
"Liani selamat iya sekarang kamu sudah kembali ke sekolahan ini lagi. Meski Liana akan bersekolah di sini, karena Papa sudah mengurus surat pindahnya." ucap Alfian.
"Iya Alfian, aku bersyukur sekali, bisa berada di posisi aku yang semula. Terima kasih sudah membantuku."
"Iya, karena aku mencintai kamu." ujar Alfian.
"Apaan sih kamu." Liani segera meninggalkan Alfian sendirian. Tanpa menghiraukan teriakannya.
Liani menyendiri di belakang sekolah. Dia tidak ingin Alfian yang sedang mengejar, menemukan keberadaannya.
"Eh lihat deh, kita harus ngerjain dia. Secara telah berani melawan kita berempat." ucap Debbi.
"Iya, bahkan waktu itu berani-beraninya dia melemparkan buku perpustakaan padaku." timpal Dora.
"Bahkan dia berani juga melempar sepatunya ke kepalaku. Dia pikir dia siapa?" tambah Malika.
"Iya, aku dendam sekali padanya. Ingin aku cubit ginjalnya. Bahkan aku ingin retakan jantungnya biar mati." Melisa ikut nimbrung.
Mereka semua mengingat bagaimana kelakuan Liani beberapa bulan yang lalu. Padahal bukan Liani yang berlaku nakal, karena posisinya ditukar, maka timbul musuh baru.
Jam sekolah telah usai, Liani melangkahkan kakinya untuk keluar kelas. Saat gagang pintu kelas dipegang, tiba-tiba ember berisi tepung terjatuh ke kepala Liani.
"Hahaha...!" Suara tawa teman-teman sekelas Liani, yang sengaja menghinanya.
"Rasain luh, siapa suruh belagu." Ejek salah satu siswa.
"Iya, kalau kalian mau tahu sikapnya ini sering semena-mena di rumah. Aku yang saudara kembarnya selalu saja tersisihkan. Lihatlah, aku dibuang jauh dan dia hidup enak-enakan." Liana mengusap air mata buayanya.
"Sabar iya Liana, siswi belagu itu akan kita kasih pelajaran." seru Debbi.
__ADS_1
Melisa dan Malika tersenyum samar, Dora meludah di depan Liani.
"Huuu... dasar gadis licik. Pintar pakai topeng dengan kerudung." timpal Malika.
"Biasa kerudung dusta. Rasain tuh kena jebakan. Selama ini berlaku seenaknya." Melisa juga mengejeknya.
"Aku peringatkan iya kalian, jangan pernah mengganggu Liani." tunjuk Alfian, pada satu persatu orang.
Liani segera berlari dari kelasnya. Alfian mengikutinya dari belakang.
"Liani, tunggu!" teriak Alfian.
Liani terus berlari dan tidak menghiraukan teriakan Alfian. Ternyata, kembalinya tidak diharapkan sama sekali.
Mbok Inem menghampiri Liani yang baru pulang ke rumah.
"Tidak apa-apa Mbok."
"Jangan berbohong, meski kamu tidak bercerita Mbok bisa melihat kesedihan dirimu."
Mbok Inem memperhatikan penampilan Liani yang berantakan dipenuhi dengan tepung yang berada di kepala dan tubuhnya.
"Aku mau ke atas dulu iya Mbok. Aku mau mandi."
"Iya Nak, tenangkan lah hatimu. Berdoa kepada Allah Swt."
Liani menapaki tangga menuju lantai atas. Dia segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Tidak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi.
"Kenapa semua orang berubah padaku. Apa yang sebenarnya Liana lakukan, selama dia menjadi aku!"
__ADS_1
Liani menenangkan dirinya dengan melaksanakan shalat dzuhur. Lalu setelahnya berdoa dengan khusyuk.
"Ya Allah ya Rahman, engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Berikan hidayah kepada hati Liana, supaya dia kembali ke jalanmu. Aamiin!"
"Tante tahu tidak, tadi si cupu kena kerjain di sekolahan!" Berbicara dengan wajah sumringah.
Tia meminum teh hangatnya. "Bagus dong, itu artinya dia akan sadar diri."
"Dia tidak sadar diri Tante, masih saja menempel dengan Alfian seperti perangko." Liana mengerucutkan bibirnya.
"Tante punya ide, kamu besok buat dia malu saja di sekolahan."
"Pasti tante, biar tahu rasa dia."
"Kamu sudah punya ide tidak calon menantu sayang?"
"Punya Tante, aku akan membuat kejutan yang tidak akan si cupu lupain."
"Anak pintar!" puji Tia.
"Iya dong, aku gitu loh. Siapa dulu yang ngajarin?" Liana tersenyum.
"Tante Tia yang cantik dan elegan dong." Tertawa kecil, setelah hatinya terbang tinggi.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata, yang memperhatikan di balik tembok pembatas.
"Kenapa tidak sadar juga itu anak. Masih saja punya niat jahat pada Liani. Aku harus memberitahu dia, supaya berhati-hati pada saudaranya." monolog Alfian.
Liana memang mempunyai wajah yang kembar dengan Liani. Tapi tidak dengan sikapnya, mereka sungguh jauh berbeda.
__ADS_1