Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Panti Asuhan


__ADS_3

Liani menuju meja makan bersama, bibi Ijah dan mbok Inem. Ada ikan nila, kangkung tumis, ayam semur, kulit kambing gulai. Selesai membaca doa mereka makan bersama.


Brak!


Tiba-tiba saja ada yang menggebrak meja dan mengagetkan mereka. Ternyata orang itu adalah Liana, dia sudah bersiap untuk pergi. Liani langsung tersedak, lalu mengambil air minum dan meneguknya dengan cepat.


"Makan tidak mengajak lagi." celetuk Liana.


"'Kan kamu sendiri yang bilang najis di depan kami." sahut mbok Inem.


"Terserah sih iya. Tidak penting berdialog dengan kalian." Liana segera meninggalkan mereka semua.


Hari ini dia ingin jalan ke mall. Tidak lupa juga memperindah kulit dengan perawatan. Liana bertingkah seperti tidak pernah hidup miskin. Tidak sungkan-sungkan, untuk memilih baju keluaran terbaru yang paling mahal.


"Aku ini kaya, bebas membeli apapun juga." monolog Liana.


Dia berjoget-joget ke kanan dan kiri. Merasa menjadi penguasa, di rumah orangtuanya. Semua karyawati mall tercengang akan kelakuannya, yang berlenggak-lenggok tanpa tahu malu.


"Eh Kak, cepat siapin itu dong." ujar Liana.


"Yang mana Dik?" tanyanya dengan ramah.

__ADS_1


"Itu yang sebelah kanan dekat lemari, ada model kupu-kupu pada rompinya." Liana menunjuk bagian yang diinginkan.


"Iya Dik, sabar sebentar. Biar kami ambilkan." ucapnya.


"Iya Kak, cepat sedikit. Aku buru-buru mau memakainya, lalu mengajak seseorang kencan." jawab Liana.


Alfian sengaja bermain ke rumah, untuk mengajak Liani pergi. Namun, Liani tidak mau jalan bersama Alfian.


"Liani, temani aku pergi yuk." ajak Alfian.


"Aku mau pergi ke panti asuhan." jawab Liani.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." jawab Liani.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai. Liani membawa belanjaan pokok untuk panti asuhan. Sepasang mata memperhatikan dari kejauhan, membuntuti sejak keluar mall sebelumnya.


"Sepertinya, kamu ingin bersaing denganku Liani. Kamu lihat saja, pasti aku yang menikah dengan Alfian. Dia hanya milikku seorang, bukan milik yang lain." monolog Liana.


Liani mengikuti anak-anak, yang mengajaknya bermain balon di belakang rumah. Alfian meniup balon busa dengan susah payah, pipinya sampai mengembung demi membentuk balon sempurna. Tanpa terasa muncul senyuman, di bibir merah merona Liani.


"Lihat Liani, ini untukmu." ujar Alfian.

__ADS_1


"Bentuknya lumayan bagus." jawab Liani.


Yoehun merupakan anak baru di panti asuhan tersebut. Baru kali ini dia melihat, ada perempuan cantik dan tulus seperti Liani. Biasanya, sudah jarang ada remaja salihah.


"Wahai pasukan nabi Sulaiman, kalian sedang apa?" Liani melihat gerombolan semut, yang berjalan di kursi semen.


"Kamu bicara sama semut?" tanya Yoehun.


"Dia juga makhluk hidup, tidak ada yang salah bicara dengannya." jawab Liani.


"Dia makhluk kecil." Yoehun menatap rinci kaki, sampai ke antena kepalanya.


"Meski kecil, dia sangat pintar bersosialisasi." Liani melihat pecahan roti yang diangkat bersama oleh mereka, benar-benar kerjasama yang baik.


"Mereka benar-benar memiliki empati." jawab Yoehun.


"Soal perasaan tidak memiliki, tapi mereka sangat perasa. Coba saja ada yang menginjak kakinya, pasti dia akan sangat marah." jawab Liani.


Yoehun tersenyum ke arah Liani dari dekat.


”Aku memilih menyukai kamu dalam diam. Dalam diam, tak akan aku temui penolakan. Aku bisa memintamu pada Allah, yang telah menciptakan kamu di dunia.” batin Yoehun.

__ADS_1


__ADS_2