MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
12. Haruskah Aku Berubah Pikiran?


__ADS_3

Evita menekuri wajahku. Tak terkesan gugup atau salah tingkah.


Pengendalian diri yang berhasil. Aku menyukai cara bersikap gadis ini yang konsisten.


Mungkin sudah kebal terhadap pesonaku karena toh kami sudah lama saling kenal.


Lagipula, aku sudah menjadi si kembar Enrique yang kini berusia tua, 3 tahun lagi memasuki usia 40 tahun. Mungkin sebenarnya pesonaku sudah mulai menipis. Mungkin begitu.


Atau mungkin ia hanya sedang sukses saja bersama rencana terselubungnya itu : Hadapi Hari Pratama dengan tenang, hadapi dia dengan percaya diri sebagai ipar bukan sebagai calon apapun, jangan gampang dipengaruhi, jangan gamp...


"Aku sudah punya jawaban bahkan sejak di hari itu."


"Asstagaa..." Kembali kusandarkan punggung, memandangi gadis di seberang meja ini dengan tatapan tak percaya.


Ia melakukan hal itu sekarang, menggembungkan mulut. Untuk menutupi kesalah-tingkahan?


Ya tepat. Ia melakukan sikap ini karena kemantapan dan ketegasannya sedang menghilang sesaat berganti kesalah-tingkahan itu. 


Tak lama. Lalu kemantapan diri itu kembali lagi,


"Kenapa bang Hari tidak memilih saja...adikku Safira?" Ia bertanya ini.


Keluar juga pada akhirnya pertanyaan itu, kali ini terlontar dari si pemeran utama.


Mencoba memperlihatkan sikap mendewasa dan sama mantap pula dengannya aku menjawab,


"Karena aku tidak menyukainya."


"Hah?"


"Kurasa aku lebih menyukaimu."


"Ohh..."


"Ituu...adalah perasaan yang baru saja kurasakan."


"Baru saja?"


"Baru saja. Aku baru saja mendapatkan perasaan itu. Suka padamu. Baru di akhir-akhir ini saja. Tepatnya kapan, aku tidak tau persis. Tidak juga saat kakakmu masih hidup.


Pokoknya, kaulah yang lebih kuinginkan sekarang... Aku ingin menikah denganmu."


"Bang Hari..."


"Tapi aku tidak akan mencoba memaksakanmu, Evita. Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Tapi dengan adikmu Safira, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau dijodohkan dengannya.


Lagipula Safira saat ini sedang PDKT dengan seorang teman baikku sesama pengacara di kantor biro hukumku. Biro hukum kami."


"Owhh..."


"Menikahlah denganku, Evita"


Pengunjung KFC yang duduk di meja bagian mereka, kanan kiri sebelah kami, sepertinya pura-pura tidak tertarik mendengar kalimatku yang tidak mungkin mereka tidak mendengar atau menguping apa yang baru saja kuucapkan, masa bodoh.

__ADS_1


Aku dengan 'terpaksa' harus saat ini juga mengucapkan kalimat sakral itu karena momennya kebetulan sedang pas di saat ini, di salah satu meja resto ini, magrib menjelang malam dengan langit di luar sana mulai menggelap.


Rona itu pun menghiasi wajah Evita.


Menyadari ia menjadi tersipu-sipu maka ia mendehem dan mengembalikan sikapnya ke sikap normal.


"Apa...Safira...siapa nama teman bang Hari itu?"


"Irfan"


"Oh"


"Safira sudah mendapat nomor Irfan dariku. Kemarin lusa mereka sempat bertemu..." Terpaksa lagi aku harus berbohong sekarang, hanya tentang nomor telpon yang benar. Nantilah kucoba kompromikan ke Safira, "...dan berkenalan. Tapi cuma sebentar. Tak lebih dari bersalaman dengan menyebut nama masing-masing lalu selesai."


Bohong. Kemarin aku hanya sebatas mem-WA Safira untuk menanyakan apakah dia sampai dengan selamat di rumah sepulang dari kantor biroku.


Setelah ia jawab Ya, lalu kubalas dengan mengirim nomor Irfan sambil membubuhkan kalimat : temanku di biro sepertinya tertarik melihatmu. siapa tau kau penasaran siapa orangnya, ini nomornya. ada gambar mukanya di poto profil.


Sudah, hanya seperti itu.


