MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
22. Di Pinggir Pantai Berpasir Ancol...


__ADS_3

Baru saja mobilku menggulir maju melewati gapura gerbang perumahan, belum lagi hidungnya menyentuh bibir jalan raya besar, segera kuinjak pedal rem hingga kendaraan ini pun terhenti...


Berhenti karena dari jendela depan mobil, mataku menyapu sebentuk mahluk wanita familiar telah berdiri di tepi jalan seberang sana.


Di bawah naungan sebuah pohon besar rindang penghias jalan, tegak diam dalam keminiman sinar kuning penerangan pada sekitar.


Evita.


Mencoba sejenak menegaskan penglihatan, kubiarkan pandanganku lekat-lekat merayapinya...


Ia menyadari itu tapi tak memberikan reaksi, hanya terus saja memandang kearahku.


Sepertinya menunggu aku yang datang menghampiri karena ia bergeming di tempat ia berdiri. Tanpa pula beralih dari melihatiku dalam jarak terpisah 5 meteran ini.


Koq kebetulan sekali dia bisa terlihat olehku? Kenapa bisa kebetulan sekali ia berada disana, mengetahui bahwa aku akan melewati area ini di jam 6.35 beranjak gelap oleh malam ini?


Tanpa stelan seragam kerja, melainkan berkemeja flanel kotak-kotak merah hitam, bawahan jins hitam pas kaki.


Rambut kecoklatannya terkuncir persis dipuncak kepala. Seperti biasa terlihat cantik menarik, tapi bukan dalam tampilan sepulang kerja walau hari ini masih Kamis hari kerja. Atau mungkin pergi bekerja tapi lebih dulu bertukar pakaian sebelum datang kesini.


Baiklah, aku datang, Evita...tunggu sebentar aku mau parkir dulu.


Dan Hari, lupakan dulu janji bermain tenismu. Tak ada yang lebih penting dari mendatanginya meski kau tau betul klienmu nanti akan sewot, mengomentari sebal keingkaranmu pada janjian kalian itu. Ok?


Untuk sebuah kemungkinan yang terpikirkan olehku, mungkin Evita sudah menemukan waktu yang tepat melanjutkan pembicaraan yakni di sore ini juga. Dan sebuah kemungkinan lain menyertai, mungkin mama yang telah dihubungi gadis itu, menanyakan keberadaanku lalu pas betul pula momennya ia menemukanku disini.


Maka disertai pengawasan pandangan mata Evita, kuparkirkan mobil sport putih Honda C*-Z-ku didepan gerbang sebuah gedung Bimbel persis diseberang gadis itu berada.


Setelah yakin cukup aman menempatkan kendaraan disitu, bersama anggukan tanda setuju dari bapak pemilik warung depan Bimbel, lantas aku mengangguk kecil pada beliau sebelum berlalu dari hadapannya.


Dirambahi debaran sedikit lebih cepat... tanpa sadar kuseka rambut kebelakang sambil meniupkan nafas. Gerak gerik khas seseorang yang didalam dada tengah menggejolak.


Satu saja hal utama didalam benak ini disertai debar-debaran itu : aku harus bicara dengan gadis itu sekarang juga. Kalau ia masih juga enggan, aku akan terus mengupayakan. Demi untuk kelancaran pertemuan di Sabtu lusa.


Jadi mau tak mau kalau sudah bertemu begini, ia harus sudah mau melanjutkan pembicaraan tempo hari kami yang ia tunda.

__ADS_1


Kumohon Evita...bicaralah.


Langkahku tiba ditepi jalan raya seberangnya, kupertemukan pandangan kami...


13 hari sudah kami tak ketemuan. Ada rindu dihatinya. Seperti yang sedang kurasakan saat ini terhadapnya. Bahkan sambil aku tengok kiri tengok kanan sebelum menyeberang, hasrat tersirat terpendam itu bisa kurasakan dalam ia melihati pergerakanku yang kian menghampirinya.


Barulah aku menyadari itu...


Bukankah aku sudah pernah memberi kecupan pada pipi Evita?


Juga berbagai ekspresi bagian dari genggaman tanganku padanya?


Ia tidak berkelit atau refleks menghindari. Ia menikmati sesuai alurnya.


Oh goodness, semoga ini pertanda ia bukan termasuk kedalam jenis fobia kedua itu.


"Evita..."


Evita menaikkan pandang menatap wajahku, menentang temaram cahaya.


"Aku mau bicara..." Akhirnya gadis ini mengucap pelan, nyaris dibisikkan. Tatapan itu berpendar. Perasaanku segera dipenuhi kesesakan. Aku sangat mencintai gadis ini. Dadaku sakit oleh cinta...


"Baiklah. Kau mau kita bicara dimana?"


