
Pagi hari saat baru pulang, Bibi Ijah menutup hidungnya. Dia mencium bau alkohol dari mulut Liana.
"Ya Allah, nona mabuk?" tanyanya, dengan prihatin.
"Ini semua karena Liani, coba saja dia tidak membuatku frustasi." jawab Liana dengan membentak.
"Tolong istighfar Nona, jangan seperti ini." ucap bibi Ijah, yang berusaha menasehatinya.
"Hih, apaan si Bibi! Cerewet sekali jadi manusia." Liana segera mendorongnya.
Liana jalan ke toilet dengan terburu-buru, memuntahkan isi perut yang ada. Cuaca pagi hari itu sangat dingin, perutnya kembung karena diisi dengan alkohol.
Jangan terseok-seok menuju kamar, lalu merebahkan tubuhnya. Beruntung Rahman sudah pergi ke kantor, jadi tidak diketahui bahwa dia sedang mabuk-mabukan. Namun tetap harus memberi kode, pada semua orang yang menghuni rumah.
”Awas saja kalau mereka berani memberitahu, aku pasti akan memenggal kepalanya satu persatu.” batin Liana.
Sementara di sisi lain, ada yang belajar mobil tapi tidak bisa-bisa. Liani ditemani dengan Alfian dan juga pak Jamian. Lagipula papanya sudah memberi izin untuk belajar mobil.
"Tidak terasa kalian semua beranjak dewasa." ujar Jamian.
"Iya Pak, memang hidup itu cepat berjalan. Hanya terasa lambat jika sedang menderita." jawab Liani.
__ADS_1
Gerbang SMA Permata sudah terbuka lebar, menyambut kedatangan siswa dan siswi yang ingin menimba ilmu. Liana masuk ke dalam sekolah, dengan menggunakan mobil Lamborghini Veneno yang berwarna cerah. Dia turun dari mobil, bersamaan dengan Liani.
"Hai!" Dora menyapa Liana.
"Hai sahabatku." jawab Liana.
"Kita menjelajahi kantin baru yuk!" ajak Melisa.
"Nanti-nanti dulu, oow... harus berbaris di lapangan upacara." jawab Malika.
Mereka melangkahkan kaki masing-masing, sampai berkumpul bersama teman yang lain. Liani melihat Alfian yang baris dengan terburu-buru, karena baru datang mendekati batas waktu.
"Aku sedikit terlambat." Alfian berbisik dari jarak jauh, namun lumayan terdengar di telinga Liani.
"Eh, mereka kok akrab sekali iya." ujar Dora.
"Mereka cuma teman, tidak pacaran." jawab Melisa.
"Tapi, Alfian sampai segitunya peduli dengan Liani. Dia yang melaporkan kita pada Bu Diandra." jelas Dora.
Malika ikut nimbrung. "Halah, palingan juga digodain sama Liani."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kamu mengapa waktu itu belagu dengan kami?" Dora menoleh ke arah Liana.
"Sudahlah, jangan bahas masa lalu. Sekarang, aku sudah menjadi bagian dari kalian." jawab Liana.
Alfian dan Liani disuruh maju ke depan, untuk menyampaikan beberapa hal. Mereka ditanya tentang sebuah perbuatan, yang paling tidak disukai.
"Dik, bisa kamu sebutkan." Seorang senior berjilbab menyuruh Liani mengemukakan pendapat.
"Aku tidak menyukai sebuah pertengkaran tidak sehat." jawab Liani.
"Mengapa bisa seperti itu, bolehkah bercerita sedikit penyebabnya?" tanya senior tersebut.
"Karena pertengkaran hebat itu, akan mendatangkan sesuatu yang tidak baik. Mengendalikan diri disaat emosi penuh, membuat seseorang tidak terburu-buru memberi keputusan. Pada akhirnya memberi dampak buruk jangka panjang." jelas Liani.
"Apakah boleh diperjelas sedikit, makna dari ucapan kamu." ucapnya lagi.
"Tidak bisa, hanya ini yang ingin aku katakan." jawab Liani.
Plok!
Plok!
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan, meski tidak tahu apa yang Liani pikirkan. Sebuah kejadian traumatis sebelum Aulia meninggal, telah membuatnya tidak berdekatan dengan laki-laki. Liani takut mempunyai rasa, lalu menjalin hubungan seperti orangtuanya. Dia sedang menepis hal menakutkan saat tahu mamanya meninggal tertabrak truk.