Tapi demi mempertahankan momen berharga di saat ini, terlebih Evita sedikit demi sedikit terkesan mulai 'maju mendekat' dalam memberi kelanjutan respon padaku, aku terpaksa harus menghalalkan segala cara berusaha tapi sumpah hanya untuk pada saat ini saja.


"Oo begitu."


"Lalu bagaimana dengan kita?"


"Kita?"


"Kita. Kau dan aku. Apa jawabanmu yang bahkan ternyata sudah ada sejak di hari Sabtu itu?"


Oke, suatu saat nanti bila memang ia tak menolakku, aku bersumpah akan membuatnya kesulitan menahan senyum.


Aku selalu punya banyak kiat dan trik untuk bisa membuat bahkan awan di langit sana pun tersenyum padaku. Maka gadis ini juga harus bisa bertekuk lutut dan mengumbar senyumnya dihadapanku.


Tapi sekarang, apakah sebenarnya dia menerima pinanganku?


Ditunggu lagi saja dulu?


Ditunggu lagi saja dulu.


Sepertinya gadis ini memiliki gengsi, ego, harga diri, kesungkanan, kemal-- ,atau entah apapun itu namanya tapi itu berbentuk sangat besar, sehingga untuk sekadar sepatah kata saja mengucapkan kata menolak atau mengiyakan itu, ia merasa berat. Dengan rapi terus saja menahan suara.


Nyeleneh, aku malah melencengkan diri seketika ini juga,


"Apa sebaiknya aku benar-benar harus menunggu sampai 9 bulan lagi itu saja...Evita?"


"Apa Safira benar-benar mendatangi bang Hari ke kantor abang? Untuk keperluan apa?"


Tunggu, apa aku tadi sempat bilang kehadapan Evita bahwa Safira bertemu Irfan dan itu terjadi di kantor biro kami?


Damn. Aku lupa. Lain kali aku kapok berbohong.


"Apa aku harus jujur atau membohong untuk menjawab pertanyaanmu ini?"

__ADS_1


"Apa dia cuma ada keperluan dengan si mas Irfan itu?"


"Apa kita sebaiknya meneruskan bicara di dalam mobilku saja? Karena sepertinya kau kesulitan memberikan jawaban 'Iya' atau 'Tidak' sekalipun, di tempat ini."


"Safira..."


"Evita,"


"Safira akan sedih bila aku..."


"Ya. Dia mengakui itu kemarin. Dia kecewa karena aku menolaknya. Mungkin sedikit bersedih karena hal itu, bisa jadi."


"Dia bilang begitu?"


"Ya."


"Ohhh..."


"Dan kau, apakah kau akan merasa kecewa dan menjadi sedih juga bila aku sekarang, bila, bila aku berubah pikiran dan kemudian meminta pada Safira untuk menikah denganku?"


"Safira akan merasa sedih bila aku menerima bang Hari !"


"Jadi haruskah aku berubah pikiran?"


Gelengan 1x kepala Evita justru mampu menciptakan debar hebat si jantung semata wayang dalam dadaku.


"Jangan." Evita menelan air ludah dengan susah payah. Grogi pun menyerangnya. Gugup menerima tatapan lekatku, minta kepastian lewat sorot pandangku.


"Ja-ngan?" Suara dan sikapku sangat tenang terkendali meski dalam dada sedang ampun-ampunan.


Bukan maksudku hendak membuat gadis ini serasa ingin menghilang saja dari permukaan bumi seusai dirinya membuat pernyataan singkat namun padat barusan.


"Ya. Jangan. Aku --"


"Artinya kau --"


"Iya."


"Apanya yang iya?"


"Ya iya. Iya, aku mau...menikah dengan bang Hari."


Pemirsa di meja kanan kiri kami cengar-cengir penuh arti ke arah kami.


Nah, aku kesulitan untuk bersikap masa bodoh lagi sekarang.


Evita butuh energi besar untuk mencoba menahan ketersipuannya, yang berhasil mengusir pergi sikap mantap dan terkendalinya di beberapa belas menit ini.


Ia tersipu menerima senyum simpulku yang kuukir manis untuknya. Juga tatapan penuh arti dariku yang mengisyaratkan sejuta janji indah yang kukirimkan hanya untuk dirinya. Express.


"Kita akan membicarakan ini lebih lanjut lagi tapi bukan di sini. Kalau kau tak keberatan..."


"Oke."

__ADS_1


"Haha...aku mau bilang, kalau kau tak keberatan melanjutkan pembicaraan ini di sekarang ini juga, di tempat lain misalnya di dalam mobilku..."


"Oke."


__ADS_2