
###############
Cuti menikah didapat 3 hari.
Cuti tahunan diambil 3 hari.
Plus mendapat libur akhir pekan Sabtu dan Minggu, jatuhnya menjadi 2x Sabtu 2x Minggu.
Total 2 minggu lamanya tersedia bagi kami untuk dihabiskan dalam masa liburan bulan madu ini.
Bisa saja menghabiskan waktunya dengan bepergian, misalnya berwisata mengunjungi suatu tempat destinasi tertentu. Akan tetapi ternyata, Evita menegaskan menolak berlibur dengan bepergian. Ia tidak mau bepergian kemanapun.
Dipilihnya cukup dirumah saja.
Dirumah saja?
Evita, yang selalu sibuk beraktivitas dan menghabiskan banyak waktu diluar rumah, kali ini menolak bepergian dan memilih dirumah saja?
Seperti bukan Evita. Tapi aku tetap menyepakati. Apapun yang bidadariku inginkan, aku berjanji didalam hati akan berusaha maksimal untuk menyanggupi.
Jadilah kami tidak merencanakan bepergian kemana-mana. Hanya akan menempati rumahku yang sudah dibebaskan dari keberadaan anak-anak, mereka diungsikan sementara kerumah opa dan oma mereka. Rencananya untuk selama masa libur panjang sekolah atau selama kami berdua masih betah berduaan berbulan madu.
Terima kasih tak terhingga untuk kesediaan para orangtua, yang tiada berkesudahan mencurahkan kepedulian pada ketiga putra-putriku.
Dan ya, benar...akhirnya...
Aku dengan Evita, kami berdua pun resmi menikah.
Acara resepsi pernikahan baru saja usai. Atau tepatnya kami berdua yang meng-usaikan diri dengan kembali kerumahku, sementara sisa acara dan keramaiannya masih berlanjut dirumah papa-mama sebagai tempat acara resepsi. Nun beberapa rumah jauhnya didepan sana dari posisi rumahku ini.
Berbicara tentang Bulan Madu, menurut seorang dokter terapis keluarga dari Los Angeles bernama Dr. Chaka McAlpin, seperti dilansir dalam Brides menyebut bahwa :
"Bulan madu merupakan cara yang bagus untuk memperkuat hubungan pasangan pada cinta dan keintiman.
Bulan madu membuat kita akan punya lebih banyak waktu untuk bermesraan dengan pasangan sebelum kembali ke dunia nyata."
Lalu bagaimana dengan bulan madu kami sendiri ini? Apa yang akan terjadi dengannya?
Memang masih akan menjadi sebuah misteri. Satu saja yang sudah jelas sesuai kesepakatan berdua : NO *EX.
No Keintiman atau hubungan suami istri, jelas.
__ADS_1
Tak jadi masalah. Toh aku sendiri yang sudah bersedia bersepakat, jadi kami cuma akan mengambil momen Bermesraan-nya itu saja.
Itupun kalau Evita tidak dengan tiba-tiba menolak juga.
Ach...
Kurang dari kurun waktu 1 tahun hubungan kami berdua telah resmi berubah total. Tanpa pernah diduga sebelumnya, aku dan Evita mendadak berjodoh lalu menikah.
Umum disebut kedalam istilah Menikah Turun Ranjang.
Dan bagaimana rasanya sudah bisa bersama berdua sebagai pasangan menikah suami istri?
Tak terdeskripsikan.
Hanya bisa kusebut terasakan indah, fantastis dan membahagiakan.
Walau resminya baru terjadi 30 menit lalu aku dan Evita memulai, begitu kami pertama kali menjejak kaki memasuki rumahku dengan menyandang status baru itu.
Walaupun pada kenyataannya, status sebagai suami dari seorang istri ini bukan yang pertama bagiku... Sudah sepenuhnya menutup buku untuk yang lama, yang baru didepan mata sedang kujelang bersama Evita. Istriku tercinta.
Didepan mata, istriku tercinta nampak dengan serius menelusurkan pandang dan sapuan ujung jemari menyentuhi permukaan meja rias bercermin tiga didalam kamar tidur kami. Meja rias lama tempat biasa mendiang Ranti disemasa hidup berkutat berdandan pada cerminnya.
Kecuali ranjang, aku mengganti itu tanpa minta persetujuan.
"Aku sangat jarang mengunjungi rumah ini. Bahkan juga kekamar ini..."
