Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Kunjungan Alfian Ke Rumah


__ADS_3

"Alfian, besok kamu ikut Mama dan Papa ke rumah Liani iya." ujar Tia, sambil menyeruput teh.


Alfian fokus membaca majalah. "Iya Ma." jawab Alfian.


Kamu dan Liani sudah akrab belum?" tanya Bram.


"Iya Pa, kemarin tumben dia bisa mengobrol banyak bersamaku. Biasanya, dia cuek denganku."


"Wah, kamu pintar iya." puji Bram.


"Papa bisa saja, mungkin karena dia segan menghindari aku. Kemarin dia lagi sakit."


Tia mengerutkan dahinya. "Kenapa kalau sakit masuk ke sekolah?" tanyanya.


"Aku tidak tahu Ma. Saat aku ke rumahnya, papanya bilang dia tidak pergi sekolah." tutur Alfian.


"Mungkin saja Liani berubah pikiran." ujar Bram.


"Kamu harus menikah dengan Liani, kalau sudah dewasa." Tia melirik Alfian.


"Ma, Alfian masih SD sekarang. Kenapa harus membicarakan pernikahan." sahut Bram.


"Aku ingin Alfian hanya menikah dengan orang yang sederajat dengan kita." Tia tidak menyukai orang miskin.


Bram menepuk jidatnya. "Mama, kekayaan itu bukan tolak ukur. Semuanya bisa diambil, dengan yang Maha Kuasa."


"Mama tidak peduli Papa berpendapat apa. Intinya, Mama hanya ingin Alfian bersama Liani." Tia segera melengos pergi, meninggalkan ruangan keluarga.

__ADS_1


"Alfian, kamu jangan terlalu mendengarkan omongan Mama. Sekarang, kamu harus fokus belajar dulu. Mama kamu bicara seperti itu, karena dia akrab dengan Tante Aulia almarhum mamanya Liani."


"Iya Pa, Alfian mengerti." jawabnya tersenyum.


Sebuah pancuran air terus mengalir di depan halaman rumah. Sebuah mobil berhenti, penghuninya turun dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam rumah setelah dipersilakan.


"Liani!" sapa Alfian.


Liani diam saja, dia tetap cuek.


"Liani, kamu dipanggil dengan temannya kok diam saja. Dijawab dong sayang!" ujar Rahman.


"Liani waktu itu sempat bertemu kami saat ke sekolah dia terjatuh dari sepeda, sikunya terluka." Tia menceritakan kejadian tempo lalu.


"Sayang, kamu kenapa tidak cerita?" tanya Rahman.


"Jatuh? Liani tidak jatuh dari sepeda Pa." jawabnya bingung.


"Sudahlah tidak perlu dibahas, yang terpenting Liani tidak apa-apa." sahut Bram.


"Nona ayo kita keluar, kita akan mengumpan ikan." ajak bibi Ijah.


"Iya tuan, silakan ikut kami ke belakang rumah."


Ikan berwarna kuning emas sedang berseliweran bersama rombongannya di dalam air. Liani dan Alfian berdiri di tepi kolam, sambil memberi umpan.


"Kalian suka 'kan mengumpani ikan emas di kolam ini?" Bibi Ijah bertanya, sambil tersenyum.

__ADS_1


Alfian menjawab. "Iya Bibi, udara di sini juga sejuk."


"Liani suka kalau berdua dengan Bibi."


Sebuah pancuran air terus mengalir di depan halaman rumah. Sebuah mobil berhenti, penghuninya turun dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam rumah setelah dipersilakan.


"Liani!" sapa Alfian.


Liani diam saja, dia tetap cuek.


"Liani, kamu dipanggil dengan temannya kok diam saja. Dijawab dong sayang!" ujar Rahman.


"Liani waktu itu sempat bertemu kami saat ke sekolah dia terjatuh dari sepeda, sikunya terluka." Tia menceritakan kejadian tempo lalu.


"Sayang, kamu kenapa tidak cerita?" tanya Rahman.


"Jatuh? Liani tidak jatuh dari sepeda Pa." jawabnya bingung.


"Sudahlah tidak perlu dibahas, yang terpenting Liani tidak apa-apa." sahut Bram.


"Nona ayo kita keluar, kita akan mengumpan ikan." ajak bibi Ijah.


"Iya tuan, silakan ikut kami ke belakang rumah."


Ikan berwarna kuning emas sedang berseliweran bersama rombongannya di dalam air. Liani dan Alfian berdiri di tepi kolam, sambil memberi umpan.


"Kalian suka 'kan mengumpani ikan emas di kolam ini?" Bibi Ijah bertanya, sambil tersenyum.

__ADS_1


Alfian menjawab. "Iya Bibi, udara di sini juga sejuk."


"Liani suka kalau berdua dengan Bibi."


__ADS_2