Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Menyayangi Seperti Anak Sendiri


__ADS_3

Liana dan Rahman pergi meninggalkan Liani sendirian, dia hendak mengejar Rahman namun langkahnya terhenti ketika Tia menghadangnya.


"Aku peringatkan kamu iya, jangan mengganggu Liani lagi." Tia menatap Liani, dengan tatapan tajamnya.


"Tante, aku Liani."


Tia ingin melayangkan tamparan ke wajah Liani, namun Alfian segera menangkisnya. "Mama, jangan lakukan hal kasar seperti ini." ucapnya.


Tia menurunkan tangan, membuang wajahnya ke sembarang arah. "Mama hanya tidak suka padanya. Lagipula Liani bilang dia licik, ingin mengambil posisinya."


Liani tidak menghiraukan mereka, segera berlari kencang. Dia melihat mobil Rahman yang melaju diparkiran hendak keluar gerbang, Liani berlarian mengejarnya hingga ke aspal.


"Liani berhenti, dia lelah menyeimbangkan kakinya dengan laju mobil. "Papa, aku ini anakmu." Liani menangis.


”Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mengerti. Apa aku tanya mbok Inem saja.” Batin Liani.


Di rumah.


"Mbok!" panggil Liani.


Mbok Inem sedang menjemur pakaian, dia melihat Liani sekilas. "Kenapa Liana, wajahmu kok murung seperti itu?" tanyanya.


"Mbok, Liana bukan anak kandungnya mbok kan?" tanyanya.

__ADS_1


Baju yang dipegang mbok Inem, terjatuh ke tanah. "Mbok yang telah membesarkan dirimu, pantaskah kau bertanya seperti itu." Mbok Inem segera pergi meninggalkan Liani.


Setetes demi setetes cairan bening terus berjatuhan, dari sudut matanya. "Maafkan aku mbok, aku hanya ingin tahu apa dia benar-benar Liana." monolognya.


"Liani, apa kamu sudah siap?" tanya Alfian.


"Iya, aku siap. Aku senang bisa jalan denganmu." jawabnya.


Rahman mengerutkan keningnya "Sejak kapan kamu suka kalau Alfian mengajakmu jalan?" tanya Rahman.


Liana terkejut. ”Aduh keceplosan lagi, aku kan lagi menyamar menjadi Liani. Wajah ini membuatku menikmati hidup mewah.” batinnya.


Liana mengangkat jilbabnya sedikit, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Iya pa, hari ini aku ingin jalan-jalan saja dengan Alfian karena aku bosan." alibinya.


"Iya Pa." jawabnya selembut mungkin.


”Nyamar jadi kamu itu ribet iya Liani, aku jadi harus memakai jilbab setiap hari.” batinnya.


"Sayang, kamu dan Alfian akan bertunangan saat SMA nanti." ucap Tia.


Dia senang bisa besanan dengan Rahman, karena orang yang sederajat dengan keluarganya.


'Yes, aku yang akan menjadi istri Alfian. Aku menyukaimu, kamu baik Alfian' Batin Liana.

__ADS_1


"Iya Tante, aku senang sekali mendengarnya." jawabnya.


Alfian yang sedang memainkan ponselnya sangat terkejut. ”Sejak kapan Liani seperti ini, ada yang tidak beres.” batinnya.


Alfian sangat mengenal watak Liani, karena sebelumnya dia yang mendekati Liani namun selalu dihindari.


Alfian dan Liana menyalami tangan orangtua mereka, dan mencium punggung tangannya "Kami pergi dulu iya." Bicara bersamaan.


"Iya, hati-hati di jalan." jawab Bram dan Tia.


Alfian yang sedang memainkan ponselnya sangat terkejut. ”Sejak kapan Liani seperti ini, ada yang tidak beres.” batinnya.


Alfian sangat mengenal watak Liani, karena sebelumnya dia yang mendekati Liani namun selalu dihindari.


Alfian dan Liana menyalami tangan orangtua mereka, dan mencium punggung tangannya "Kami pergi dulu iya." Bicara bersamaan.


"Iya, hati-hati di jalan." jawab Bram dan Tia.


Alfian yang sedang memainkan ponselnya sangat terkejut. ”Sejak kapan Liani seperti ini, ada yang tidak beres.” batinnya.


Alfian sangat mengenal watak Liani, karena sebelumnya dia yang mendekati Liani namun selalu dihindari.


Alfian dan Liana menyalami tangan orangtua mereka, dan mencium punggung tangannya. "Kami pergi dulu iya." Bicara bersamaan.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan." jawab Bram dan Tia.


__ADS_2