"...tak pernah sama sekali." Sambungku sambil melangkah mendekat ke belakang kursi yang baru saja diduduki istriku,
"Selama 5 tahun itu, kunjunganmu bahkan bisa dihitung dengan jari. Tak lebih dari 2x saja setahun. Salah satunya saat kau diundang kakakmu merayakan ulangtahun anak kami yang tidak bisa kau hadiri.
Dan memasuki kamar ini, kau tidak pernah sama sekali. Itu yang sering diberitau mendiang."
Des*han berat nafas Evita menjadi bentuk pergolakan bathin dirinya ini.
Aku tau, ia menyesalinya kini mengapa dulu ia tak meluangkan banyak waktu mengunjungi rumah sang kakak. Ternyata sang kakak harus berlalu sedemikian cepat.
Sementara itu, tak peduli kami adalah sepasang pengantin baru, Evita begitu alami dalam menghadapi diriku, berduaan saja didalam rumah dan terutama didalam kamar tidur ini.
Terlihat dari kehebatannya tidak memperlihatkan tarikan nafas tercekat begitu melihatku dalam cermin, setengah telanjang hanya berbalutkan sebuah handuk besar putih dipinggang. Berdiri pada balik kursinya.
Yang biasanya wanita reaksikan di momen malam pertama mereka, bila menemukan pemandangan pasangannya seperti yang sedang menjadi tampilan diriku saat ini.
__ADS_1
Setelah beberapa saat lalu aku mandi lalu keluar dari kamar mandi, yang berada juga dalam ruang tidur ini.
Benar-benar sudah bisa beradaptasi sepenuhnya terhadapku.
Pengontrolan diri Evita terhadapku yang sesungguhnya sangat menarik hati, membuatku semakin salut mengagumi bagian dari unsur kedewasaannya ini.
Tentu saja, kesan gugup atau grogi ada, namun ia sangat piawai membatasi keluar ke permukaan semua bentuk perasaannya...
Pada cermin dihadapan kami, pemandangan kami berdua sungguh terlihat kontras.
Rambut dan wajahku masih lembab basah sisa air mandian, dan juga pada tubuh hanya tertutupi belitan handuk putih sebatas pinggang hingga lutut, namun Evita masih lengkap dalam balutan riasan wajah dan kebaya pengantinnya.
Hanya konde dan apapun riasan kepala yang sudah dibereskan dirumah mama. Menyisakan rambut panjang yang sudah melewati ketiak dan kembali ia cat hitam ini, kini nampak menggembung sisa penyasakan.
Bentuk yang tak akan hilang sebelum dikeramas.
Tadi ia menyuruhku mandi duluan, rupanya karena ia hendak bertoner lebih dulu didepan cermin meja rias. Ditangannya kini sudah dipersiapkan kapas dan toner yang dibutuhkan.
Sama sekali tak terusik menerima tatapan lekatku padanya dalam cermin begitu ia sudah memulai menyapukan kapas bercairan toner harum ke wajah.
"Kau menghitamkan rambutmu, Evita." Gumamku.
Membalas tatapanku di cermin, Evita mengangguk setelah menghentikan sejenak gerakan tangan memulas kapas.
"Rencananya hanya untuk sementara ini. Nanti akan kuwarnai lagi." Jelas Evita, kembali melanjutkan bertoner.
Aku berdiri rapat dibelakang Evita, hingga keberadaan bahu istriku sejajar dengan pinggulku.
Sebuah pemandangan sensual dalam cernin.
Ditambah kemudian aku mengangkat segenggam rambut Evita dan menebarkannya diperut telanjangku, menggosokkannya memutar...semakin menambah keseksian pemandangan diri kami berdua pada cermin dihadapan.
Barulah Evita memperlihatkan reaksi signifikan...
Menerima dan meresapi perlakuan lembut pada rambutnya oleh tanganku, ia perlahan melemas, kegiatan memulas kapas terhenti dengan kedua tangan diistirahatkan keatas meja rias.
Sesudah rambut itu kuturunkan kembali, kutempelkan permukaan perut telanjangku kebelakang kepalanya, ia pun kian terhanyut oleh persentuhan makin intens. Tanpa sadar memejamkan mata.
Tak memperhatikan, hanya merasakannya saja pada perlakuanku berikutnya...kuletakkan sepasang pegangan tanganku diatas bahu-bahunya.
Tak berlama-lama karena kemudian kedua tangan kugerakkan turun menuju dadanya...
__ADS_1