Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Menutupi Perbuatan Nhiky


__ADS_3

Kelas Matematika adalah kelas paling populer di sekolah tersebut. Demi sebuah niat mendekati Alfian, Liana rela memasuki ruangan pengetesan. Hingga akhirnya dia lulus, dan satu kelas dengan orang yang disukai. Berbeda dengan Liani, yang memilih kelas IPA Fisika. Cita-citanya sejak dulu, ingin menjadi seorang dokter.


Yoehun ternyata masuk dalam kelas yang sama. Liani disapa olehnya berulang kali, saat termenung sebentar. Liani menoleh ke arah sumber suara, sambil tersenyum mengembang.


"Yoehun, kamu sekolah di sini?" tanya Liani.


"Iya, Ibu Pratiwi menyuruhku untuk lanjut sekolah." Yoehun teringat nasehat ibu panti, bahwa berilmu itu penting.


"Berarti kita satu kelas sekarang." ujar Liani.


"Iya, aku kelas IPA Fisika." jawab Yoehun.


Keduanya memilih sebuah kursi paling depan, lalu mendapatkan teman sebangku masing-masing. Liani tersenyum ke arah orang di sebelahnya, lalu dibalas dengan hal serupa. Seorang perempuan berjilbab segiempat, mendekati Liani dengan kepalanya.


"Nama kamu siapa?" tanya Nhiky.


"Nama aku Liani." jawabnya.

__ADS_1


"Kamu pendiam sekali iya." ujar Nhiky.


"Tidak juga, aku bicara kok kalau diajak mengobrol." jawab Liani.


Jam istirahat tiba, Liani dan Nhiky keluar kelas. Yoehun dan teman barunya bernama Liuqy. Dora juga ada di kelas itu, namun berpisah dengan teman-teman karibnya. Meski sendirian, tidak menyurutkan semangatnya untuk menyingkirkan Liani.


Hari pertama belum belajar, masih tahap pengenalan siswa dan siswi. Semua dibiarkan bersosialisasi terlebih dulu. Liuqy dan Nhiky membeli banyak minuman, lalu diberikan pada Yoehun dan Liani.


"Lihat Yoehun, bibir kamu pucat. Pasti kamu sudah sangat kehausan." ujar Liuqy.


"Tidak juga, ini efek tidak minum semalaman. Aku bergadang, mengerjakan tugas kuliah." jawab Yoehun.


"Tidak, bukan hal itu. Aku mengerjakan milik senior di sebuah universitas." jawab Yoehun.


Liani merasa prihatin, Yoehun pasti ingin membantu ibu Pratiwi. Keuangan panti asuhan memang tinggal sedikit. Ibu Pratiwi bercerita tentang tabungan yang kurang memadai, sehingga semuanya tidak bisa sama rata. Kalau pun mengenyam pendidikan, semuanya harus bergilir.


”Apa aku tanya Papa saja iya, saat ingin menyumbangkan dana besar. Sungguh kasihan anak-anak tersebut, mereka pasti ingin sekolah. Di zaman sekarang, sungguh kejam bila ketinggalan.” batin Liani, merasa empati.

__ADS_1


Keesokan harinya guru Matematika masuk kelas, dia memperkenalkan diri sebagai wali kelas baru. Tidak lama kemudian keluar kelas, setelah memberikan siswa dan siswi latihan.


"Eh, itu ada dompet Ibu guru, kita ambil saja yuk uangnya." ajak Nhiky.


"Aku tidak mau." jawab Liani.


"Mengapa kamu bersikap seperti ini?" Nhiky menjadi sedikit kesal.


"Kata Mama, jangan mengambil uang haram. Nanti, akan ada hisab di akhirat." jawab Liani.


"Aku tidak peduli, yang terpenting bisa makan puas." ucap Nhiky.


"Aku tidak mau, kalau di dalam lambungku ada uang haram. Apalagi secara disengaja, sudah tahu salah." jelas Liani.


Liani mendapat hukuman dipukul telapak tangannya di kantor. Namun dia tetap tidak mengatakan perbuatan temannya yang mencuri. Liani masih meringis menahan sakit, karena guru sengaja memukulnya sedikit kuat.


Domiko melihat ke arah Liani. "Aku tidak ingin, sifatmu ini menjadi contoh bagi yang lain."

__ADS_1


"Iya Bu, maafkan kekhilafan aku." jawab Liani.


"Maafkan aku Liani, aku yang bersalah. Aku harusnya jujur, sebelum kamu mengakui semuanya." Nhiky memperhatikan dari jendela kantor.


__ADS_2