
"Hmh? Iya. Yang itu. Sudah beres. Sudah bagus sekarang."
"Oo..."
"Motor gede itu milik temanku. Sudah kukembalikan."
"Dia meminjamkan motornya yang berjenis seperti itu padamu dengan tanpa keberatan? Itu bukan jenis motor yang bisa dengan mudah kita pinjam-pinjamkan pada orang lain, dipinjamkan dengan begitu-begitu saja maksudku."
"Kenapa tidak? Dia anak orang kaya. Orangtuanya bahkan baru saja membelikannya Ferari. Karena itu dia rela dan ikhlas meminjamkan mogenya padaku. Karena di saat ini dia sedang eforis. Eforia pada mobil barunya. Sedang malas saja memperdulikan moge-nya."
"Oo...begitu rupanya. Pantas saja."
Kalimat demi kalimat terucapkan pendek-pendek dan tandas saja.
Bukan karena sedang menunjukkan kesan tak bersahabat, hanya karena ia memang berciri seperti itu ; ciri yang kuyakin khusus diperuntukkannya bagiku saat ia sedang berhadapan denganku.
"Tenang saja. Jangan khawatir. Aku ngga minat punya motor semacam itu. Seleraku cuma pada motor-motor jenis matic.
Aku juga ngga ada minat pada hal-hal yang berbau sensasi. Ibuku saja yang terlalu berlebihan. Menilaiku. Seperti ibu tidak pernah muda saja."
"Oma Laras sepertinya lebih mengharapkanmu supayaa...," aku sengaja berhenti, tersenyum dikulum demi melihat paras wajah Evita spontan menyemu. Tanpa meneruskan kata-kataku tadi aku yakin gadis ini sudah tau ke arah mana tujuan bicaraku.
Ia menyeruput cola langsung dibibir gelasnya, sesantai mungkin mencoba tak terpengaruh pada maksud dan tujuan bicaraku.
Oke to the point, sebelum Evita berubah arah haluan kearah bete.
"Jadi apa kau sudah memutuskannya? 10 hari aku mencoba bersabar menunggumu tapi akhirnya di hari ini, aku tak bisa lagi lebih lama menunggu. Dan inilah aku, lebih memilih untuk mendatangimu seperti ini daripada mencoba bertanya lewat orangtuamu atau dengan menelponmu langsung."
Dari atas bibir gelas styrofoam itu Evita menatapku lekat.
Jadi, yah, gadis ini...ternyata seperti inilah cara yang dia pilih untuk menampilkan dirinya di depanku, cara dia menghadapiku.
Sama sekali tidak seperti Lidia atau Safira dengan kesan bebas-lepas, gadis ini seolah memperhitungkan...penuh perhitungan, mengendalikan perasaan, menahan sikap atau bicaranya, tak mengijinkan dirinya itu untuk seceplas-ceplos Lidia atau seblak-blakan Safira.
__ADS_1
Dia yang memang selama ini tidak begitu akrab bahkan mungkin tidak pernah juga berakrab-ria denganku dalam konteks antara adik ipar dengan kakak iparnya...seperti itu jugalah sikap yang sedang Evita perlihatkan d saat ini.
Tidak juga berkeinginan untuk mencoba paling tidak berpura-pura ber 'sok akrab-sok dekat' padaku. Tidak sama sekali. Ia tetap saja seperti itu, seperti sikapnya selama 12 tahun ini dalam berhubungan ipar denganku.
Bikin aku tak urung merasa bagai sedang di pelonco, ditatar dalam sebuah pusat pelatihan. Dia yang sebagai senior dan aku si yunior.
"Penantian 10 hari belum ada apa-apanya dibanding penantian seorang ibu. Yang mengandung anaknya selama 9 bulan 10 hari." Evita mengultimatum, meletakkan kembali gelas cola ditangan ke atas meja. Berpindah perhatian sejenak kearah 2 orang yang baru datang ke meja kosong di sebelah kiri kami sebelum ia melihat lagi padaku, menunggu aku merespon kata-katanya.
Ia mengangkat kedua alis karena aku masih diam dengan hanya melihati pada wajahnya.
Kami berpandangan...
Ia berani mengadu pandang denganku ; menautkan pandangan di mana mata menatap mata, lurus tanpa mengedip. Tanpa perubahan ekspresi, tanpa berniat menyudahi, bertahan untuk beberapa saat.
Aku seperti sedang melihat sosok Ranti istriku di hadapanku...
