
"Kalau memang kau tak ada masalah dengan hal itu, nak Hari, ibu mendukung kalian berdua. Restu ibu akan menyertai perjalanan rumah tangga kalian seterusnya.
Semoga saja suatu saat nanti, Evita bisa pulih dari fobianya ini. Walau ibu sendiri kalau berada dipihakmu, jujur ibu mungkin...akan lebih memilih menganggapnya sebagai adik saja daripada harus...menikahinya."
"Terimakasih untuk dukungan ibu. Terus terang, seperti itu juga yang saya harapkan. Semoga ini...bukan hal permanen. Tapi untuk saat ini tak banyak yang saya harapkan, bu. Saya cuma ingin bisa bersama dengan Evita. Itu saja yang utama."
"Ya ya, ibu mengerti."
"Daan ibu, kalau memang Evita selama ini tidak pernah men-curhatkannya pada ibu...bolehkah saya tetap meneruskan apa yang dilakukan Evita, tidak membagi lagi curhatan Evita pada ibu? Kalau memang suatu saat nanti dia mencoba membahasnya pada saya."
"Tentu. Lakukan saja. Ibu tidak akan apa-apa. Yang terbaik menurut kalian berdua saja, ibu akan selalu mendukung apapun langkah yang akan kalian berdua ambil."
"Terima kasih, bu."
"Iya. Ibu masih ingat cowoq teman sekantornya yang kepingin memacari Evita itu. Cowoq itu baiiiik dan rajin mengantar Evita pulang.
Ayah dari ibu rupanya dulu pernah satu kampung dengan orangtuanya di Semarang. Bisa dikatakan berarti kami satu kampung dengan anak itu. Tapi rupanya Evita benar-benar tak mau berpacaran dengannya. Evita lebih suka membiarkan pria-pria itu berlalu, sampai nak Hari masuk kedalam hidupnya."
Mengangguk-angguk tanda mengerti, kulayangkan pandang ke arah tengah kebun seluas 100 meter persegi ini, mencoba mengingat-ingat apa aku pernah melihat lelaki itu sewaktu aku sedang mampir kerumah oma Laras ini.
Ah, ya mana mungkin pernah. Bertemu Evita saja suatu momen langka, apalagi bertemu salah seorang saja dari teman-teman gadis itu.
"Ngomong-ngomong kau sudah tau kah, Safira sudah resmi berpacaran dengan teman sekantor nak Hari itu." oma mengalihkan sejenak tema obrolan kami.
"Sudah tau, bu." Anggukku takjim.
Dalam hati sudah ingin tertawa lepas. Terbayang dibeberapa hari ini Irfan sama termabuk-cintanya seperti aku. Hahaha...
Irfan sedang kesengsem berat seorang Safira. Entah sudah pernah berapa kali kupergoki dia memandangi gambar wajah Safira pada layar menyala HP nya. Memandangi sambil senyam senyum atau menekuri penuh keseriusan wajah tersenyum Safira dalam foto wallpaper.
__ADS_1
Bisa jadi si Irfan ini naik pangkat kelak jadi adik iparku.
Tunggu Fan, tahun ini biarkan jadi tahun giliranku dulu untuk mempersunting salah satu dari kakak-beradik ini. Kau boleh menyusul tahun depan.
"Apa kau juga sudah tau bakal kapan tanggal pernikahan kalian itu, nak Har?"
"Ohh, belum mendengar kabar apapun, bu. Memangnya keluarga sudah mendapat ancar-ancar nya?"
"Sudah. Ada beberapa hari baik yang mau kita semua bahas."
"Oo...oke."
&&&&&-&&&&&
Pertemuan keluarga pun dimulailah...secara resmi dengan diucapkannya salam pembuka oleh pihak opa Rudi sebagai tuan rumah.
Ada pula Lidia, Al yang tumben mau menghadirkan diri, Safira tentunya dan si cantik gadis kesayanganku, duduk manis disebelahku.
Hanya tersenyum dikulum padaku tapi tak bicara sepatah katapun padaku sejak tadi.
Ugh, bikin gemas.
Menyandarkan punggung tegak namun santai pada sandaran kursi sofa, Evita seolah menganggapku sedang tidak kelihatan saja!
Tadi pun berusaha mengabaikan saja aku yang diam-diam menyenyuminya sewaktu opa Rudi menyuruh gadis ini duduk pada sebelah dudukku, sesudah ia hadir belakangan ke tengah ruang tamu.
