MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
1. Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Menikah turun ranjang?


Dengan adik iparku sendiri? Safira??


"Kau tidak pernah mendengar istilah semacam itu?"


Mana mungkin tidak pernah dengar? Ya pernah lah.


"Kau pasti sudah pernah tau tentang istilah itu, Har. Seorang pria ditinggal mati istrinya kemudian menikahi adik perempuan istrinya."


"Hari, almarhumah istrimu Ranti memiliki 3 orang adik perempuan dan ketiga-tiganya kebetulan masih single. Lidia sudah punya tunangan, tapi masih belum tau kapan dia dan kekasihnya akan menikah. Tinggal 2 lainnya Evita dan Safira, murni masih jomblo alias belum punya pacar sama sekali.


Itu yang pernah dijelaskan adik bungsu mereka Alfonso ke mama sewaktu mama iseng menanyainya tentang pacar-pacar Safira atau Evita sebelum kami memulai rembukan tentang ini."


"Hmm..." gumamku, lalu menganggukkan kepala tanda mengerti.


Mama melempar pandang ke arah orang di dekatnya sebelum kembali melihat padaku di seberang duduk beliau, meneruskan lagi bicara setelah dirasa yang lain belum ingin menyela.


"Evita sangat sulit diharapkan karena semua orang tau betul karakter dan sifatnya yangg...hobi bertualang dan berjiwa bebas. Sementara Safira...," sejenak mama tersenyum padaku untuk mendukung kata-kata yang hendak diucapkan, "...Safira itu gadis yang manis, lembut, dan ramah. Orang rumahan. Tidak terlalu macam-macam sebagai anak. Dan juga penurut... Sangat bertolak belakang dengan sifat kakak diatasnya itu."


Dirasa masih juga belum ada yang hendak bersuara mengeluarkan pendapat dan aku juga masih belum kepingin berkata-kata, karena lebih ingin menyimak dulu saja mama yang kelihatannya sangat bersemangat membahas adik iparku, beliau kemudian meneruskan lagi kata-katanya,


"Jadi mama pikir jika Safira yang kami coba jodohkan denganmu, itu adalah sebuah pilihan yang tepat, Hari. Apalagi selama ini ketiga anakmu si kembar dan Yuan sudah cukup dekat dan akrab dengannya."


Papa, mama, om Simon, om Dante dan seorang famili kami yang tak kukenal, memandang ke arahku dengan sirat pandang sama, penuh harap.


Tapi bagaimana mungkin aku harus dengan Safira?


Dia adik bungsu perempuan almarhumah istriku Ranti. Usianya masih sangat muda, 10 tahun lebih muda dari usia 37ku. Sementara Lidia 33, Evita 29 dan jika Ranti masih hidup, bulan ini ia sudah genap 36 tahun.


Hubunganku dengan ke 3 adik ipar perempuanku ini dan juga si bungsu Alfonso yang berusia 23 tahun memang lumayan baik, meski tidak begitu akrab.

__ADS_1


Akrab, dalam artian mereka bagiku sudah seperti adik kandung sendiri.


Tapi dibanding hubunganku ke Safira, kurasa aku lebih sreg berkakak-adik ipar dengan Lidia.


Gadis itu lebih sering datang berkunjung ke rumahku dengan kadang ditemani sang pacar. Dan aku baru ini mengetahui kalau Lidia dan kekasihnya itu sudah bertunangan.


Adapun dengan Evita, oh jelas, gadis itu 1000 % bukan tipeku. Sangat pendiam dan tertutup. Tidak memiliki aura keibuan, dan hobinya menghilang dari keramaian alias, tidak begitu suka bergabung di tengah keluarga.


Kabar terakhir yang kudengar menyebut Evita sedang memiliki hobi baru : pergi mendaki gunung dan sudah bergabung dengan sebuah klub Pecinta Alam.


Sangat berjiwa bebas, sangatt...


Evita.


Kalau tidak salah, nama lengkapnya Evita Purnama Sari.


Ia bukan tergolong wanita yang bisa diharapkan menjadi seorang ibu tiri tapi sesungguhnya, sejujurnya, gadis ini jauh lebih cantik bila dibandingkan...maaf Ranti, dibandingkan dengan mendiang istriku sendiri atau Lidia, bahkan Safira.


