
Evita bertahan menghabiskan gelas ke 3, aku tak mau mengikuti...jadi kubiarkan ia melakukannya sendirian. Ia tak berkeberatan, juga tak berkomentar. Minum-minum kami kali ini memang...lebih 'diperuntukkan' bagi istriku.
Tak mungkin terelakkan, kehilangan kesadaran alias mabuk mau tak mau akhirnya menerpa juga pada dirinya.
Ada yang tak jauh beda dibanding mabuknya kemarin, tak luput ada juga yang berbeda drastis terjadi pada dirinya dimabuknya kali ini.
Evita tidak mengeluh pusing, tidak juga jatuh pingsan, hanya mendadak saja kali ini ia mengeluarkan suara cegukan. Cegukan yang sangat intens. Efek yang baru. Diafragmanya tidak mungkin tidak telah terefekkan, teriritasi alkohol.
Merasakan amat sangat bermasalah dengan pakaian itu, kubiarkan ia melakukan yang paling ia ingin lakukan lebih dulu, yakni melucuti seluruh penutup tubuhnya.
Senyum geliku diam-diam mengembang.
Mulai dari mabuk pertama kemarin, kebiasaan demi kebiasaan seorang Evita saat sedang seperti ini akan semakin kuat terpatri dalam ingatan dan kenanganku...
Aku mencintaimu, Evita, dengan semua kelebihan dan kekuranganmu. Akan kujadikan kau sebagai cinta pertamaku yang sebenarnya, dan juga sebagai cinta terakhirku. Tanpa melupakan perasaan cinta lain yang pernah kumiliki terhadap mendiang kakakmu.
Demi Tuhan, aku tak akan bisa hidup bila tanpa ada dirimu disisiku..
Beberapa menit kemudian...
Begitu keras kepalanya istriku, ia yang sudah setengah telanjang dan kini hanya berbikini seksi ini, bersikeras terus berkeliling dengan mabuk dan terhuyung-huyung hanya untuk....menghindariku.
Menderaikan tawa berunsur mabuk diselingi cegukan, Evita terus menghindar kesana-kemari saat aku berusaha mencapainya, meraihnya, untuk membuatnya kembali duduk tenang di sofa.
Dari tersaruk-saruk menghampiri meja makan, kembali lagi keruang tamu menghampiri bawah TV yang tergantung tinggi di dinding dekat langit-langit, dengan bandel lalu menghanbur lagi kebeberapa bagian lain sekitar dalam rumah.
Bukan bermaksud hendak benar-benar kabur, hanya menurutkan perasaan eforianya saja menggerakkan diri kesana kemari, yang sudah barang tentu akibat mabuk beratnya dan akibat dari ia bertemu pandang denganku. Yang rupanya, insting penolakan masih belum hilang lantas ia merasa perlu melakukan penghindaran dariku.
Sekejap ia mencoba menjernihkan pandang ditengah pelarian yang kini memarkirkan diri ditepian meja makan, berdiri tak stabil diatas kakinya, menyandarkan belakang pinggang sambil menyanggahkan telapak tangan didahi. Telah mencapai titik lelah atau jemu sehabis berusaha gigih terus menghindariku.
Kalau sampai selamanya ia 'menghindari' begini saat sedang tidak sadar, maka sudah dapat dipastikan, akan seperti inilah bentuk perjuanganku 'meraih'nya sebagai konsekuensi memiliki dan mencintai seorang Evita Purnama Sari, SH.
"Ayo, kembali ke sofa. Istirahatlah sebentar disana." Rengkuhan kedua tanganku ke bagian pinggang untuk menegakkan berdiri Evita segera saja di tepis kasar kedua tangannya, hingga mau tak mau kutarik pulang peganganku darinya.
"Aku baik--baik sajaa...'hkhh... 'hhh... Aku bisa mengurus diriku sendiri...Tak usah dibantu...'hg."
