Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Markas Komunitas Siswa Berbakat


__ADS_3

Di tempat biasanya, Regart dan teman-teman berkumpul. Sebuah markas untuk mengembangkan komunitas siswa berbakat. Malika, Melisa, dan Dora masuk ke ruangan, yang ada di sebelahnya. Liana juga ada di sana, dia ingin latihan bernyanyi.


"Kamu sejak kapan suka menyanyi?" tanya Dora.


"Sejak kecil si, hanya saja tidak ada biaya untuk mengikuti pelatihan khusus." jawab Liana, dengan menjelaskan kesulitannya.


"Iya sudah, kesempatan kamu untuk berlatih sekarang." ujar Malika.


"Iya, tentu saja. Hari ini aku akan menari juga." jawab Liana.


"Wah keren, kamu bisa dua-duanya." Melisa kagum.


"Heheh... kalian juga pada keren. Aku senang bersama kalian, orangnya pada asyik." jawab Liana, dengan jujur.


Tiba-tiba terdengar suara kehebohan di ruangan sebelah, itu adalah adik kandung Regart. Dia meminta kunci mobil ke kakaknya, namun tidak kunjung diberikan.


"Kakak mengapa si, banyak mengatur sekali." gerutunya.


"Dik, ini hukuman untukmu. Siapa suruh mabuk-mabukan di dalam bar." jawab Regart.


"Aku tidak mau tahu, kembalikan kunci mobilnya." Amiry menunjuk kantong baju Regart.


"Kakak bilang tidak, iya tetap tidak bisa." Regart berbicara nada tegas.

__ADS_1


"Kakak jahat, tega sekali sama Adik sendiri." Amiry mengacak rambutnya, hingga berantakan.


"Gila, Adik lu buas banget!" Dhilo bergidik ngeri.


"Kalian jangan heran, adikku biasa seperti ini." jawab Regart.


Malika dan Melisa tidak heran lagi, sebelumnya juga seperti itu. Liana bertanya pada mereka, ada apa di ruang sebelah.


"Memangnya kamu tidak tahu, ada senior di sana." ucap Dora.


"Tidak Dora, aku tidak peduli siapa pun. Sekarang yang aku pikirkan hanya Alfian." jawab Liana.


Alfian melihat Yoehun yang sedang duduk didekat Liani. Tidak tahu mengapa, dia merasa cemburu. Takut kalau Liani jatuh cinta dengan yang lain, lalu menolak untuk tunangan dengannya. Baru saja berniat menghampiri, tiba-tiba ada Liana di sebelahnya.


"Kamu serius, tidak bisa melakukannya sendiri. Kemarin 'kan kita sudah mengambil banyak ubi." jawab Alfian.


"Siapa suruh, kamu tinggalkan aku sendirian. Demi Liani, kamu sampai segitunya sama aku." Liana mengerucutkan bibirnya.


"Mau bagaimana lagi, dia 'kan digigit tawon." jawab Alfian.


"Bukan berarti kamu mengabaikan semua hal penting, demi seorang perempuan." Liana bingung dengan kelompoknya sendiri.


"Aku pikir kita bisa membuatnya ulang. Ajak Malika dan Melisa, mereka 'kan satu kelompok dengan kita." jawab Alfian.

__ADS_1


Rahman libur kerja, jadi santai di rumah. Hari ini dia ingin membaca majalah kesukaannya, melihat rumah-rumah terbaru yang berbentuk minimalis.


"Papa, sedang apa sekarang?" tanya Liani, seraya menyapanya.


"Lagi duduk santai." jawab Rahman.


"Aku temani iya Pa." tawar Ke Liani.


"Kamu 'kan mau pergi sekolah." jawab Rahman sesuai kenyataan.


"Apa salahnya menemani sebentar saja." ujar Liani.


"Baiklah, silakan saja." jawab Rahman.


Liani membaca majalah yang ada di atas meja, menemani hari libur papanya. Liani segera pergi, setelah berpamitan dengan Rahman.


Alfian dan Liana tampak sibuk, berencana mengerjakan tugas kelompok. Tidak tahu diburu-buru siapa, mungkin saja karena keadaan yang memaksa.


"Harus selesai hari ini iya." ujar Alfian.


"Iya dong, nanti kita tidak dapat nilai." jawab Liana.


"Padahal bisa lain kali juga." ujar Alfian datar.

__ADS_1


"Iya juga si, tapi kepepet membuat terburu-buru Alfian." jawab Liana.


__ADS_2