"Ma..." aku meneguk air ludah, mengusahakan bicara 'baik-baik' pada mama, yakni serius dan lebih menekankan, "Safira itu..sangat jauh dibawah umurku... Bukan itu saja, aku dan ketiga adik ipar perempuanku ituu...ach, pokoknya tidak lah. Aku tak bisa membayangkan aku menikahi salah satu adik dari istriku sendiri--"


"Lho, apa susahnya dibayangkan?" tanggap mama cepat. "Safira bukan orang asing lagi bagimu. Dia itu adik almarhumah istrimu. Sedikit banyak ya tentulah kau sudah langsung bisa membayangkannya, mendapat istri baru yang tidak perlu repot-repot lagi untuk kau pelajari seperti apa orangnya...


Sedikit banyak, gambarannya bisa kau bayangkan dengan membayangkan Ranti... Paling tidak, 2 orang kakak beradik tidak begitu memiliki banyak perbedaan di wajah maupun karakter."


Padahal mama sendiri tadi yang menyebut karakter 2 bersaudara antara Safira-Evita sangat bertolak belakang... 'safira... sangat bertolak belakang dengan sifat kakak diatasnya itu...'


Kali ini papa mengambil giliran buka suara, menekuri orang di sekitarnya satu persatu sebelum menujukan bicara padaku.


"Kalau tentang umur," ucap beliau melambat-lambatkan pengucapannya, "papa pikir usia 27 dengan 37 hanyalah 2 buah angka yang tidak berarti banyak. Diperbedaan itu maksudku. Ngga usah kita lihat jauh-jauh, kakek dan nenekmu Har, orangtua mamamu ini, punya perbedaan usia hampir 16 tahun. Kau masih ingat tentang ini kan? Tapi kau bisa lihat sendiri, sampai sekarang mereka berdua masih hidup rukun dan bahagia meskipun kakekmu sekarang sudah hampir 90 tahun. Malah sekarang nenekmu makin merasa sayang dan cinta pada beliau."


Itu memang benar. Aku tau betul perihal keromantismean orangtua mama ini. Jelang usia 90 tahun yang tinggal 2 bulan lagi, kakek bagai sedang dalam masa puber kedua saja, puber kedua justru terhadap istrinya sendiri.

__ADS_1


Bermanja-manja, bermesra-mesra disela gurau dan senda, memperlakukan nenek penuh cinta dan kasih sayang dalam kesabaran dari sifat kebapakan kakek yang khas. Bagai sedang menjalin kasih a la dimasa muda dulu. Didukung oleh raga kakek yang masih segar, gagah dan enerjik biarpun sudah berusia sangat lanjut, dan jiwa beliau yang selalu mengawet-muda.


Timbal balik. Nenek pun seperti itu terhadap kakek.


Akan tetapi, tidak setiap orang bisa memiliki keyakinan yang sama dalam menganggap tak masalah si faktor beda usia itu. Aku salah satu yang tak memiliki keyakinan ini. Tak cukup menyukai akan fakta bahwa aku harus bersiap diri memiliki calon istri yang...masih harus 'kumomong'?


Tidak-tidak-tidak. Beda usia 10 tahun itu bagiku sangat 'mengerikan'


"Ma, pa, aku sama sekali tidak akan menolak bila harus dijodohkan dengan seseorang demi ke 3 anakku. Tapi kalau Safira yang kalian jodohkan denganku...apa tidak lebih baik kalian menunggu sebentar lagi saja sampai aku menemukan sendiri wanita lain untuk kujadikan calon istri?"


"Memangnya kau saat ini sedang mencarinya, Hari?"


"Tidak, om Dante. Belum."


"Apa sekarang kau sedang menyukai seseorang, Har?


"Belum ada, ma. Aku masih belum terfikirkan untuk mulai menyukai seseorang. Wanita lain. Aku masih begitu sibuk dengan pekerjaanku dann...jujur aku juga masih sering terfikirkan Ranti."


"Ranti sudah selesai dalam kehidupanmu, Hari," tukas om Simon tandas. "Ranti sudah menjadi masa lalu bagimu."


Ha?


Oh pedihnya ditegaskan semacam itu.


"Iya sih, om," anggukku mau tak mau pura-pura setuju saja, walau dalam hati aku sudah ingin menyeru keras BELUM. Belum. Sama sekali belum berakhir. Atau mungkin tak akan pernah berakhir selama aku masih memiliki nafas dalam hidup ini.


Mendapat angin segar dari caraku meng-iya sih ini, om Simon maju terus mengutarakan kelanjutan pendapatnya.


"Nah itulah, Har. Mungkin ini sudah jadi pertanda bagimu bahwa kau sudah harus melupakan Ranti sekarang dan mencoba mencari wanita lain untuk menggantikannya di hidupmu. Waktunya bagimu untuk memulai hidup baru."


Iya... Oke... Aku bisa paham. Tapi Safira? Duh, yang benar sajaa...

__ADS_1


__ADS_2