"Kau tidak sedang baik-baik saja, sayang. Sudahlah, biarkan kubantu kau ke sofa."
Lama berpikir, Evita memutuskan tak lagi menolak. Mungkin terpengaruh kata-kataku yang menyebut ia tidak baik-baik saja dan ia sependapat. Ia pun masuk kedalam dekapanku, segera menyuarakan keluhannya,
"Bang Hari..."
"Hm?"
"Kepalaku sakit...'hh...lagi. Apa tiap orang 'hgh...mabuk itu... selaluu...jadi pening?"
"Biasanya orang yang sempat mabuk itu merasakan pusing setelah bangun dari tidurnya, sayang. Efek samping dari mabuk seperti pusing dan mual hingga muntah, baru dialami setelah tidur lama."
__ADS_1
"Haku tidak mual...Cuma pening."
"Mau ditahan saja?"
"He eh. Cuma sedikit...berputar-putar...:hkhh...dikepala. Apa yang kulihat...semuaaa berputar-putar. "
"Kalau memang kau perlu minum obat ---"
"Tidak tidak tidak... Belum separah itu. Tolong peluk terus saja aku."
"Oke, sayang. Kita kembali ke sofa saja?"
"Nanti..."
Bisa dikatakan Evita seolah ambruk kedalam pelukanku. Ia menyandarkan sepenuhnya tubuhnya ketubuhku, kepalanya kepundakku.
"Bang Hari... kau sangat jantan..." Evita berbisik lemah kedalam pundakku, sepertinya diimbuhi senyuman dikulum. Mengejutkan...
Disusul mengucapkan kata-kata berikutnya yang sangat jelas bukan bagian dari gaya bahasa dan bicara sehari-harinya.
Efek alkohol yang sangat brutal bekerja...
Aku memutuskan untuk diam menyimak, membiarkan dan memberi kesempatan Evita terus berbicara.
"Jangkung, kuat, dann...selalu penuh gairah... 'hkh... Aku sukaaa. Aku...ach, suka caramu... 'hg, mencintaiku...dalam video itu... Jujur aku sangat menyukainya... Sangat suka melihat diriku, bersama bang Hari...diranjang itu, 'hkkh... menyatu bertautan, bertempelannn begitu... Sudah pernahkah, achh...kukatakan ini padamu?"
"Sayang, Evita, kalau kau masih bisa mengingatnya, sayang, kau sempat mengatakan tak mau lagi melakukan itu --"
"Ituu...sebelum aku mee...'hg...melihat bang Hari menangis..."
"Berarti sekarang kau mau melakukan ini...karena kau kasihan saja padaku?"
"Syapa bilaaangg? Tidak tau...pokoknya aku memang...ah, tidak mau. Awalnya... Sekarang sudah...tidak begitu lagi...aku sudah...'hkhh...mau..."
"Ohh..."
"Aku bukannya menyebutmu sama menjijikkannya, 'hgh...dengan seeeks... Tapi, sama menjijikkannya...dengannn...diriku sendiri....tapi aku sebenarnya...suka!....'hh....itu sebabnya aku tak keberatan...'hghh...bercinta lagi denganmu...sepertiii...sekarang ini..."
Aku mengerang tertahan, "Kita belum memulainya, sayang. Kau bahkan sejak tadi...pergi kesana lari kemari tak mau dekat-dekat denganku."
Evita terpana, memandangiku kebingungan, " Ohh, benarkah? Kenapa?...'ach... Kenapa aku...begitu?"
"Mana kutauuu..." Sahutku sambil menggedikkan bahu dengan gemas, "Kau yang lebih tau kenapa kau begitu."
"Ohh...aku tidak tau...Sebentar kupikirkan dulu... 'hg...kenapa aku begitu."
Tawa gemasku tak bisa kutahan lagi. Sudah cukup berbicaranya, sudah cukup yang perlu untuk aku dengar.
