
Liana mengendap-endap di dalam kelas, menuangkan cairan pelekat di kursi Liani duduk. "Rasain loh, pas nanti duduk sobek deh roknya!" Liana tertawa sendiri.
Liana segera berlari keluar kelas, karena takut ketahuan. Tidak lama kemudian, semua murid kelas 9 masuk kelas.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar Matematika iya!"
"Iya Ibu."
"Barisan aritmatika adalah bilangan yang memiliki pola tetap, di mana polanya berdasarkan operasi penjumlahan atau pengurangan. Setiap urutan suku memiliki selisih dan beda."
Ibu Endang menulis di papan tulis, setelah sebelumnya menjelaskan. "Liani tolong maju ke depan kelas, dan jelaskan kepada teman-temanmu!" titah ibu guru.
Liani hendak beranjak dari duduknya tapi dia terkejut karena ada yang sangat lekat dengan roknya. Berusaha bergerak ke kanan dan ke kiri.
Krak!!!
Terdengar bunyi rok Liani yang sobek, namun dia tidak beranjak.
”Ya Allah, ada apa ini? Siapa yang meletakkan perekat di kursi ku.”
"Hahaha... ada yang kentut nih. Hih bau." celetuk Debbi.
Dora hanya ikut tertawa, sementara Melisa dan Malika berbisik-bisik.
"Diam semuanya!" titah ibu guru. "Kenapa kamu tidak mau maju Liani?" tanyanya.
__ADS_1
Alfian menyahut. "Dia sedang tidak enak badan Ibu, biar saya saja yang mengerjakan soal yang di papan tulis."
"Iya, silakan."
Alfian beranjak dari duduknya, dan ibu guru memberikan spidol. Alfian mengerjakan soal dengan lancar, dan Liani melihatnya dengan rasa terharu.
”Terima kasih iya Alfian, kali ini kamu menyelamatkan aku lagi. Meski terkadang aku mengacuhkan kamu. Maafkan aku, tidak bermaksud seperti itu.” batin Liani.
Jam pulang sekolah telah tiba, Liani tetap tidak keluar kelas sampai dihampiri oleh empat sekawan.
"Eh Liani, kenapa tadi tidak maju?" Malika memiringkan bibirnya ke samping.
"Iya, dan sekarang juga seperti orang lumpuh tidak bisa berdiri." tambah Melisa.
"Heh stop iya kalian mengganggu Liani. Kalian tidak ada kerjaan lain iya. Pulang sana." Alfian membelanya.
Mereka berempat segera melengos, malas meladeni Alfian. Hanya tatapan tajam saja yang diarahkan pada Liani.
"Kamu kenapa Liani? Aku lihat tadi kamu resah, waktu disuruh Ibu guru maju ke depan."
"Kursi aku ditempeli perekat Alfian."
Alfian membuka tasnya dan mengeluarkan jaket. Dia memberikannya ke Liani, agar tidak jadi bahan tertawaan. Liani melingkarkan jaket Alfian pada pinggangnya. Mereka segera keluar dari kelas, setelah Liani berhasil lepas dari jebakan.
****
__ADS_1
"Liani, Papa punya hadiah untukmu!"
"Apa Pa?"
"Ini baju untuk kamu. Besok pas liburan kita akan pergi piknik."
"Di mana Pa?"
"Di danau biru sayang."
"Hmmm... aku mau Pa. Terima kasih!" Tersenyum mengembang.
Liana penuh rasa dengki dan langsung menyambar baju yang dipegang Liani. Dia melemparkan baju yang masih terbungkus rapi itu ke lantai, membuat Rahman dan Liani terkejut.
Liana menginjak-injak baju, yang berbungkus plastik transparan tersebut. "Papa benar-benar tidak adil padaku. Aku ini juga anak Papa. Selama bertahun-tahun aku hidup susah, dan sekarang saat kembali Papa tidak menganggap aku."
"Sayang, kamu jangan salah paham. Papa sudah membelikan baju untuk kamu juga."
"Mana Pa?" ujar Liana.
Rahman mengambil satu bungkus plastik dan mengeluarkan baju cantik. "Aku tidak suka baju itu. Aku ingin baju dress panjang, yang Papa beri ke Liani. Lebih cantik miliknya, daripada yang Papa beri ke aku."
"Kamu ambil saja baju itu kalau mau."
"Aku ingin dibelikan yang sama persis. Aku tidak mau yang di lantai itu sudah kotor."
__ADS_1