MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
17. Berencana Bermobil Berdua


__ADS_3

Bertemu dan berbicara dengannya, sudah. Berdekatan hingga teramat dekat seperti ini, sudah. Saling genggam tangan yang menghangati aliran dalam dada, akibat dari persentuhan kulit halus lembut dan si kulit setengah kasar dalam berbagai bentuk pengekspresian... itu apalagi, lebih dari sudah dan masih berlangsung bagai enggan untuk diakhiri.


Lalu apa lagi sekarang?


Pulang ke Jakarta.


Memang rasanya gemas betul ingin segera saja melangkah maju ke tahapan berikutnya, tapi begitu teringat pesan mama dan papa...oke, stop sampai dibatas keinginan itu saja. Cukup dipendam dalam hati apapun kelanjutan yang menjadi keinginan ini, mari pulang ke Jakarta secara baik-baik dan aman.


Setelah memberitau sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, Evita membuka HP diatas meja cukup dengan bantuan jari kanan sementara yang kiri enggan kubebaskan, kebetulan sedang ada sebuah pesan masuk dari Safira ke nomornya.


'kalian sedang apa dimana? sudah waktunya siap-siap. balik deh.' ia membacakanku isi pesan itu. Maka segera kutanggapi sambil menghempas nafas pendek,


"Baiklah...kurasa untuk sementara kita cukupkan sampai disini dulu saja. Memang sudah hampir waktunya bersiap-siap, check out dan pulang. Kembali ke Jakarta.


Kita masih akan menempuh perjalanan pulang 5 sampai 7 jam. Masih sempat berisitirahat beberapa saat dikamar hotel sebelum jam check out itu."


"Oke." Evita menarik tangan kirinya. Aku menahan tak melepaskan. Ada yang mau kukatakan. Tapi aku ragu-ragu. Gadis ini menyadari itu, mengerutkan dahi meneliti ekspresiku sambil bertanya, "Bang, kenapa?"


"Ngg...ini bukan aku yang meminta," Aku mendehem, nyengir kecil, memandang malu-malu seperti remaja ABG padanya,


"Tadi di hotel om dan tante Simon mengusulkan padaku, inipun kalau kau tidak keberatan, om Simon...akan membawa mereka semua dengan mobilnya. Kecuali kau, Evita." Tak hendak memberi jeda aku terus saja bicara, "om menyuruhku untuk bermobil berdua denganmu berikut semua barang-barang bawaan kita. Sepertinya...om Simon sedang memberi kita kesempatan berdua-duaan dalam perjalanan pulang ini..."


Perasaanku terhadap Evita sudah semakin mendalam. Sehingga apapun hal yang hanya dan akan dilakukan berdua, dengan sendirinya sudah bisa menghadirkan sensasi tertentu kedalam segenap pemikiran dan aliran darah ini.


Itu dari pihakku. Tapi dari pihak gadis ini? Sepertinya tak jauh beda.


Karena ia terlihat jadi jengah dan grogi usai mendengar penuturan penjelasanku. Menekuri sesaat tanganku yang masih kekeuh memegangi tangannya, ia mempertimbangkan,


"Mmm..."


"Apa kau...tidak keberatan? Atau keberatan?" Tanyaku cepat.


Sambil pura-pura memperdengarkan nafas keluhan sekadar untuk menetralkan suasana, Evita berlagak geleng-geleng kepala tak habis pikir, "Duh om dan bibi Simon ini benar-benar ada-ada saja."


"Tidak apa kalau kau tak mau."


"Mm..." Susah payah gadis ini mencoba menyahut santai dan itu tentu saja ia rasa sulit karena remasan tanganku ditangannya adalah isyarat bertolak belakang dari kalimat Tak Apa-ku.

__ADS_1


"Paling tidak, ngg...Yuan bisa ikut bermobil bersama kita, kan?"


Aku menggeleng ragu, "Sangat tipis kemungkinannya. Tidak mungkin 3 serangkai itu bisa dipisahkan."


"Iya sih, iya benar juga."


"Jadi?"


"Terserah bang Hari saja deh." Evita menyerah.


Buru-buru kusambar kesempatan emas ini,


"Oke kalau begitu, begitu saja."


Membayangkan akan berduaan saja selama lebih dari 6 jam dengan Evita seorang... aku sudah dapat membayangkan.


Sampai gadis ini kembali bersuara membuyarkan bayanganku,


"Aku tak yakin Yuan dan si kembar mau dipisahkan dari bang Hari, karena kemarin kalian berangkat bersama-sama berlima dengan suster Lina. Jadi bagaimana?"


Anehkah aku?


