
Keesokan harinya.
"Aaaa...!" teriak Liana, dia memberantaki kamarnya sendiri dengan melemparkan semua barang-barang. "Aku benci dengan kehadiranmu Liani, aku pasti akan menyingkirkan mu. Jangan merasa menang dulu karena kembali ke posisi itu."
Liana keluar dari kamarnya, celingak-celinguk tidak tentu arah. Dia mengambil minyak sayur dari dapur, dan menuangkannya di anak tangga. Berharap Liani lewat dan dia terpeleset. Segera saja berlari kencang setelah selesai dengan aksi jahatnya.
Bibi Ijah hendak berjalan turun sambil membawa keranjang baju kotor. Dan tiba-tiba Liani memanggilnya.
"Bibi!" seru Liani.
"Iya nona, ada apa?"
"Aku rindu dengan bibi, sudah lama tidak berjumpa." Tersenyum merekah.
Bibi Ijah membalas senyuman Liani. "Bibi yakin, kalau nona adalah Liani. Bibi juga rindu." jawabnya, dengan jujur.
"Aku mau ke kamar dulu iya bibi. Mau membereskan kamar aku yang baru." Liani menunduk dan berlalu.
Bibi Ijah mengangguk. Dan dia segera menuruni tangga. Namun langkah selanjutnya malah dia terpeleset.
__ADS_1
"Aaaa...!" teriak bibi Ijah, badannya terus bergulir pada anak tangga.
"Bugh!" Kepalanya membentur lantai, hingga mengeluarkan darah.
"Sial, kenapa harus bibi Ijah yang terjatuh. Kenapa bukan Liani saja. Ini bukan hari keberuntungan untukku, dasar iblis gila!" Gumam Liana penuh umpatan.
Dia segera beranjak dari duduknya, melemparkan majalah yang dipegangnya. Segera meninggalkan ruangan itu tanpa berniat menolong.
"Bibi!" teriak Liani, dia segera menuruni tangga dengan pelan-pelan.
Bibi Ijah dibawa ke rumah sakit. Sopir mobil di rumah Liani yang mengantarnya pergi, mbok Inem ikut juga.
Di rumah Alfian, tepatnya ruang tamu.
"Kamu tenang saja iya sayang. Tante lebih suka sama kamu daripada dia. Walau pun wajahnya kembar, dia tidak seasyik kamu. Diajak berbelanja seru, ngobrol juga seru. Tante sudah nyaman sekali sama kamu."
Liana memang pintar mencuri perhatian Tia mamanya Alfian. Berbagai macam cara dia lakukan, supaya bisa dekat dengan mamanya. Seperti yang sekarang ini dilakukannya.
"Tante, aku bawain soto terenak loh." ujarnya penuh semangat. Memperlihatkan bungkusan plastik putih.
__ADS_1
Tia langsung sumringah. "Tante ingin memakannya bersamamu. Nanti kita akan mengumpan ikan, di kolam belakang bersama."
"Iya Tante."
Ikan-ikan saling bersahutan. Berebut umpan yang Liana lempar ke kolam. Tia dan Liana tertawa bersama. Tia dapat melihat anting Liana bersinar karena terkena matahari.
"Kamu cantik sekali sayang." Tia menyuapkan satu sendok makanan berkuah itu ke mulutnya.
Liana menikmati soto dan terus mengunyah "Hmmm, terima kasih Tante." Bibirnya sudah mengembang, tanda iya tengah senang.
"Tante ingin Alfian bertunangan dengan kamu, kalau kelas tiga SMA nanti."
"Iya Tante, bahkan aku juga menyayanginya. Tidak sabar lagi untuk mendapatkan perasaan kasih sayangnya."
"Masih kecil sekarang, besok saja kalau kamu sudah SMA."
Liana mengacungkan dua jempolnya. Dia mengambil air putih di atas meja, lalu menegukkannya ke dalam mulut.
”Aku tidak akan menyerah, untuk menyingkirkan kamu Liani. Bahkan jika kamu harus mati pun itu lebih baik.” Sudah tersenyum, sarang kejahatan yang ada dipikirannya sudah diobrak-abrik. Dia keluarkan dan berusaha dicoba satu persatu.
__ADS_1
"Liani, Tante ingin sekali membeli tas branded model terbaru. Sebal sekali, jika ada yang sengaja pamer." curhat Tia.
"Benar Tante, kita harus hidup dengan gaya yang modern. Kalau ada waktu, aku temani membelinya." jawab Liana.