Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Lain Di Mulut Lain Di Hati


__ADS_3

Liana dan Liani menari bersama, lalu keduanya tertawa lirih. Liani tidak percaya sepenuhnya, hanya mengikuti permainan yang Liana lakukan.


"Eh, aku sudah lapar. Ayo kita makan cemilan." ajak Liana.


"Iya, ayo heheh." jawab Liani.


"Kamu suka cemilan apa." ucap Liana.


"Pilus Garuda jumbo." jawab Liani.


"Bagus, kalian akur Papa senang." ujar Rahman.


"Iya Pa, harus dong." jawab Liana.


Liani melihat Rahman yang beranjak dari duduknya, menuju ke dapur. Liana sengaja diam, tidak membuat ulah. Sekarang ada bibi Ijah dan Mbok Inem yang diajak Liani duduk bersama. Keduanya ikut makan, karena ditawari oleh tuan rumah.


"Mbok capek iya, biar Liana pijat iya." Liana menawarinya, namun tidak tulus.


"Terima kasih Liana." jawab Mbok Inem.


Dengan rasa malas Liana memijat pundak Mbok Inem. Liana mengeluarkan sumpah serapah di dalam hati untuk Liani.


Liana mabuk saat malam Hari, sengaja melampiaskan kesal di bar. Dia menuang air alkohol ke dalam gelas, lalu disambar tangan Regart. Liana sibuk merebutnya, sambil membentak ke arah lawan bicara.

__ADS_1


"Jangan minum lagi, kamu sudah mabuk. Nanti susah membawa kendaraan sendiri." ucap Regart.


"Apaan si kamu, jangan mengaturku." jawab Liana.


"Aku mau menjemput adikku, lalu tidak sengaja melihatmu." ujar Regart.


"Tidak peduli, bukan urusanku." jawabnya, dengan acuh.


Siswa dan siswi disuruh membuat tape ketan, Liana dan Alfian terpilih kerja kelompok bersama. Banyak yang bilang cie berulang kali, saat mereka berdua berdekatan. Malika dan Melisa sengaja jadi Mak Comblang.


"Eh, terima kasih untuk saran darimu. Dengan begitu, aku bisa berbaikan dengan Liani." ucap Liana.


"Iya, jangan sungkan. Melihat kalian bisa akur aku ikut senang, apalagi kalian saudara kembar yang terpisah sangat lama." jawab Alfian.


"Liani, semoga Allah membalas kamu dengan kebaikan." ucap Yoehun.


"Iya Yoehun, terima kasih atas doanya." jawab Liani.


"Iya sama-sama." ujar Yoehun.


Liani berjalan keluar kelas, saat jam istirahat tiba. Nhiky dan Liuqy memberitahu Liana, tentang niat jahat yang direncanakan olehnya.


"Tidak mungkin, orang sejahat dia bertaubat. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan." ujar Nhiky.

__ADS_1


"Benar si yang kamu bilang, pasti ada niat terselubung." timpal Liuqy.


"Kita ikuti saja permainannya, jangan langsung menuduh namun waspada saja. jelas Liani.


Pak Chandra menyuruh siswa dan siswi kelas sepuluh, untuk mengumpulkan tugas ukiran pohon jati. Namun, tidak terlalu menggesa-gesa.


"Oh iya, Bapak ingin kalian mengumpulkan dengan cepat. Namun bukan memaksa jika tidak bisa, tapi yang lebih dulu nilainya tinggi." ujar Yoehun.


"Iya Pak." jawab Liani.


Setelah semuanya pergi, ibu Domiko lewat. Dia hendak mengajar ke kelas lain, Liani tersenyum lalu menundukkan kepala. Ibu Domiko tidak menyukainya, karena kesan pertama dalam hati Liani penuh pencitraan. Dia terlihat baik, namun baru kenal sudah berani mencuri.


Nhiky menyenggol lengan Liani. "Ibu Domiko kok tidak membalas senyuman kamu. Dia malah membuang muka begitu saja."


"Sudahlah, tidak apa-apa." jawab Liani.


"Liani, ini tidak adil untukmu." ujar Liuqy.


"Iya, sebenarnya aku yang mencuri. Harusnya si aku yang dihukum." Nhiky tertunduk lesu.


"Kamu buat klarifikasi dong, jangan diam saja." Liuqy sedikit sebal.


"Sudahlah, tidak penting penilaian manusia." jawab Liani, sengaja menyudahi perdebatan.

__ADS_1


__ADS_2