Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Ransel Bolang


__ADS_3

Domiko menjelaskan bilangan berpangkat, yang akan dikalikan dengan bilangan di sebelahnya. Domiko menjelaskan cara menghitung bilangan, dengan pangkat positif dan negatif.


"Disederhanakan terlebih dulu iya Bu?" tanya Liani.


"Iya Nak, positif dijumlahkan dengan positif begitupula dengan yang negatif." jawab ibu Domiko.


Liani melihat Yoehun yang disuruh maju, untuk mengerjakan soal Matematika di depan kelas. Yoehun tersenyum ke arah semua orang, saat menjelaskan pelajaran tersebut.


"Kalian semua perhatikan Yoehun menjelaskan, pada papan tulis." ucap Domiko.


"Iya Bu." jawab semuanya serentak.


"Matematika ini sebenarnya tidak sulit teman-teman, asalkan hafal rumus pasti bisa mengerjakannya." ucap Yoehun.


"Kalau memang tidak sulit, kepalaku tidak akan sampai sakit." jawab Dora, mewakili suara yang lain.


"Kamu harus lebih serius lagi, biar tidak gagal paham." Yoehun memperhatikan papan tulis dengan detail.


"Iya Yoehun, terserah kamu saja deh." jawab Dora.


Yoehun menunjuk papan tulis, yang sudah berisi jawaban dari pikirannya. Yoehun menjelaskan tulisan tangannya sendiri.

__ADS_1


Yoehun dan Liani mengeluarkan buku cetak, saat bergantian guru lain masuk kelas. Pak Chandra menyuruh mereka memperkenalkan diri, lalu pelajaran dimulai dengan mengerjakan soal latihan.


"Kali ini tugas prakarya membuat latihan, contoh ukiran pohon jati yang gugur." ucap Yoehun.


"Baiklah Pak." jawab Liani.


Liani berpamitan keluar, lalu matanya teralihkan ke kelas Alfian. Dia melihat dari kaca jendela, Liana sedang di sebelah Alfian. Dia tampak menanyakan pelajaran, namun sedikit berbincang soal pribadi juga.


"Kamu yakin mau minta maaf sama Liani?" tanya Alfian.


"Iya, kalau dia bersedia." jawab Liana.


"Iya sudah, kamu coba saja. Asalkan tulus, dia bukan orang pendendam." ujar Alfian.


Alfian hanya mengangguk saja, lalu melihat Liani yang ada dekat jendela. Liani melangkahkan kakinya, berniat ke tempat yang dituju. Sebuah ruangan kecil, tempat manusia membuang jahat.


Saat jam pulang sekolah tiba, Liani pergi ke danau Biru. Di sana tempat yang bagus, untuk melepaskan uneg-uneg. Liani bisa berteriak, untuk melampiaskan rindu pada mamanya.


"Ransel Bolang ini untuk kamu." ucap Alfian.


"Eh Alfian, ternyata ada kamu juga di sini." Liani menerima pemberiannya.

__ADS_1


"Iya, aku sengaja mengikuti kamu." ujar Alfian, dengan jujur.


"Terima kasih untuk ranselnya." jawab Liani.


Liana tiba-tiba muncul, mengacaukan suasana yang lagi tenang. Dia harus berpura-pura baik, untuk mendapatkan simpati dari Alfian.


"Liani, aku mau minta maaf." ucap Liana.


"Hmmm... aku sudah memaafkan sebelum kamu meminta maaf." jawab Liani.


"Aku rasa, selama ini aku yang salah. Aku sudah sangat keterlaluan, kita berdamai saja." ujar Liana.


"Iya, itu juga lebih baik." jawab Liani.


“Mungkinkah secepat itu? Apa ada maksud lain di balik ucapannya ini. Di depan Papa saja bisa pura-pura, apalagi di depan Alfian.” batin Liani waspada.


Saat malam hari, Rahman melihat Liana membawakan kain songket. Liani sedang bercanda bersama Rahman di ruang televisi. Sudah lama tidak ada waktu, untuk berbincang berdua. Liana memperhatikan dengan iri di dalam hati.


"Hmmm... Liana ayo sini sayang." ajak Rahman.


"Iya Pa." Liana duduk di sebelah Liani.

__ADS_1


"Itu kain untuk menari?" tanya Rahman.


"Iya, aku mau mengajak Liani menari bersama. Aku yakin pasti seru, sambil ngemil ala bocah petualang." jawab Liana.


__ADS_2