Sebuah tempat yang tenang dan jauh dari keramaian. Agar ia leluasa mengekspresikan keluar apapun yang ingin ia katakan. Agar bisa dihari ini juga ia menentukan sikap karena dari pihakku sendiri, sudah jelas dan fix kunyatakan bahwa aku tak kan berubah pikiran. Tak kan pernah meninggalkannya


"Dimana saja...terserah." Sikap kepasrahan yang sangat menyentuhku. Untuk sesaat aku hanya bisa tergugu bisu sebelum kemudian kuraih lembut pergelangan tangan kanannya. Memberi genggaman erat disana, mengajaknya melangkah, membawa langkah kami berdua menghampiri tepian jalan untuk segera menyeberang...


Apapun, Evita, apapun yang kau ingin katakan, aku akan penuh perhatian mendengarkan.


&&&&&-&&&&&


Bukan sebuah tempat nan romantis sebenarnya. Hanya sebuah tepian pantai dari sebuah perairan lautan diseberang sana. Tapi yakinlah, berbicara disini jauh lebih leluasa.


Hanya debur ombak memecah ke tepian yang akan menjadi pendengar setia kami berdua. Orang-orang di sekitar kami berada? Mereka sedang sibuk sendiri dengan kesenangan masing-masing.

__ADS_1


Pantai Ancol, aku salah seorang dari berjuta Ancollovers itu. Sangat istimewa, aku sangat mencintai lokasi wisata ini, namun hanya Evita seorang dari 4 pacarku yang pernah kubawa kesini. Pacar cinta monyet di SMP, pacar cinta pertamaku di SMA, Ranti istriku, lalu Evita.


Evita tak keberatan mengikuti ke tepian pantai berpasir ini. Tak berapa lama tepat pukul 7.50 malam, alas duduk kami diatas pasir telah tergelar berupa karpet lembut yang baru saja kubeli dalam perjalanan kesini, berikut panganan dan minuman camilan.


Tak kuperdulikan kaus training putih lengan panjang yang masih kukenakan dibadan tak sungguh cocok dengan tempat ini, hanya keberadaan Evita saja disisiku ini yang kuperdulikan.


Kami duduk bersisian di atas pasir pantai beralas karpet biru, Evita menekuk kedua lutut dan meletakkan dagu di atas kedua lengan terlipatnya pada lutut. Menebar pandang ke tengah laut lepas di hadapannya dalam temaram langit malam tanpa bulan, gadis ini membiarkan saja aku di sisi kanan duduknya memberi perhatian pada sisi kanan wajahnya.


"Aku terlambat diberitau kalau Sabtu lusa kita akan berkumpul lagi. Rembukan keluarga lagi." Kalimat pembuka ini tak kurasa perlu berupa basa basi. Langsung saja ke tema inti niatan kami ketemuan disini.


Tanpa melihat padaku Evita menanggapi,


"Aku sudah bilang ke bang Hari kalau ibu memberitau lewat smsnya."


"Ach, iya benar. Jadi?"


"Jadi?" Menoleh padaku dengan hanya memiringkan dagu, Evita membalas pandanganku. Kami berpandangan dekat dan intens.


Walau pantai Ancol gemerlap cahaya lampu terang, bagian tempat kami duduk tak cukup cahaya sehingga justru menjadikan keberadaan Evita terasakan bagai bayang namun pancaran wajah, mata dan senyumnya -ia sedang menyenyumiku- menerangi penglihatanku.


Bibir lembut Evita tak ragu dalam menyenyumiku. Menuntunku mengucapkan kata itu,


"Ayo kita tetap menikah saja, Evita." Bisikku seraya membentuk sikap mengikuti cara duduk dan sikap gadis ini. Bedanya, gadis ini menengok ke kanan dan aku ke kiri. Saling mempertemukan pandangan, saling menyelami perasaan lawan, saling mencoba memulai mengungkapkan.


Sayangnya saja keintensitasan senyuman di bibir gadisku ini perlahan berkurang,


"Aku cuma akan bisa menjadi pengasuh bagi ketiga keponakan saja. Dariku, Bang Hari tak kan mendapatkan apa-apa. Abang tau maksudku ini."


"Bohong kalau kukatakan aku tak menginginkan itu bersamamu. Bohong kalau kusebut diriku tak apa-apa jika itu tak ada diantara kita. Kau tau juga apa maksudku ini... Tapi entah kenapa, aku sepertinya sanggup untuk tak peduli. Masa bodoh, tak peduli, terserahmu saja Evita, begitu secara kasarnya. Yang penting aku tetap jadi menikah denganmu. Hidup berumah tangga denganmu."


Terdiam Evita memandangi pada kedua mataku. Sejak awal gadis ini tak segan seperti itu. Tidak pernah memperlakukanku dengan membuang muka, tertunduk malu-malu, bahkan saat tersipu saja ia melihat aku.


"Bohong kalau kukatakan aku tak mau. Menikah denganmu." ucapnya lembut.


"Kalau begitu," kusentuh bawah bibir Evita dengan sayang, "menikahlah denganku."

__ADS_1


__ADS_2