Belasan tahun kemarin yang ada dihatiku hanya seorang Ranti dan anak-anak. Hingga istriku menutup usia, keloyalitasanku tak tergoyahkan. Bahkan oleh kehadiran 2 gadis cantik karyawati baru bagian administrasi di kantor biro hukumku yang tanpa malu-malu mengakui didepan rekan kerja mereka bahwa mereka menaruh hati padaku, berharap agar aku paling tidak memperhitungkan juga mereka berdua untuk menjadi calon pengganti Ranti disisiku.


Aku berlagak tak menghiraukan hal itu, tapi tak luput bertanya-tanya dalam hati mengapa tak sedikitpun aku menjadi ge-er mendengar apa yang mereka nyatakan secara blak-blakan.


Mereka sangat cantik, muda seusia Safira, berpendidikan dan berwawasan...nyatanya baik mereka maupun wanita-wanita lain tak kalah cantik dari mereka seperti teman, kolega bahkan klienku, selama 4 tahun ini tak ada 1 pun yang sanggup mencuri hatiku.


Seterbuka apa mereka menunjukkan perasaan terhadapku, tidak ada seorangpun yang berhasil membuat mata dan hatiku membuka.


Hingga begitu tiba-tiba, yang sebenarnya tidak setiba-tiba itu sama sekali, Evita muncul begitu saja mencuri hatiku. Membukakan mata dan hatiku bagi hadirnya ia masuk kedalam perasaanku.


Gadis yang jelas-jelas masih berstatus sebagai adik iparku...gadis ini, lewat kehadirannya yang mulai dekat denganku, mulai mengakrabi, membuka diri dan hatinya padaku, ia sepertinya telah berhasil membuatku terlupa Ranti bahkan anak-anak!


"Anak-anak akan kubujuk. Mereka toh bersama tante Safiranya dan pengasuh di mobil om Simon."


"Bangg..."

__ADS_1


"Evita,


"Ya?


"Anak-anak sudah disepanjang hidup mereka pernah bermobil bersamaku, Evita. Aku belum pernah bermobil bersamamu. Berduaan pula. Hari ini atau besok-besok, aku toh harus memulainya juga, bermobil berduaan denganmu. Jadi biarkan anak-anak tetap disana, aku akan berusaha membujuk mereka. Hm?"


Merah saga seketika paras wajah Evita mendengar pernyataanku ini, yang memang kusengaja menyeleneh sekaligus seserius mungkin.


Sangat jelas terbaca bukan tentang anak-anak yang membuat ia seolah berkeberatan. Tapi ini tentang diriku-nya. Bukankah ia tadi sempat berharap Yuan bisa ikut bersama kami?


Sudah sejak 3 menitan lalu kuurai tangkupan kedua tangan kami dan kini disela duduk kami, tangan kananku menggenggam pergelangan tangan kirinya sambil menelusurkan ibu jari bermalas-malasan disekitar pergelangan dalamnya. Mungkin bentuk gerakan ini ditambah kata-kata yang barusan kuucapkan, telah menambah bulu kuduk Evita semakin meremang saja...


Semakin 'memandang ngeri' rencana bernobil berduaan kami ini.


Padahal pretty woman, aku tidak menyimpan maksud terselubung dalam bersikeras begini. Aku hanya ingin ditemani olehmu sepanjang perjalanan pulang nanti. Siapa tau kita punya kesempatan lain lebih banyak lagi berbincang tentang kita disela mengemudiku?


Atau siapa tau aku mendapatkan kesempatan digantikan menyetir mobil olehmu saat aku mulai lelah.


Apa kau selain bisa menyetir perasaanku, kau juga bisa menyetir sebuah mobil?


Masih pada samping kanan duduk ini, Evita akhirnya memberi anggukan.


"Ya sudah deh."


HP gadis ini menyala lagi. Ada pesan lain masuk. Ia memajukan sedikit wajah melongok ke layar, aku juga ikut melakukannya sambil membetulkan letak kacamata diwajah.


"Siapa itu Pendekar Perkasa?"


Menyeringai geli ia menggeleng-geleng, "Bukan siapa-siapa. Ini anak ABG 14 tahun di kampung Banten yang pernah kubantu membetulkan kandang ayamnya. Sewaktu Instansiku melakukan kunjungan kerja kesana. Dia sudah biasa ber-WA curhatkan keluarganya padaku."


"Kau? Membetulkan kandang ayamnya??" Mataku membelalak, "Memangnya kau bisa?"


Tawa Evita kemudian sama sekali tak bisa membuatku senang. Aku tak suka membayangkan gadis ini menambalkan dan memaku kayu atau bambu atau papan ke kandang ayam kotor dan bau itu.


"Ya bisa lah. Alas kandang bambu itu patah. Aku pergi beli triplek 1/2 meter lalu kugantikan ke alas lama. Ku gergaji dan aku paku di sana-sini, selesai. Jadi bagus lagi. Cuma segitu. Gampang koq."


Astaga....

__ADS_1


Mestinya gadis ini yang mendapat julukan sebagai si Pendekar Perkasa.


__ADS_2