Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Menyamar


__ADS_3

6 Tahun kemudian...


"Aku benci dengan hidupku, aku tidak berubah. Masih saja miskin bersama si Mbok. Aku harus secepatnya menukar posisi ku dengan Liani." Liana masih terus fokus ke depan, kakinya mendayung pedal sepeda.


Tiba-tiba sekelompok teman-teman SMP Liana menghadangnya. Liana segera memutar balik arah kemudinya.


"Hei Liana tunggu, hutangmu pada kami belum lunas." Teriak salah satu dari mereka, yang mengejar Liana menggunakan sepeda.


”Sial, mereka menagih hutang di pagi hari seperti ini.” batin Liana.


Liana segera menghentikan sepedanya di balik pohon besar. Mengintip teman-temannya yang sedang mencarinya dengan raut wajah bingung, karena tidak mengetahui keberadaannya.


Liani lewat di sana, dia tengah menunggu taksi. Hari itu Alfian sedang tidak masuk sekolah. Rahman papa Liani sedang sibuk di kantornya, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Liana, kamu santai sekali iya. Setelah tadi naik sepeda sekarang berjalan kaki." ucap salah satu, dari rombongan yang mengejar Liana.


"Liana? Siapa dia?" tanya Liani bingung.


"Ayo seret dia, kita sekap dia. Kita akan lepaskan dia, sampai dia mau melunasi hutang."


"Sepertinya kalian salah orang, aku tidak punya hutang pada kalian." Liani segera berlari.


Mereka mengejar Liani yang panik, dengan menggunakan sepeda. Liana yang menyaksikan kekeliruan itu merasa senang.


"Hahaha... aku akan menukar posisimu hari ini juga." Liana melompat-lompat, bagai seseorang yang tengah diberikan sebuah gelar kehormatan.

__ADS_1


Mbok Inem baru saja selesai membuat kue, dia kini ingin menjual dagangannya di pasar. Mbok Inem terperangah, menangkap pemandangan di depannya. Dia melihat Liani sedang dikeroyok oleh rombongan orang yang bersepeda. Mbok Inem mengira Liani adalah Liana.


"Aku harus menolongnya." Mbok Inem segera berlari, sambil membawa kedua wadah yang berisi kue di tangannya.


"Tolong!" teriak Liani.


"Percuma saja engkau berteriak, semua tidak akan merubah apapun. Tidak akan ada yang menolong kamu."


"Lepaskan dia!" teriak Mbok Inem.


"Hahaha memangnya nenek siapa?" ucap mereka, dengan tidak sopan.


"Saya Mbok Inem, saya Mbok Liana."


"Asal Mbok tahu iya, Liana ini memiliki hutang pada kami, dan dia tidak mau membayar." ucap salah satunya.


Mengambil cincin, yang diberikan oleh mbok Inem. "Hei Mbok, ini belum cukup."


Mbok Inem mencopot sepasang anting emas yang dikenakannya. Dia juga merogoh saku yang berisi uang dua lembar berwarna merah.


"Saya rasa ini cukup untuk melunasi hutang anak saya." Mbok memberikan semuanya.


"Nah, itu baru beres. Kami tidak akan mengganggu anak mbok lagi. Terima kasih!" Mereka segera pergi meninggalkan mbok Inem dan Liani.


Mbok Inem menghampiri Liani "Kamu tidak apa-apa kan Liana." ujar mbok Inem.

__ADS_1


"Mbok terimakasih telah menolongku, tapi aku bukan...." Belum selesai Liani menjelaskan semuanya, mbok telah menyahutnya.


"Sudahlah jangan banyak bicara, mari kita pulang. Mbok tahu kamu pasti lapar seharian belajar di sekolah." Mbok Inem tidak jadi untuk pergi ke pasar.


"Assalamualaikum!" ucap Liana.


"Waalaikumus'salam." jawab Rahman, dari dalam rumah.


"Papa, aku takut!" Liana segera memeluk Rahman.


"Kenapa sayang? Ayo masuk ke dalam."


Liana tersenyum jahat di dalam pelukan Rahman. ”Hore, aku berhasil. Aku suka dengan posisi yang ditukar ini.” batin Liana.


"Papa tadi ada orang jahat di jalan, aku takut pa. Aku bersembunyi dulu hingga pulangnya sore."


"Maafkan papa iya sayang, karena papa sibuk di kantor jadi kamu seperti ini. Supir yang biasa pergi denganmu juga sedang pulang kampung." tutur Rahman.


"Tidak apa-apa papa, Liani bahagia kok." jawabnya.


"Iya sudah sekarang kamu ke kamar, ganti baju sana sayang."


"Iya Pa." Liana segera melangkahkan kakinya, namun baru beberapa langkah Rahman telah memanggilnya.


"Kenapa kamu berbelok ke kamar papa?" tanya Rahman.

__ADS_1


Liana mematung sejenak. ”Aduh, kamarnya Liani di mana iya.” batin Liana.


"Maaf Pa, aku sedikit pusing jadi aku tidak fokus melihat." alibi Liana.


__ADS_2