Psikolog mendengarkan dengan seksama, supaya bisa memberikan solusi yang tepat.
__ADS_1
"Bagaimana cara untuk sembuh dari trauma mendalam pada masa kecil? Ini semua bermula, setelah Mama saya meninggal." terang Liani.
"Jangan pikirkan bentuk besar semut, kalimat ini berulang kali diucapkan untuk diri sendiri. Seakan dengan seperti ini, itu akan mengurangi yang diketahui otak. Padahal sebenarnya menekan memori, membuat manusia itu tersiksa. Sama halnya dengan jangan sedih, jangan pikirkan orangtuamu meninggal, bukan mengurangi emosi. Namun, malah semakin terpikirkan terus menerus."