
"Tosss!" Aku dan Evita melakukan sulang.
Tapi aku tak segera menyentuh Tequila dalam gelas sloki ditangan...karena lebih dulu aku dibuat tertegun melihat Evita dihadapan berdiriku, dengan begitu lugu langsung saja melakukan cara meminum Tequila yang pertama...
Matanya hanya berkonsentrasi serius memandang kebawah, pada cairan berwarna madu dalam sloki yang sudah disesap dibibir. Seolah ia takut tersedak bila mata atau mulutnya itu melakukan gerakan lain. Lalu menyusul, diseruputnya hati-hati cairan 25 ml itu, sampai tuntas habis!
Ia tak sempat menemukanku sejenak memperhatikannya, sampai ia mengernyit sumringah efek lembut, dingin sekaligus samar hangat, dan tegasnya rasa Tequila, diperlihatkannya dengan memandang padaku yang terkesan padanya lantas menyenyuminya.
"Akhh..." Kernyitannya dalam, "Rasa yang asing. Tapi manis. Dalam mulutku bisa tercium bau karamel dan vanilanya. Biasa-biasa saja sih. Kayak meminum apaa ya. Ah pokoknya karamel dan vanila yang manis. Aku susah menggambarkannya. Tidak seperti bir atau cola sama sekali." Ia menjelaskan sendiri tanpa kuminta.
"Tidak bikin kau 'eneq, mual?" Tanyaku penuh perhatian. Evita menggeleng. Lalu terkejut dengan terlambat melihat sloki yang kupegang depan perut masih penuh.
"Lho, bang Hari tidak minum?"
"Minum minum. Aku tadi sengaja melihatmu dulu meminum bagianmu."
"Ooo..."
"Lihat...sudah kuhabiskan sekarang."
"Iya. Jadi begini rupanya meminum Tequila itu, bang Hari. Nyaris tidak istimewa."
Dan nyaris juga kutimpali dengan mengatakan Tequila di negeri asalnya Meksiko memang tidak lagi istimewa. Karena sekarang minuman ini cenderung lebih banyak dikonsumsi oleh para kuli-kuli bangunan saja.
Di Indonesia, tetap saja ini sejajar Sampanye, Wine, Anggur Merah, Vodka, Rum, bahkan Sake sebagai jenis minuman beralkohol tergolong berkelas atas.
"Jadi kesimpulan gelas pertama ini?" Tanyaku kemudian pada istriku.
"Ya seperti yang kukatakan tadi itu."
"Maksudku, tidak membuatmu berminat ke gelas yang ke --"
"Lanjut. Cara kedua."
Ouch...
Istriku belum memperlihatkan perubahan berarti. Ia benar-benar sebiasa-biasa Tequila seperti yang dikatakannya tadi. Oke, ini toh baru permulaan. Ronde pertama.
Yang penting sekarang, kasarnya, ia sudah mau meneruskan lagi meminum Tequilanya pada sloki kedua.
"Oke. Sloki yang kedua." Kerdip sebelah mataku pada Evita.
"Sloki kedua!" Angguknya mantap.
Untunglah diam-diam aku sudah lebih dulu melakukan persiapan matang bagi diriku sendiri.
Pencegahan mabuk alkohol telah lebih dulu kulakukan dengan meminum banyak-banyak susu sejak siang. Jumlah banyaknya itu sama sekali tak diketahui Evita.
Juga mengkonsumsi beberapa telur dan vitamin B kompleks yang kesemuanya ini sebenarnya adalah pencegah ampuh bagi kita yang tak ingin mudah mengalami mabuk alkohol.
Jadi pada gelas Tequila ke 2 ini, sudah bisa dipastikan aku masih akan bisa berpikir 'waras' meskipun nanti dikepala mulai terasa sedikit kliyengan.
Untuk gelas ke 3, ke 4 pun rasanya masih akan sanggup bertahan...Tapi entahlah bila lebih dari itu.
Kebetulan, ya kebetulan, sepanjang hari ini Evita sama sekali tak melakukan apapun seperti apa yang kulakukan. Ia tanpa berkomentar membiarkanku merebus 1/2 kg telur, tanpa sedikitpun menaruh rasa curiga melihat telur yang sudah matang kemudian kuhabiskan beberapa.
Dan ia tidak juga mengetahui, suplemen vitamin B Kompleks sebagai penyempurna itu pun diam-diam tak ketinggalan kukonsumsi.
"Ready, Vita?"
"Ya. Dilontarkan sekaligus?"
__ADS_1
"Dilontarkan sekaligus. Dan aku juga akan menghabiskan isi gelasku yang kedua ini."
"Kita bersama-sama saja, bang?"
"Setuju 100%. Oke. Kau ikuti aba-abaku. Siap? Satu, dua...tiga!"
Hahaha...kami berdua seperti anak kecil saja. Melakukan tenggakan Tequila kedua dengan melontarkan cairannya sekaligus kedalam mulut, seperti aku melemparkan kasar sebuah pil kedalam mulut saat mau minum obat. Lalu aku dan Evita melepas tawa bersamaan.
Sloki kedua selesai dengan sempurna. Ronde kedua, sukses.
Sekarang, fokus ke Evita...
