
Zeylo dan Dhilo mengganggu Liani, yang sedang duduk di atas motor. Dia menunggu Liuqy, yang sedang sibuk berkaca.
"Hai Liani, yang sok suci. Kamu itu sebenarnya pencuri 'kan?" Zeylo melotot ke arahnya.
"Siapa yang kamu bilang pencuri, dia itu perempuan baik-baik." Liuqy tiba-tiba muncul, sengaja membela temannya.
"Memang dia pencuri 'kan? Sudahlah, jangan munafik kamu." Dhilo menyudutkannya.
"Tidak, dia bukan perempuan seperti itu. Sebenarnya, aku yang telah mencuri dompet Ibu guru. Demi dia menutupi aib temannya, makanya mengakui hal yang tidak dilakukannya." jawab Liuqy.
Dhilo dan Zeylo hendak mencolek pipi Liani, namun dihindari olehnya. Mereka menarik paksa pundak Liani, padahal perempuan tersebut meronta-ronta. Alfian yang tidak sengaja melihatnya, langsung memberikan serangan dorongan kuat.
"Jauhi dia!" ucap Alfian.
"Woow... ada pahlawan kesiangan." jawabnya.
"Ini bukan soal pahlawan kesiangan atau tidak. Namun, sifat kurang ajar terhadap perempuan sungguh membuat kalian terlihat rendah." Alfian berucap dengan tegas.
"Oh gitu, maafin kami." jawab Zeylo tidak serius. Wajah masih terlihat mengolok-olok, cengengesan tidak jelas.
__ADS_1
"Pinjam sebentar boleh 'kan, untuk dipeluk. Anggap saja, ini sebagai pertama mencicipi." Dhilo sengaja memancing emosi, agar Alfian meladeni mereka.
"Jaga iya ucapan kalian, jangan sembarangan bicara dengan perempuan."
"Banyak gaya lu!" Zeylo meninju pipi Alfian hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.
Liani berusaha melerai, karena tidak ingin terjadi keributan. Zeylo malah menarik Liani, dan ingin menciumnya secara paksa.
Bugh!
Alfian meninju Zeylo, hingga dia gagal melakukan hal tersebut. Zeylo dibantu berdiri oleh Regart, yang tiba-tiba muncul. Alfian yang membela Liani, malah bertengkar dengan Regart. Mata keduanya sudah beradu, dengan tatapan yang tajam.
"Dia yang mulai Regart, kamu lihat aku terluka." ujar Zeylo.
Regart meninju Alfian, sampai datang ibu Domiko. Dia marah besar, karena bertinju antar teman satu sekolahan.
"Kalian ini, membuat onar di parkiran sekolah." ujarnya.
"Dia meninju saya duluan Bu." jawab Alfian.
__ADS_1
"Dia ikut campur dengan hal yang ingin saya lakukan." sahut Zeylo.
"Benar Bu, Adik kelas harus punya rasa segan juga." timpal Dhilo.
"Kalian jangan bertele-tele lagi, mengaku saja. Jangan membuat rumit urusan, dengan sifat kalian ini." Alfian melihat ke arah mereka dengan tatapan pasti.
Ibu Domiko melihat ke arah Alfian. "Benar yang dikatakan oleh mereka?"
"Tidak Bu, saya tidak mengganggu duluan. Tapi, mereka yang memulai melecehkan Liani temanku." jawab Alfian.
"Ibu tidak mau tahu, biar adil semuanya dihukum." Ibu Domiko mempertegas keputusannya.
"Baik Bu." jawab Alfian, yang akhirnya menurut saja.
Alfian dihukum berlari di tengah lapangan, padahal tidak bersalah dalam hal ini. Tapi biarlah, dia malas berdebat lebih panjang lagi. Akhirnya memilih mengalah saja, meski bukan dia yang memulai perkara.
"Cukuplah Allah (menjadi Penolong) bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung. Seperti yang diterangkan dalam QS. Ali’Imran ayat 173." Alfian bergumam-gumam lirih, sambil terus mengitari lapangan.
"Jeylo, Dhilo, kalian cepat sedikit berlari. Belum sampai hitungan seratus sudah tidak bertenaga. Jadi laki-laki jangan lemah, kalian itu calon tulang punggung." Ibu Domiko mengingatkan.
__ADS_1
"Iya Bu." jawab semuanya.
Jambu kristal telah disiapkan Liani, sebagai ucapan terima kasih. Alfian telah rela berkorban, meski dengan hukuman berat.