MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
19. Akhir Perjalanan Semarang-Jakarta


__ADS_3

Keluargaku, turun temurun dari kakek moyang ke kakek nenek sekarang adalah murni generasi asli penduduk Jakarta.


Seantero kota Jakarta ini adalah kampung halaman kami dan hampir seluruh penjuru kota telah kuhafal betul seluk beluknya. 'Tak mungkin' bisa tersesat saat berada di dalam kota ini.


Tak mungkin tersesat ditanah kelahiranku namun inilah yang pada saat ini sedang kualami.


Aku tersesat disini di negeri leluhurku sendiri, nyasar, mobilku melewatkan arah menuju rumah Evita berada.


Hanya karena fokus mengemudi terpecah bahkan sejak dimulainya perjalanan berkendara dari Semarang berjam-jam lalu...


Berjam-jam lalu,


Sekeluarnya kami dari hotel pukul 3.45 sore, akhirnya aku jadi juga bermobil berduaan dengan Evita.


Hanya 2x saja mampir di Rest Area, selebihnya kami menelusuri ratusan kilometer jalanan Tol dengan bidadariku disebagian waktu itu memilih berdiam diri atau tidur, beralasan akan sangat membahayakan bila aku meladeni bicaranya sambil mengemudi, atau sebaliknya ia yang meladeni bicaraku.


Walau dalam hati berpendapat lebih membahayakan lagi bila sambil mengemudi aku berdiam-diaman dengannya begini, membuat pikiranku melayang-layang tak karuan, kusetujui juga usulan Evita untuk tidak banyak mengobrol selama perjalanan.


Namun entah disadari gadis ini atau tidak, ya benar, fokusku sebenarnya telah pecah dan ambyar didetik pertama itu juga ;


detik aku muncul membuka pintu mobil bagian kemudi di parkiran basemen hotel, lalu menemukan pemandangan bidadariku sudah duduk manis menunggu pada kursi penumpang.


Lengkap dengan tolehan kepala kearahku berikut senyuman dan segenap tampilan profil diri atas-bawah yang seketika itu juga...seolah bagai membekukan sesaat fungsi syaraf ke-5 indra yang kupunya.


Memakukan pandang sedemikian rupa padanya dengan tangan kanan masih memegangi sisi vertikal pintu, diam--diam agar jakunku tak terlalu nampak bergerak naik turun naik, kutelan air ludah berhati-hati sekali.


Setelah berhasil menormalkan kembali reaksi klasik yang sempat kurasakan barulah kemudian kubalas senyum gadis itu sembari melangkah masuk kedalam mobil, menghenyak duduk dikursi kemudi.


Mengusahakan maksimal kepura-puraanku mengabaikan turtleneck ketat dan rok jins selutut Evita yang gencar memanggil-manggilku untuk melihat kearah mereka, maka tepat pukul 4 sore berjam-jam lalu dengan kecekatanku berkemudi, kumulailah mengemudikan mobil ditemani Evita meninggalkan kota Semarang.


Memang sudah ditargetkan aku tidak akan berbuat macam-macam selama perjalanan kami ini.


Sejak awalpun aku hanya punya niat sekadar ingin berdua-duaan dengannya saat mengemudi dengan sesekali berbincang ringan dan kebetulan sekali dari pihak bidadariku - mulai saat ditaman itu aku memutuskan untuk menjuluki Evita dengan sebutan bidadari dan semua orang kelak harus mengetahui ini - ia tak menginginkan terjadinya banyak pembicaraan.


Jadi bisa ditebak...selama perjalanan ini kami baik-baik saja dan aman.


Setidaknya aku dan Evita sangat jelas menikmati kebersamaan ini, ditengah suasana malam menyusuri lajur demi lajur jalanan Tol, berupa 7 ruas jalan tol sejak dari Semarang yakni ruas : Semarang-Batang, Batang-Pemalang, Pemalang-Pejagan, Pejagan-Kanci, Kanci-Palimanan, Palimanan-Cikampek, Cikampek-Jakarta.


Sekali waktu berbincang hal-hal ringan dan umum saja, otomatis terkompromikan tanpa menyuarakan kami menghindari perbincangan tentang hal hubungan baru ini, aku dan Evita sama-sama baru mengetahui di sekarang ini kalau kami kompak belum pernah satu kalipun mengunjungi air terjun. Jadi aku sempat menjanjikan pada Evita suatu waktu nanti aku akan membawanya mengunjungi sebuah taman wisata ber-air terjun. Ia pun menantikan itu dengan senang hati.


Tapi begitu bertemu waktunya bosan berbicara, gadis ini pun lalu mendiamkan diri beberapa lama.

__ADS_1


Salahkan Evita kalau kemudian aku memanfaatkan momen ia 'mengabaikan'ku, kugunakan saat-saat itu untuk memuaskan imajinasi primitif priaku dalam hal wanita. Wanitaku.


Disela mengemudi, sengaja kubagi sedikit fokus perhatian mengemudi kepada dirinya.


Kulancangkan khayalanku membayangkan hal-hal menggairahkan dengan objek bagian-bagian tubuhnya yang semakin hari semakin bisa kuhafal luar kepala.


Dari bentuk beberapa bagian di wajah semisal mata dan bibir itu, turun sedikit kebawahnya yakni leher jenjang itu.


Terus dan terus kesegenap bagian lebih bawah lagi dari leher...semisal bukit kembar bersize kurang lebih 34B yang dimiliki Evita.


