
Bibi Ijah muncul. "Nona baru pulang?" tanyanya.
"Iya Bibi, bisakah Bibi temani aku ke kamar?" pinta Liana.
"Iya non, tentu saja bisa." Bibi Ijah semangat, dia langsung merangkul bahu Liana.
”Enak sekali hidupmu Liani, aku yang akan menukar kehidupan ini. Selamat tinggal.” Liana tertawa di dalam hati.
Mereka melangkahkan kakinya ke lantai atas, dan Liana berhenti. "Bibi saja yang berjalan duluan." pintanya.
"Iya non." Bibi Ijah berjalan sampai ke kamar Liani.
"Bibi ambil makanan untukku, dan bawa ke kamar iya. Aku lapar!" titah Liana.
"Baik nona." jawab bibi Ijah.
"Cepat pergi dari sini, tunggu apalagi?" Liana berkacak pinggang.
Bibi Ijah segera berlari. ”Kok aneh iya dengan non Liani, biasanya dia pasti ambil sendiri kecuali sedang sakit. Ah sudahlah mungkin dia lagi capek, jadi sekali-kali dia manja.” batinnya.
Liana segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar. Liana melirik seisi ruangan yang mewah itu, dia merasa mimpi bahwa kamar itu kini menjadi miliknya.
"Aku kaya, aku bahagia." Liana naik ke atas ranjang tidur, melompat-lompat kakinya dengan kuat.
__ADS_1
Rahman melihat bibi Ijah membawa piring. "Untuk siapa Bibi nasi dan lauk itu?" tanya Rahman.
"Untuk nona Liani tuan, dia sedang tidak ingin makan di bawah."
Rahman mengerutkan dahinya. "Tumben sekali itu anak."
"Mungkin dia lelah tuan, tadi saja dia pulang sudah sore." jawab bibi Ijah.
"Benar juga yang Bibi bilang." Rahman teringat wajah sedih anaknya, saat baru pulang ke rumah.
Liani bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia menghampiri mbok Inem, yang sedang menjahit baju menggunakan jarum.
"Mbok, aku pergi dulu iya." Liani menyalami, mencium punggung tangannya.
"Mbok, aku bukan Liana." Liani menatap lekat, kedua mata mbok Inem.
"Bercanda kamu tidak lucu. Sekarang sudah siang, sebaiknya cepat pergi ke sekolah."
Liani terpaksa naik mobil angkot, dia harus segera sampai ke sekolah pikirnya. Tidak lama kemudian, Liani sampai di depan pintu gerbang, dia membayar ongkos angkot dan turun. Kakinya melangkah masuk ke dalam sekolahan, dia terkejut mendapati seorang perempuan yang berwajah mirip dengannya.
”Apa itu Liana, wajahnya mirip sekali denganku. Kata Mama, aku 'kan punya saudari kembar, dia pasti saudariku yang hilang belasan tahun lalu.” batinnya.
"Liana!" Panggil Liani, dia segera berhamburan berlari ke arah Liana dan memeluknya.
__ADS_1
Liana tidak membalas pelukan Liani. "Kamu siapa sih, lepasin aku." bentaknya.
"Aku senang bisa bertemu denganmu, mari kita pulang ke rumah bersama nanti siang." Liani berucap, dengan mata berbinar-binar.
Liana segera mendorong Liani hingga terjatuh di lantai. "Dengar baik-baik iya, aku ini bukan saudarimu" Liana menunjuk tepat, di depan wajah Liani.
Alfian melihat mereka yang tengah berbicara seperti orang yang sedang beradu argumen, dia pun segera menghampiri.
"Kalian? kenapa wajah kalian mirip sekali?" tanya Alfian.
Liana segera memegang tangan Alfian. "Kamu tahu, dia gadis yang mengaku-ngaku sebagai diriku. Aku ini Liani, kalau kamu tidak percaya aku akan memperlihatkan sesuatu." Liana tersenyum menyeringai, sambil merogoh saku roknya. Dia mengeluarkan sebuah permen yang diikat dengan bentuk pita.
"Iya, aku percaya kamu Liani. Tapi dia siapa?" tanya Alfian.
"Dia Liana." jawabnya.
"Tidak, aku Liani bukan dia." sahut Liani.
"Ayolah mengaku saja, aku tahu kamu ingin menjadi orang kaya."
Liani menyibakkan sedikit jilbabnya ke atas, dia memperlihatkan sebuah kalung bernama Liani. "Akulah Liani, apa kamu tidak lihat kalung ini." ucapnya, sambil melirik Alfian.
"Kamu harus tahu Alfian, dia itu licik mengambil kalung milikku, supaya menukar posisiku." Liana mengeluarkan air mata palsunya.
__ADS_1
"Kita ini bersaudara, kenapa tidak mengakui itu saja. Kamu Liana 'kan?" Liani berdiri penuh harap, akan kejujuran dari bibir kembarannya.