Pertama kali kami berkenalan Ranti tak ragu dalam menatap kearah wajahku, ke kedalaman mataku. Ranti pun berani mengadu pandang denganku. Tanpa kesan malu-malu kucing atau salah tingkah.
Jiwa seorang calon pengacara. Menjiwai calon profesi yang akan dilakukannya.
Seragam coklat muda tersebut dengan sendirinya mengirim suatu sugesti pada siapa saja yang melihat padanya, untuk lebih menyadari tentang siapa dirinya yang bukanlah seperti wanita kebanyakan, ia seorang wanita terdidik dan terlatih. Sudah melewati ujian demi ujian untuk bisa menjadi seorang CPNS lalu akhirnya diangkat menjadi PNS.
Tersipu, ia tetap tersipu.
Berdebar-debar, aku tau ia sempat merasakan debar begitu melihatku sudah berdiri tegak di emper pos gerbang kantornya tadi.
Bahkan untuk beberapa lama ia tak bisa duduk tenang di kursinya saat menunggu aku yang sedang memesan, berdiri mengantri di muka meja pesanan sebelum bergeser ke meja kasir.
Di saat itu, diam-diam kuperhatikan dirinya... ia melakukan sikap itu; menggembung-gembungkan mulutnya dan menghembuskan nafas perlahan keluar dari sela mulut. Mencoba mengontrol diri 'di balik' punggungku.
Dan sesudahnya, selebihnya, ia tampil di hadapanku dengan seperti ini. Penuh pengendalian diri dan perasaan yang menghasilkan keberanian dan kemantapannya, salah satunya dengan beradu pandang denganku...di saat ini.
"Baiklah." Aku menyerah, mengedip, lalu menjatuhkan punggungku ke sandaran kursi masih dengan pandanganku ke arah wajah Evita. "Aku akan mencoba menunggu jawaban darimu selama 9 bulan 10 hari. Sudah kulewati yang 10 harinya, tersisa 9 bulan lagi."
__ADS_1
Tak menduga akan mendengar kata-kataku yang seperti itu, Evita sesaat tak bisa menutupi keterkejutannya.
Aku menyenyuminya. Menyenyumi gerakan gugup tangannya yang kembali meraih gelas cola itu. Menyeruput isinya sambil ia membuang pandang dariku... Meletakkan gelas ke meja lalu berpikir sejenak.
Wanita lain akan sekadar berpura-pura tertawa mendengar cetusanku tadi.
Wanita yang satu ini malah memutuskan enggan tertawa. Hanya terkejut sesaat lalu berpikir.
Mata indahnya hanya ia pautkan saja di sekitar atas meja. Nanar. Untuk kemudian ia akhirnya kembali mengangkat wajah, memandang lurus padaku, berujar yang anehnya terdengar lirih.
"Aku bukan orang jahat dan tegaan yang meminta bang Hari menunggu jawabanku sampai 9 bulan 10 hari kedepan..."
Tersenyum lagi, aku memajukan tubuh.
Perlahan kuletakkan kedua sudut siku ke atas meja. Kutautkan kedua sisi jemari di bawah dagu, kubalas tatap pandang Evita dalam-dalam.
"Lalu?"
"Aku..."
Paras wajah Evita sangat cantik. Sejak dulu gadis ini selalu terlihat lebih cantik...
Ya Tuhan, aku berani menjadi seorang pria tega melupakan mendiang istri yang penting aku bisa selamanya memiliki dan memandangi profil wajah cantik Evita ini di setiap menit setiap detik kapanpun aku mau.
Ia jelas jadi kesulitan bicara karena aku iseng menyengajakan diri memulai melancarkan, memamerkan pesona mautku.
Sebagai seorang pria tampan atletis 175cm yang dulu sekali dijaman kuliah sering disebut banyak mahasiswi sebagai kembaran si penyanyi import Enrique Iglesias, Enrique versi muda tentunya.
Aku disebut-sebut memiliki wajah luar biasa meng-hispanik nyaris mirip dengan wajah artis pria Latin Enrique itu.
Memang terdengar terlalu berlebihan dan bikin aku risih, maka aku, sering kalinya hanya memperlakukan setiap pujian itu sebagai angin lalu.
Tapi tetap, di dalam hati senantiasa mensyukuri bahwa aku telah dikaruniai Tuhan memiliki wajah dan bentuk tubuh bagus.
__ADS_1
Idaman setiap pria...pria-pria Indonesia.