Menit-menit bergulir, ia masih perkasa. Sampai-sampai aku sedikit gentar, jangan-jangan istriku ini tidak bisa mabuk alkohol? Kebal terhadap alkohol?
Rileks, Hari Pratama. Baru hitungan menit. Tunggu lagi dalam 1 jam ini.
"Bagaimana, sayang?"
Jangan sampai aku yang terkapar duluan...
Sambil masih menghilangkan efek kernyitan, Evita menggeleng-gelengkan kepala. Fokusnya masih normal dalam memandang padaku. Parasnya pun masih segar dan fresh. Tambah terlihat cantik. Mulai sedikit merona sebenarnya. Ia menelan air ludah,
"Very fine i guess. Kenapa seolah seperti sedang minum air putih saja ya, bang? Tidak ada sensasi signifikan."
Aku tidak yakin Evita berkata bersungguh-sungguh atau sedang meledekku.
Fine, sayang, aku masih akan sabar menunggu.
"Kalau begitu, kau pastinya siap untuk yang ketiga?" Maksud hati ingin memancing agar ia tidak langsung merasa bosan lalu sudahan.
"Beres. Siap. Tapii...istirahat dulu sebentar?"
Maka aku harus membuai Evita. Melewatkan waktu. Aku harus membuatnya tetap berdiri agar...agar apa sebenarnya? Agar cepat kehilangan fokus atau energi?
Ia maju karena dapat menangkap maksudku, menyurukkan kedua lengan kesela ketiakku lalu memelukkan kedua tangannya itu keseputar tubuhku.
Hangat dan erat, mesra dan romantis, melabuhkan kepala disela leher dan pundak kananku...
Oke Hari, kalau akhirnya kau gagal dan kalah, kau harus melupakan ini semua.
Sambil saling mendekap, aku menggerakkan lambat-lambat kami berdua melakukan dansa kecil.
Tekanan sepanjang tubuh atas Evita berbalut mini dress dan jubah satin ungu ke bagian tubuhku sendiri sungguh terasakan nikmat. Pertahanan kontrol diri ini sepertinya mulai dan sedang terancam.
"Aku benar-benar sangat cinta padamu, Evita."
"He eh. Aku tau. Aku juga. Sangat sangat sangat."
"Sejak...kapan?"
"Ha? Mm...sejak kapan ya?"
"Sudah lama?"
"Bang Hari sendiri?"
"Sepertinya aku jatuh cinta padamu saat kau muncul...dengan moge itu."
"Ohh..."
"Kau membuatku terpesona. Aku merasakan ingin segera saja saat itu juga mengajakmu menikah."
__ADS_1
"Hah?"
"Tepat kau mulai menapak memasuki pintu rumahmu itu, aku sudah ingin...menarikmu. Meninggalkan bicara ibumu untuk bicara denganku detik itu juga."
"Bang Hariii..."
"Kau bahagia bisa menikah denganku?"
"Sangat. Susah dilukiskan."
"Aku juga."
"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa, tapi nantinya aku akan selalu berusaha. Aku tidak mau diragukan lagi dan disebut sebagai seorang istri yang nyeleneh."
"Hahaha...mereka tak tau apa-apa tentangmu."
"Bagaimana dengan bang Hari sendiri?"
"Kurasa sekarang akulah yang paling tau tentangmu. Bahkan mengalahkan yang diketahui oleh orangtuamu sekalipun."
"Itu benar."
"Benar?"
"Ya. Tepat. Sekarang cuma bang Hari saja seorang yang lebih tau tentang aku."
"Ohh..."
"I love you. Forever and ever. Apapun yang terjadi padaku, tolong...bang Hari jangan pernah tinggalkan aku."
"Evita..."
"Achh...sudah cukup istirahatnya. Sloki ketiga sudah menunggu. Ayo, lanjut lagi!"
Membuka, lalu segera menarik diri...membangun benteng lagi.
"Oke."
"Bang Hari belum juga merasakan apapun?"
"Sepertinya sama sepertimu. Masih biasa-biasa saja."
"Kalau begitu, ayo minum terus. Sampai mabuk. Aku penasaran. Mulai tertantang."
O my goodnessss...
Hari, persiapkan dirimu. Di puncak gunung waktu itu kau kandas di sloki ke 3. Atau sebenarnya ke 4? Jangan bohongi dirimu sendiri. Ke 3 !
"Kau yakin, Evita?"
"Maksudnya?"
"Ma-maksudku..."
"Itu semua tadi jumlahnya tak seberapa, bang Hariii... I'm still fine. Gonna be fine. Ayo, sloki ke 3."
Tanpa kami berdua sadari rupanya sembari berayun-ayun dalam melangkah berpelukan tadi, kami sudah bergerak menjauhi depan tivi dan sekarang tiba dihadapan lemari pakaian.
Tarikan tapi dalam pegangan lembut tangan kiri Evita pada pergelangan tanganku benar-benar sebuah pertanda ia masih 'normal'.
Terlihat dari ia tak sempoyongan, tak tersandung kakinya sendiri, tak meneleng-nelengkan kepala saat setengah menyeretku ia mengembalikan kami ke dekat meja depan lemari kabinet.
__ADS_1