Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Tercekik Tali Tambang


__ADS_3

Keegoisan yang hakiki telah merasuki hatinya. Sehingga Liana merasa berkuasa, seolah semuanya miliknya. Seperti menyopir mobil sendiri adalah hal yang ingin dia coba.


"Pak, ajarin saya bawa mobil sendiri." seru Liana, pada tukang sopir.


"Tapi non, tuan besar tidak boleh nona membawa mobil sendiri ke sekolah."


"Aku tidak mau tahu, cepat ajari aku."


”Berisik dan banyak berbicara, dasar iblis gila.” Kebiasaan dengan umpatan itu tak pernah hilang.


Jamian merupakan sopir pribadi mereka, ketika pergi ke sekolah. Dia akhirnya menurut saja, dengan yang diperintahkan kepala batu. Liana diajari dan akhirnya dia mengerti, karena memperhatikan dengan seksama.


"Nah, itu baru namanya sopir pintar. Lain kali jangan melawan iya atau aku pecat kamu!" ancam Liana.


"Iya nona."


Liana segera menghidupkan gas mobil, mengemudikannya dengan santai. Liani diam saja tidak ingin berdebat dengan saudarinya itu, dia memilih pergi ke sekolah bersama si sopir. Namun saat ingin memasuki mobil, tiba-tiba suara klakson terdengar di depan gerbang. Ternyata itu Alfian, yang datang bersama sopirnya.


"Liani!" panggil Alfian dari kejauhan.


"Iya." jawabnya.


"Kamu pergi dengan aku saja ayo." ajaknya.


Liani masih saja tetap acuh. "Tidak, aku pergi dengan Pak Jamian saja." jawabnya menghindar.

__ADS_1


"Ayolah Liani. Sekali ini saja!" Alfian berusaha membujuk.


"Nona, sebaiknya pergi bersama tuan Alfian saja." ujar Jamian.


Liani mengangguk, dan kakinya melangkah menuju keluar gerbang. Alfian membuka pintu mobil, dan dia masuk ke dalam.


"Liani, aku juga sekarang sama saja tidak bisa menyopir mobil sendiri. Papa aku juga belum mengizinkan makanya supir mengantarku setiap hari."


"Iya, kita kan masih kecil. Oh iya, hari libur nanti kata papa dia akan mengajak aku untuk piknik. Tapi juga bersama keluargamu." ungkap Liani.


"Iya, Mama dan papaku juga ada mengatakannya." jawab Alfian.


Mobil berhenti di depan gerbang sekolahan SMP Bintang Gemerlap. Alfian dan Liani turun dari mobil. Angin sepoi-sepoi kala pagi itu, masih terasa sejuk. Daun-daun dari tanaman hiasan halaman sekolah, berguguran diterpa hembusan angin.


"Iya, aku juga mau membaca materi untuk ulangan hari ini."


Alfian melambaikan tangan dan segera pergi. Liani acuh dan tidak membalasnya, hanya menarik garis bibirnya sedikit. Liani melangkahkan kakinya perlahan, dia terkejut karena tiba-tiba ada yang menariknya.


"Sini kamu ikut kami." ucap Debbi.


Dora memegangi tangan Liani, dia memberontak dan menendang kaki Dora. Liani segera berlari, namun dikejar tanpa henti oleh empat sekawan yang terobsesi ingin membalas dendam. Padahal mereka salah alamat, dalam melampiaskan perbuatannya.


"Aku harus berlari ke mana?" Liani bingung tidak terkira.


Liana tiba-tiba muncul dan memegangi tangannya. "Mau ke mana kamu cupu?" Tersenyum tipis.

__ADS_1


"Liana, aku mohon lepaskan aku!"


"Tidak, aku tidak akan melepaskan kamu. Ini kesempatan aku, untuk membalas dendam padamu."


Empat sekawan itu berhasil mendekat ke arah Liani. Melisa dan Malika memegangi tangan Liani dan tersenyum pada Liana.


"Kalian bawa saja dia, terserah mau melakukan apa!"


"Terima kasih iya Liani, sudah membantu kami menangkap anak belagu ini." ujar Debbi.


Liana mengangguk, ada rasa puas di dalam hatinya. Liani dibawa ke belakang sekolah, tepatnya di bawah pohon beringin. Debbi dan Dora mengikat tambang, pada salah satu cabang pohon.


"Tolong lepaskan aku!" pinta Liani.


"Kenapa? Kamu takut mati?" Dora memegang dagu Liani dengan kasar.


"Semua orang akan mengira kamu bunuh diri. Itu akan lebih bagus, karena kamu telah mempermalukan kami." ucap Malika.


Dora memasukkan kepala Liani dalam lingkaran tali, dan Debbi menariknya dengan sekuat tenaga. Liani menggantung di atas pohon, dia sudah terbatuk-batuk.


"Ayo cepat tinggalkan dia. Nanti ada yang melihat kita." ajak Melisa.


Debbi dan Dora mengikat tali pada pohon besar. Kaki Liani menendang-nendang udara, nafasnya tercekat. Kakinya bergantung tidak tentu arah. Empat sekawan itu tertawa kecil, meninggalkan Liani sendirian.


Tidak lama kemudian Alfian muncul dan melepaskan tali tambang. Namun Liani ternyata sudah pingsan, ada luka lebam dilehernya. Alfian dengan panik segera mengangkat tubuh Liani, membawanya ke ruang UKS.

__ADS_1


__ADS_2