
Mbok Inem diam terpaku, lidahnya keluh untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Meski Liana tidak mengatakan apa pun kepadaku. Tapi aku yakin dia adalah saudariku, yang masuk ke dalam sungai belasan tahun lalu. Mbok memberinya nama Liana, karena kalung yang ada pada lehernya 'kan?"
Mbok Inem tidak bisa mengelak lagi, dia pasrah bila harus kehilangan Liana. "Iya, mbok akan jujur. Liana bukan anak kandung mbok." Mbok Inem bersedih, dan segera berlari keluar rumah.
Liani tidak tega dan segera menyusulnya. Dia memeluk mbok Inem dari belakang. "Aku memang bukan Liana Mbok, tapi aku sayang dengan Mbok. Selama ini Mbok sudah sangat baik padaku, karena Mbok mau menumpangi aku untuk tinggal di sini."
"Pantas saja, sikap kamu berbeda sekali. Maafkan Mbok iya Nak, karena tidak mempercayaimu."
Liani tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Iya Mbok, aku juga minta maaf kalau Mbok sedih karena aku akan pergi."
"Tidak, Mbok akan menemanimu ke sana."
Setelah menghasilkan keputusan bersama, Alfian, Liani dan Mbok Inem pergi menggunakan mobil Alfian. Mereka akan pergi bersama-sama ke rumah pak Rahman.
Liana menggeser tirai jendela ke samping, dia melihat mobil Alfian yang terparkir di halaman rumah. Tampaklah penghuni di dalamnya turun bersama.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu Liani, tidak akan aku biarkan kamu menang." Gumam Liana.
Bibi Ijah membuka pintu ketika ucapan salam terdengar. Alfian, Liani, dan Mbok Inem masuk ke dalam rumah. Liana tidak menyambut mereka sama sekali. Dia merasa kesal dengan kehadiran Liani.
”Kamu pikir bisa bermain-main denganku?” batin Liana.
Rahman muncul setelah bibi Ijah memanggilnya. Dia telah bangun dari tidur siangnya. Karena lelah dengan tugasnya membuat dia tertidur di ruangan kerja.
"Liani, kenapa kamu berdiri di sana sendiri? Ayo ke sini ikut duduk bersama." seru Rahman, yang melihat Liana.
Liana menghampiri mereka dengan mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya yang membunuh lebih diarahkan kepada Liani.
"Aku adalah mboknya Liana. Dia yang duduk di samping bapak adalah Liana."
"Iya om benar. Bisa om perhatikan dia" Tambah Alfian sambil melirik Liani.
"Tidak, aku yang Liani." sahut Liana.
__ADS_1
"Aku akan menceritakan yang sebenarnya. Dulu Liana ini aku temukan di sungai, dan aku angkat dia sebagai anakku."
”Dasar janda miskin, iblis gila berani-beraninya mengatakan yang sebenarnya. Dari tes DNA saat itu saja aku tahu kalau aku bukan anakmu.” batin Liana terus mengarahkan maki-maki, kepada orang yang sedang menuturkan sebuah hal besar itu.
"Baiklah, tidak peduli dengan hasil tes DNA itu aku akan memutuskan untuk membawa keduanya tinggal di sini." Keputusan Rahman sudah bulat.
"Aku ini anak Papa, kenapa Papa memperlakukan aku berbeda?" teriak Liana.
Liana segera beranjak dari duduknya, dia berlari menuju lantai atas.
"Sebenarnya aku keberatan bila harus berpisah dengan Liana." ujar mbok Inem jujur.
"Mbok tinggal di sini saja. Jadi Mbok tidak akan merasa sendiri." jawab Rahman.
"Tapi...." Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya lembut. Mbok Inem menoleh dan melihat raut wajah permohonan Liani.
"Mbok mau iya tinggal di sini. Aku sudah sayang dengan Mbok, aku tidak mau berpisah dari Mbok." Liani mengatupkan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Mbok Inem mengangguk, dia terharu ada yang mau menerimanya dengan baik. Hatinya semakin yakin, gadis kecil di depannya ini adalah bukan Liana.