Tanpa perlu melihat bentuk aslinya, aku tau betul ukuran pay*dara bulat penuh bidadariku masuk ke kategori 34B. Bentuk ideal yang disukai banyak pria. Tentunya termasuk aku.


Pria menyukai bentuk pay*dara bulat, yang memiliki jarak pangkal pay*dara sampai ke pusat atau pu*ing sejauh 15 cm. Tampilannya serupa dan penuh dengan hampir sama atas dan bawahnya.


Dan bentuk ideal dari definisi ukuran 34B ini, inilah yang dimiliki oleh seorang Evita.


Ia mungkin menyadari betul bagian pay*daranya sangat bagus dan menarik sehingga ia...sangat percaya diri dengan seringnya mengenakan atasan-atasan ketat.


Tidak masalah. Inipun bagian dari kesukaanku.


Aku suka melihat Evita dalam balutan ketat busana formal maupun kasual atau harian. Tapi tetap saja yang paling kusukai diatas segalanya adalah, apabila ia menyingkirkan saja semua yang ketat itu hingga tak tersisa apapun lagi menutup tubuh atasnya, tapi itu khusus hanya didepan mataku seorang.


Ini pula yang akhirnya menjadi penyebab aku kehilangan arah dalam mengemudi...melakukan kesalahan konyol, salah jalur saat bermaksud berpindah tol tepat di sebuah jalan tol bilangan jalan raya Bogor.


Sekali lagi tegas menyadarkan pada diri sendiri, mobilku melewatkan arah menuju rumah Evita berada.


Alhasil begitu aku menyadarinya, aku harus mengakui bahwa aku telah nyasar mengambil jalur.


Ohh, aku tersesat. Ah ha ha ha...


"Jadi kita akan masuk tol lagi, mengambil arah yang tadi aku lewatkan. Sangat sangat sangat konyol." Bathinku, melirik bidadariku di kursi sebelah yang belum menyadari apa yang sedang terjadi. Masih terpejam dengan kepala nyaris terkulai miring kejendela mobil disisinya.


Ach...


Sebaiknya kau bangunlah sekarang, bidadariku. Aku sekarang sedang kebingungan mempertimbangkan apakah aku harus balik lagi masuk kejalan tol didepan sana atau tetap parkir sejenak dua jenak di tepi jalan ini, yang nampaknya sangat sepi dan aman untuk parkir sebentar disini.


Dan sangat strategis mendukung sebagai tempat aku paling tidak menciummu untuk pertama kali meski tempatnya cuma ditempat seperti ini.


Telah hampir 9 jam perjalanan kutempuh dengan mengemudi 7 jam, masa' sih aku tak boleh meminta bonus mengemudi darimu?


Tidak ada marka Dilarang Parkir.

__ADS_1


Jadi kuputuskan untuk parkir.


Dan menunggu.


Entah menunggu apa atau siapa.


Yang jelas aku sedang ingin parkir disini.


Menyandar dengan sedikit penat pada sandaran kursi mobil, kukeluarkan HP dari saku kemeja dan kubuka kuncinya.


Ada pesan WA dari Lidia, sekitar 10 menit lalu ia mengirimkan.


'sudah dimana, bang?'


"Didalam hati bidadariku." Tanpa sadar aku bergumam demikian dan tersenyum sendirian, memperbaiki letak kacamata, menembus temaram dalam mobil karena aku enggan menyalakan lampu dashboard.


'hampir sampai' balasku.


Sedetik kemudian,


'sampai dimana?'


"Diii..." gumamanku rupanya membuat bidadariku terbangun.


Evita membuka mata...perlahan-lahan mengangkat kepala dari sandaran, lalu memperhatikan kesekitar. Mengerutkan dahi sesaat kemudian,


"Dimana ini?" Ia menoleh padaku.


Itulah, aku sendiri tidak tau sedang ada dimana sekarang kami ini.


Aku hanya tau aku kebablasan melamun dan menghayal selama 2 jam terakhir dengan tema khayalan seputar dada memesona milik wanitaku, lalu tau-tau saja mobilku sudah tiba disini.


"Ngg...tadi aku salah keluar tol. Pintu tol Ring Road sudah jauh terlewati." Jelasku pada Evita sambil menyakukan HP ketempat semula.


Gadis ini, aku mengamati kearah wajahnya tersinari temaram lampu jalanan diluar sana namun lampu dalam mobil tak kunyalakan, sudah sejak di Rest Area terakhir melupakan dandanan dan make-up setelah bersikat gigi, cuci muka dan bertukar pakaian disana. Mengganti kaus turtleneck putih itu ke sebuah blus pink garis-garis hitam lengan panjang dipadu bawahan rok-celana bahan warna hitam polos. Hampir feminin.


Kini wajah cantik namun tegas itu tampak polos tanpa polesan apapun. Tidak merasa malu terhadapku ia menampilkan dirinya seperti itu. Tak sedikitpun tersiratkan kuatir aku akan mengkomplein wajah tanpa riasannya. Atau pada rambut Coffee Brown yang sudah kehilangan ke-blow-annya karena kebanyakan menyandarkan kepala kesana kemari area pada kursinya.


Namun karena pada dasarnya ia seorang yang cantik alami -jarang sekali aku menemukannya menggunakan make-up meriah pada wajah- dengan wajah sekarang polos tanpa bedak dan lipstick itu, ia justru semakin terlihat lebih memesona lagi dan kekanakan.


Ia menyadari aku memperhatikannya dengan pandangan tanpa mengedip, namun ia terus saja terlarut dalam ceracaunya kemudian sambil sesekali ia menoleh singkat padaku,

__ADS_1


__ADS_2