Dan yang lebih sebelumnya dari itu tadi pun, ia pura-pura tak melihat reaksiku saat ia muncul menuruni anak tangga. Sudah bertukar pakaian dengan stelan yang sempat membuatku terpangling sesaat hingga memperhatikan terang-terangan pada penampilannya.
Setelan berupa blus Belted Top biru muda berdesain ikat pinggang tali pada pinggang yang membuat bentuk bagian tubuh Evita yang satu itu semakin terlihat indah... Dipadukan bawahan berupa celana Straight Pants putih polos berpotongan lurus, ukuran yang sama dari lutut hingga ke mata kakinya...jenis penampilan feminin yang sebenarnya menjadi ciri khas mendiang semasa hidup, makanya aku bisa hafal betul nama jenis stelan Evita ini.
__ADS_1
Nampak percaya diri dan tidak gugup atau sungkan sama sekali begitu didampingkan duduk didekatku. Aku yang jadi tidak bisa tenang.
Belum apa-apa saja, aku sudah langsung dihinggapi perasaan terpancing pada gairah...sepertinya aku lebih tak tahan melihat Evita didepan mata dalam tampilan mem-feminin...
Usai salam pembuka, dilanjut kata-kata sambutan dari pihak sana dan pihak sini.
Sepanjang dimulainya acara alhasil baik aku maupun Evita, kami berdua, terlihat dalam sikap penuh perhatian dan keseriusan. Melupakan sejenak alur pemikiran yang lain yang diluar konteks tema utama pembahasan.
Tapi memang dasar si Hari Pratama ini, rupanya lelaki ini sudah sedemikian rindunya ingin mencicipi Evita lagi. Walau berlagak fokus, seiring bergulirnya waktu, tetap saja setiap kata yang kudengar kemudian seolah lewat-lewat begitu saja ditelinga.
Karena aku lebih suka menyimak suara-suara pergerakan ; gemeresik pakaian Evita saat gadis ini memperbaiki posisi duduknya, atau suara tarikan-helaan nafasnya, atau ketika suatu saat ia mendehem membersihkan tenggorokan diantara sikap santun berdiam yang ditunjukkan.
Apapun suara yang berasal dari gadisku ini, telingaku seolah tercipta dan berfungsi hanya untuk menyimaknya saja. Bukan untuk suara lain sehingga ketika oma Laras menujukan pertanyaan padaku, aku kebablasan tak mendengar.
"Har," mama menegurku. Aku gagap mengalihkan pandang dari merayapi paha ramping Evita disisi pahaku, ke arah dimana mama berada. Dimana mama berada? Ah, itu dia disamping oma Laras.
"Ya, ma?" Tanyaku polos.
Tawa hadirin segera terdengar melihatku kelimpungan mencari fokus. Rupanya obrolan sedang ditujukan padaku dengan terdengarnya suara oma Laras yang bertanya sesuatu padaku. Otomatis ketika aku mencari perlindungan hukum dengan melihat pada Evita, gadis ini menyeringai tertahan seolah meledek ketidak-mudengan sesaatku.
"Ibu nanya kalau pas sedang libur panjang sekolah...," Jelas gadis ini kemudian dalam suara dipelankan, "...bang Hari mau, tidak?"
"Ooo..." manggut-manggutku pada Evita. Tapi sempat kudapati semu merah diwajahnya. Oke Hari, fokus sekarang. Maka kulempar perhatian dan kata-kata pada yang hadir... Libur panjang sekolah? Libur panjang itu masih sekitar 2 1/2 bulan lagi. Masih lamaaa...! "Cocok. Saya setuju." Beralih pada gadis disebelahku, aku bertanya, "Kau setuju?"
Perhatian kini benar-benar terpusat padaku dan Evita. Bagaimana cara kami berdua berinteraksi kemudian, beberapa pasang mata dari yang hadir disekitar kami ini kini memperhatikan itu lebih seksama lagi.
Saat Evita menoleh padaku di sebelah kiri duduknya -kami berjarak selebar tinggi gelas kaca dimeja dihadapan kami- kami bertukar pandang sedemikian rupa yang pastilah sangat terasakan kesan sudah bertautan lebih mendalamnya kami berdua.
Terlebih Evita memandangiku lewat pandangan lembut dan paras nyaris memerah tersipu, yang hadir sekalian tentu saja semakin menemukan...yang perlu untuk ditemukan.
__ADS_1