
Liana mengintip dari balik pohon. "Oh, ternyata ini alasan kamu berubah dengan aku Alfian. Akan aku buat kalian berpisah, cepat atau lambat aku akan merebut semuanya kembali." monolog Liana.
Dia segera menghampiri Alfian dan Liani yang tengah berbincang. "Kamu pintar sekali iya Alfian berbohong. Kamu ternyata diam-diam bertemu dengan dia. Aku tahu, jangan-jangan kamu lebih percaya dengan dia daripada aku." celoteh Liana.
Alfian tidak bergeming, dia tidak habis pikir dengan tingkah Liana. Kenapa tiba-tiba dia muncul disaat yang tidak tepat. Tanpa berpikir panjang, Liana mendorong Liani yang sedang berdiri di sisi danau.
"Aaaa...!" Liani terjatuh ke dalam danau.
"Liani!" panggil Alfian.
Alfian tahu Liani tidak bisa berenang. Dengan raut wajah paniknya, Alfian segera menceburkan diri ke dalam sungai.
"Ah, sial! Alfian benar-benar sudah simpati kepadanya." Liana menggerutu sendiri.
Alfian meraih tubuh Liani, dan membawanya ke pinggir danau. Pepohonan di sana sangat subur, pengunungan yang menjulang tinggi dan airnya yang jernih, membuat danau itu mendapat julukan danau biru.
"Kamu bukan Liani." Alfian menunjuk Liana.
"Aku Liani, kamu harus percaya sama aku." jawab Liana.
__ADS_1
"Aku tidak percaya, Liani tidak sekasar dirimu. Harusnya aku tidak sebodoh itu untuk mempercayaimu." Mengungkapkan rasa sesal dalam hatinya.
"Alfian, aku melakukan ini karena aku sangat kesal padanya. Bagaimana mungkin, aku rela melihat orang lain mengambil semua yang aku miliki." Liana terus membela diri, dan meyakinkan Alfian bahwa dialah Liani yang sebenarnya.
"Mama, Liani pingsan. Tolong bantu aku membawanya ke dalam."
Tia membantu Alfian mengangkatnya ke kursi sofa. "Kenapa dia bisa pingsan."
"Aku yang mendorongnya ke danau biru, dia benar-benar tidak tahu malu Tante. Liana ini masih saja mengaku-ngaku sebagai diriku." ucap Liana, tetap terobsesi berada pada posisi Liani.
"Pantasan saja, dia tidak memakai anting-anting yang Tante berikan padamu." Tia langsung memeluk Liana.
Alfian merasa geram. "Melihat dari sikapmu selama ini, semakin membuktikan kalau kamu bukanlah Liani."
"Jaga mulutmu Alfian, dia adalah Liani. Yang ada di sampingmu itu Liana." celoteh Tia.
Liana tersenyum penuh kemenangan, karena sudah berhasil mengambil hati Tia.
"Terserah Mama kalau masih mau mempercayai dia, yang jelas Mama akan menyesal suatu hari nanti." Alfian malas berdebat lebih panjang, segera dia pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"Liani! Liani!" Terdengar suara sorakan saat bola basket akan masuk ke gawang.
Liana sudah latihan sebelum waktu pertandingan tiba, saat pertandingan dimulai maka semuanya sudah lancar. SMP Harapan Cemerlang tengah mengadakan perlombaan dengan SMP Bintang Gemerlap di mana tempat Liani sekarang menggantikan peran Liana. Namun, siapa sangka mereka akan dipertemukan di sini. Liani mengikuti perlombaan membaca Alqur'an namun sebagai nama Liana.
"Aneh sekali iya, kenapa Liani menjadi bertindak konyol dan lihai bermain bola basket."
"Iya, bahkan dia itu kasar sekali loh. Apa itu Liani jelmaan?" Tersenyum mengejek.
Lawan bicaranya hanya mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak suka melihatnya, bahkan muak ingin memasukkan wajahnya ke dalam lumpur."
"Lain kali kita balas dia, sekarang biarin saja itu dia sok-sokan." jawabnya.
Siswa dan Siswi SMP Harapan Cemerlang merasa tidak suka dengan sikap Liani yang sekarang karena berbeda 180 derajat. Dia juga suka bersikap semena-mena terhadap temannya, seperti yang sekarang dia lakukan. Jelas saja, karena itu adalah sikap Liana.
Liana mengusap peluh di leher dan dahinya. "Hei awas, aku mau duduk!" Berteriak pada teman-temannya. Sungguh tidak ada sopan dan santun.
"Eh asal kamu tahu iya Liani, kami yang lebih dulu duduk di kursi penonton ini. Kamu tidak berhak untuk mengusir kami."
"Dasar manusia sialan. Iblis Gila!" umpat Liana.
__ADS_1
Siswi yang tidak terima dengan Liana langsung menarik jilbab Liana. Dia tidak mau kalah, dan membalas dengan menarik rambut keriting gantung siswi itu.