
"Surprise!" Alfian membawa sebuah kotak berukuran sedang. Tali pita melingkar rapi di kotak tersebut.
Liana merasa berbunga-bunga, tidak sabar lagi untuk melihat isinya. "Bolehkah aku membukanya sekarang?" tanya Liana.
"Tentu boleh, silahkan dibuka." ucap Alfian, dia ingin melihat reaksi Liana saat menerima hadiah yang diberikannya.
Liana terus tersenyum sambil membuka bungkus dengan perlahan, dia terkejut mendapati isinya sebuah kitab Al-Qur'an. Wajahnya yang ceria berubah menjadi masam, dia ingin diberi hadiah duniawi yang menurutnya indah. Padahal dunia hanya lah tipuan semu yang tidak abadi.
"Kok cemberut sih, kamu suka tidak?" tanya Alfian.
"Aku suka, terima kasih." jawabnya terpaksa.
Alfian pergi ke sebuah danau, dia menghabiskan waktu dengan memancing. Dia terkejut tatkala mendapati perempuan sedang berdiri dipinggir danau seorang diri. Meski dari kejauhan dia merasa tidak asing.
"Itu 'kan Liana, kenapa dia sendiri di sana?" monolog Alfian.
__ADS_1
Alfian segera berjalan mendekati Liani dan meninggalkan pancingnya di sana.
"Hei, kenapa sendirian saja?" tanya Alfian.
Liani terkejut, dan mendongak ke sumber suara. "Alfian, kamu ngapain di sini? Oh iya kamu kan suka memancing." Liani malah balik bertanya.
"Kamu tahu aku suka memancing? Kamu seperti mengenalku sudah lama saja. Mengakulah kalau kamu bukan Liani. Aku malah suka jika kamu mau jujur." Duduk di sebelah Liani.
"Aku tidak akan mengakui lagi kalau aku Liani. Terserah kamu saja mau menganggap aku apa. Aku sudah tidak memperdulikannya lagi." jawabnya pasrah.
"Manusia memang dengan segala pendapatnya saja, bahkan dia tidak pernah tahu kebenarannya." Liani berusaha menenangkan diri, yang hampir saja menangis.
"Kalau memang kamu Liani, apa kamu bisa menyebutkan kenangan masa kecil kita apa saja?" tanya Alfian, dia ingin memastikan sekali lagi. Semuanya masih membuat ragu, dan dia bingung.
"Kita pernah jatuh dari sepeda bersama, kamu juga sering menjewer telingaku waktu kecil, dan kamu juga pernah mengajakku bermain perahu kertas di danau ini." Dia menjawab dengan air mata yang berjatuhan, tidak sanggup terus disudutkan sebagai Liana.
__ADS_1
Di mata Liani, lebih baik tidak melihat mereka lagi daripada harus merasa ingin posisi yang dulu. Alfian terkejut dan dia merasakan kejujuran dari ucapan seseorang yang kini ada dihadapannya. Alfian semakin mendekati Liani, sangat dekat.
"Kamu Liani, iya aku bisa merasakan caramu berbicara sangat lembut. Sifatmu berbeda dengan Liani yang selama ini bersamaku." Alfian baru bisa membedakan.
"Silakan beri jarak posisi dariku, kita hanya dua orang asing dalam agama Islam."
"Liani, kenapa posisimu bisa tertukar?" tanya Alfian lembut.
"Itu karena dia terobsesi untuk menjadi kaya, sehingga untuk mengakui namanya saja dia tidak mau." jawab Liani.
Liani terharu, kini ada seseorang yang mempercayai bahwa dia tidak berbohong yaitu Alfian.
”Tidak, aku tidak boleh tertarik padanya. Aku takut menyukainya, seperti mama dan papa yang saling mencintai tapi berakhir saling menyakiti.” batin Liani.
"Aku mempercayaimu Liani, aku akan membantumu untuk kembali lagi ke sana. Tapi, sekarang aku akan tetap berpura-pura percaya bahwa Liana adalah Liani sampai aku mendapat bukti." ujar Alfian.
__ADS_1
Liani mengangguk, sudah sedikit merasa lega meski belum sepenuhnya.