
Liana mengepalkan kedua telapak tangannya, segera kembali ke rumah menggunakan mobil. Bapak Jamian yang menunggu hampir tertidur, karena lumayan lama Liana meninggalkannya dalam mobil.
Alfian melarang Liani, yang berdekatan dengan Yoehun. Ada rasa tidak rela, saat senyum Liani ke Yoehun sangat tulus. Alfian mengajak Liani berkali-kali, untuk pulang ke rumah.
"Liani kita pulang sekarang saja." ajak Alfian.
"Kita 'kan lagi menikmati hiburan." jawab Liani.
"Aku tidak bisa menikmatinya di sini, lebih baik pulang. Lagipula, sebentar lagi hampir sore." ujar Alfian.
"Iya sudah, ayo." Liani akhirnya menyetujui.
Keduanya pergi bersama sopir pribadi Alfian, kembali ke rumah utama keluarga. Liana sudah muncul, tidak lama kemudian.
"Alfian, kamu dari mana?" tanya Liana.
"Pergi dengan Liani ke panti asuhan." jawab Alfian.
"Hari ini aku cantik tidak?" tanya Liana, sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Hmmm..." Memberi jeda sejenak. "Lumayan." Memilih jawaban paling singkat.
"Pasti di dalam hati kamu bilang sangat cantik." ucap Liana.
"Sepertinya tidak begitu, aku merasa kamu cukup biasa saja." Alfian mendadak malas, melihat Liana menyombongkan diri.
Pukul 20.00 waktu makan malam tiba. Liana melihat ke arah bibi Ijah dan mbok Inem, yang tengah menyiapkan jamuan. Rahman menuruni anak tangga, lalu menghampiri mereka semua.
"Papa, ayo kita makan bersama." ajak Liana.
"Iya sayang." jawab Rahman.
Liani mengambil nasi, dan juga menyendok lauk pauk untuk Rahman. Liana melihat sambil cemberut, karena Liani melemparkan perhatian pada papanya.
"Iya sayang, boleh." jawab Rahman.
"Hmmm... terima kasih iya Pa." ujarnya.
"Tapi ingat, harus belajar yang benar. Jangan sekadar menghabiskan uang, tanpa tahu asal usulnya. Ada kerja keras yang mengharuskan peluh bercucuran, baru mendapatkan kertas pembayaran yang halal." jelas Rahman, dengan tegas.
__ADS_1
"Iya Papa, aku mengerti yang Papa maksud." Liana melangkahkan kakinya ke kamar, lalu mengirim pesan pada Melisa dan Malika.
Liani juga pergi ke kamarnya, karena ingin mengulang pelajaran sekolah. Dia harus mendapat nilai yang bagus, supaya bisa lulus saat masuk sekolah SMA Permata.
"Aku punya rencana, kalau besok kalian kerjain saja saudariku di sekolahan. Tanya saja pada Dora, apa dia setuju."
Pesan yang dikirim Liana untuk kedua orang tersebut, tanpa sengaja mendarat ke kotak masuk pesan di ponsel Alfian. Liana berencana menghapusnya, namun tidak berhasil. Sudah terlanjur dilakukan perekaman layar oleh Alfian.
"Liana, punya niat jahat. Aku harus melindungi Liani saat pertama masuk sekolah SMA." monolog Alfian.
Pagi hari menyapa dunia, dengan mengeluarkan mentari. Pantulan sinar terangnya sudah membuat mata Liana terbangun.
"His, aku sangat kesal dengan hidup yang aku jalani." Liana bergumam-gumam lirih.
Liana keluar dari kamar, lalu melihat bibi Ijah membawa roti dan susu. Liana menatap jengah, dengan mata yang sibuk menoleh ke arah tangga. Tidak butuh waktu lama, Rahman sudah menghampirinya.
"Liana, ada yang ingin Papa bicarakan." ujar Rahman.
"Papa, aku ini Liani." jawab Liana.
__ADS_1
"Mulai sekarang, Papa minta kamu berhenti menyamar menjadi Liani. Papa tahu, kamu kekurangan kasih sayang. Materi pun kamu tidak cukup menikmati, namun jangan menjadi jahat." Rahman melihat kedua bola matanya secara lekat.
"Papa, aku tidak bermaksud jahat dengan Liani. Maafkan aku Pa, aku hanya merasa dia beruntung. Selama ini aku sangat menderita." Liana pura-pura sedih.