__ADS_1
Terbawa perasaan haru dan bahagia mendengar kalimat demi kalimat Evita, kudekap ia lebih erat hingga pay*daranya lebih tertekan lagi ke dadaku. Kusengajakan menambah sensasi mendambaku. Tapi untuk sementara kukendalikan dulu baik-baik gairahku. Karena Evita masih ingin terus berbicara.
Ia jarang menyatakan perasaan-perasaan terdalamnya. Selalu menahan diri untuk tidak mengungkapkan keluar beberapa hal yang ada didalam benak dan pemikirannya. Jadi momen saat Evita berbicara panjang lebar yang berasal dari alam bawah sadarnya ini, akan kuperhatikan sebaik-baiknya.
Terekam pula di CCTV sekitar ruang tamu dan ruang makan.
"Begitu aku masuk kerjaa...aku akann...langsung resign...mau ber --'hgh, henti saja... mengurus...keponakan-keponakankuh."
Ya Tuhan, aku bukannya ingin membuatmu repot dengan mengurusi mereka, sayang.
"Dannn...aku mau...bawa mereka, 'hhkkh...jalan-jalann...ke air...terjun. Kalau Rian sudah...benar-benar sehat."
Nada bicara Evita semakin terdengar melayang-layang naik turun tak tentu arah.
Kedua lututnya pun terasakan betul olehku bergetar goyah. Kemungkinan ia tak kan kuat lagi berdiri berlama-lama.
Masih dalam rengkuhan kedua tanganku memeluki Evita, kutegakkan sebentar kepalanya dari sela bahu dan leherku. Ia terlalu kepayahan untuk menolakkan arah pandanganku, membiarkan perhatianku mengamati wajahnya dihadapan wajahku.
Kupandangi bagian pipi Evita yang memerah merona, bibir yang memucat, keseluruhan wajah cantik Evita, yang tak pernah membosankan mataku dalam melihatinya.
Evita memiliki bentuk wajah hati. Dengan dagu yang sempit, pipi itu jadi lebih menonjol saat tersenyum. Karakter gesit, kuat, idealis, keras kepala namun sebenarnya cukup ramah, sangat tergambar jelas diraut wajahnya.
Wajah dan pemiliknya ini, aku sudah sangat menginginkannya. Sudah sangat ingin membuatnya kembali menyukai dan lebih menyukai lagi percintaan dan penyatuan kami.
"Masih mau lama lagi seperti ini, sayang?" Bisikku lembut ditelinga Evita, "Kau sudah terlalu lelah. Aku akan membawamu beristirahat kedalam kamar. Atau, kau mau beristirahat dimana?"
Satu tangan Evita spontan merangkul leherku sebelum ia menyahuti pertanyaanku dan sebelum ia benar-benar masuk kedalam boponganku.
Diam saja tak menolak saat akhirnya kubopong tubuhnya, lalu kubawa menuju sofa.
Juga tak menolak saat beberapa menit kemudian aku benar-benar memposisikan diri, menyatukan diriku kedalam dirinya...
Selebihnya, terekam di CCTV.
###############
Masih panjang perjalanan yang harus ditempuh. Tapi hidup menikah dengan seorang Evita sudah dapat kupastikan akan senantiasa penuh warna.
Dan hidup percintaan kami, akan selalu berhiaskan lika-liku drama. Drama demi drama.
Aku tak perduli akan sampai kapan Evita terus melakukan penolakannya padaku, diantara perasaan mencintanya itu. Tapi kunyatakan dengan penuh keyakinan tanpa ragu, sejak aku jatuh cinta padanya saat melihatnya muncul kehadapanku ber-motor gede, sejak disaat itulah...aku tak menginginkan lagi cinta yang lain.
Mulai kini dan selamanya, hingga di akhir nanti...hanya akan ada Evita seorang didalam hati dan hidupku.
SELESAI ......... 26 04 2023
# wisma asri- bekasi utara #
__ADS_1