
Gosipnya menyebar ke seluruh SMA Permata, karena tersandung kasus pencurian. Padahal Liani hanya mengakui sebuah hal, yang memang tidak pernah dilakukannya.
"Liani, kamu itu membuat malu saja si. Katanya kamu maling dompet Ibu guru." Liana sengaja menyudutkan.
"Biasa, tukang buat onar." Dora sengaja menyudutkan, padahal mengetahui kenyataannya.
"Semua orang pernah berbuat salah, apa pantas kalian menjadi hakim atas dosa orang lain." jawab Liani.
"Kalian semua jangan menyudutkan Liani. Lebih baik urusi hidup kalian yang belum beres." sahut Nhiky.
"Tahu apa kamu tentang hidupku. Wajar saja bila aku menasehatinya, karena dia saudara kembar ku." jawab Liana.
"Kamu itu bukan menasehatinya, tapi sedang menghina. Kalau memberikan nasehat itu saat sendirian, bukan di depan umum." Nhiky sengaja mengatakan demikian, agar mereka introspeksi diri.
"Ah sudahlah, kamu terlalu banyak bicara." Liana segera meninggalkan Nhiky.
Dora, Malika, dan Melisa mengikuti langkah kaki Liana. Mereka memilih duduk di lapangan, sambil melihat banyak orang latihan. Sepertinya, sebuah persiapan untuk upacara hari pahlawan.
"Kalian tahu tidak, kalau para senior banyak yang tampan." ujar Dora.
"Aku tidak tertarik, karena hanya Alfian dalam hatiku." jawab Liana.
__ADS_1
"Kamu jangan mau setia dengan satu laki-laki saja. Dia belum tentu mikirin kamu, karena dia suka sama Liani." sahut Melisa.
"Kalian jangan mengajari aku segala. Aku tahu, apa yang harus aku lakukan." jawab Liana.
Bugh!
Sebuah tendangan batu mengenai kepala Liana, hingga dahinya mengeluarkan darah. Seorang laki-laki mendekat ke arahnya, sambil mengucapkan maaf berulang kali.
"Siapa si yang melakukan ini." ucap Liana.
"Aku yang melakukannya, tapi sungguh tidak sengaja. Maaf!" jawab Regart.
"Sekali lagi maaf." jawab Regart, sambil menunduk.
Nhiky dan Liani berpegangan tangan, tersenyum saling pandang. Nhiky bahagia memiliki teman baru seperti Liani, karena telah membuatnya mendapat pelajaran hidup yang berharga.
"Liani, bukankah perempuan tadi kembaran kamu. Tapi, sifatnya jauh berbeda." ucap Nhiky.
"Namanya juga manusia Nhiky, mana bisa serupa. Baju seragam saja masih berbeda bentuk jahitan benangnya." jelas Liani.
"Mulutnya itu loh pedas, membuat tidak tahan. Ini semua karena aku, kamu jadi di-bully pencuri." Nhiky menunduk, dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Sudahlah, yang penting sekarang kamu mau berubah." jawabnya tulus.
Mbok Inem dan bibi Ijah membuatkan minuman dan makanan untuk Liani. Masakan utama sudah siap, lalu membuat hidangan khusus dengan disengaja.
"Eh, kita buatkan jus labu saja." ujar bibi Ijah.
"Boleh juga, namun wartel baik untuk kesehatan mata." jawab Mbok Inem.
"Kalau seperti itu, buat dua-duanya saja." ucap bibi Ijah.
"Iya, terserah. Aku ikut saja, yang penting memberi kejutan." jawab Mbok Inem.
Liani datang bersama Liana, baru saja pulang sekolah. Bibi Ijah memberikan tisu, untuk mengelap keringat pada dahinya. Mbok Inem memberikan gelas air minum pada Liani.
"Dih lebay, terlalu menyambutnya seperti ratu." celetuk Liana, dengan sangat ketus.
"Kalau kamu mau, ambil saja gelas ini. Mbok bisa ambil air jusnya lagi di dapur." tawar Mbok Inem.
Liana langsung mendorong mbok Inem yang mendekat. "Tidak perlu repot-repot kasih perhatian, aku sudah muak melihatmu di rumah ini." Melengos pergi.
"Liana, mengapa kamu sangat benci sama Mbok." Mbok Inem memegangi dadanya, yang terasa sesak.
__ADS_1