
"Entahlah, om Simon."
"Dipikirkan dulu saja untuk sementara ini, Hari. Tapi jangan lama-lama. Safira mungkin sudah diberitau oleh keluarganya tentang rencana kami ini dan sepertinya Safira tidak akan keberatan. Sampai di hari ini belum ada pemberitauan dari keluarga mendiang istrimu bahwa Safira menolak untuk dijodohkan denganmu."
Wad-duhh...
###############
Namaku Hari Pratama, 37 tahun.
Seorang yang bekerja sebagai pengacara dan duda dari mendiang istriku. Di semasa hidupnya dan 5 tahun hidup pernikahan kami, istriku berprofesi sebagai sesama pengacara bernama Ranti Kemala Sari. Ranti SH.
Kami menikah diusiaku 28 dan Ranti 27 tahun, dikaruniai 3 orang putra dan putri yaitu Yuanita sekarang berusia 7 tahun dan si kembar Rian serta Restu berusia 4 tahun.
Pasca melahirkan si kembar inilah, 3 hari kemudian Ranti menutup usia. Hasil diagnosa dokter : henti jantung.
Ranti memang memiliki riwayat penyakit jantung dalam dirinya maupun keluarganya. Tapi ia bersikeras ingin melahirkan si kembar begitu kami mengetahui dalam rahim tengah mengandung janin anak kembar dengan pendapat Ranti yang menyatakan dirinya akan bisa sehat dan baik-baik saja, tak akan ada masalah pada jantung itu biarpun ada sedikit keluhan bawaan.
Serta dokter sendiri telah memberi ijin untuk meneruskan kehamilan asalkan Ranti senantiasa baik-baik menjaga diri, tidak memforsir energi berat, juga rajin berkonsultasi ke dokter, maka, kehamilan itu pun jalan terus.
Namun takdir di antara kami harus berkata lain.
Kardiomiopati peripartum dalam dirinya tak mengijinkan Ranti melihat kelanjutan hidup si kembar sesudah terlahir secara normal dengan selamat ke muka bumi ini.
Istriku tak sanggup melawan keluhan yang kemudian ia rasakan...yang membuat kondisinya mendadak drop dan semakin drop mengkhawatirkan menit ke menit hingga jam ke jam.
Masih dalam suasana berbahagia kelahiran si kembar, aku sekaligus harus merelakan tanda menyerah dari Ranti. Ia pun berpulang. Perjuangannya berakhir di depan mataku sendiri...
Istriku telah mengorbankan nyawa demi untuk menghadirkan Rian dan Restu ke hadapanku, ke hadapan dunia.
Jadi bagaimana bisa mereka dengan semudah itu menyarankanku untuk melupakan Ranti? Mencari pengganti posisinya?
Mereka tidak bisa memahami aku bukanlah jenis pria setega itu, belum bisa seikhlas itu untuk melupakan Ranti.
Betapa perasaanku hancur berkeping menjadi serpihan debu yang kuhantar menjadi bagian abu keramasi jasad istriku.
__ADS_1
Ia memohon sebelum tarikan nafas penghabisan agar jasadnya diperabukan dan di larung ke sebuah laut di Jawa sana. Namun sebagai kenangan terakhir, ia tetap menginginkan sebuah pusara sebagai sebuah kenang-kenangan simbolis keberadaan dirinya pernah ada di tengah alam ini.
Sampai ke detik ini aku masih juga belum bisa memahami apa maksud dibalik keinginan terakhir mendiang ini, yang pada saat itu jelas aku tak punya keberanian setitikpun untuk menanyakan apalagi menolaknya.
Setelahnya, selama 4 tahun hidup menduda, betul aku belum lagi membuka hati untuk kehadiran wanita lain, wanita baru ke dalam hidup mendudaku.
Kesibukan pekerjaan seolah menyita habis masa hidup itu, seolah membuatku tak punya waktu tersisa sekadar untuk mencoba iseng-iseng lebih dulu mencari salah satu dari 1/2 jumlah keseluruhan penduduk bumi berwujud mahluk wanita untuk kujadikan pendamping hidup baru.
Belum lagi, aku harus tetap ambil bagian mengurus dan merawat ke 3 anak kami yang selama ini setelah mereka terlahir dan di bawa pulang dari Rumah Sakit, dengan senang hati aku dibantu mama dan papa serta mertua sesekali mengasuh mereka sendiri. Tanpa campur tangan seorangpun pengasuh.
Jadi begitu hasil diskusi keluarga semalam telah diputuskan untuk mencoba menjodohkanku dengan Safira adik nomor 3 mendiang istriku, dipersiapkanlah aku ini dengan Safira untuk 'dipertemukan'.
Mama dan papa begitu berharap Safira kelak bisa menggantikan posisi Ranti kakak tertuanya sebagai calon istriku. Istri baruku, ibu sambung bagi Yuan, Rian dan Restu.
Bagaimana perasaanku tentang hal ini?
Sudah jelas. Bikin tambah pusing 7 keliling kepala yang sudah dipusingkan banyak hal tentang pekerjaan dan te*ek bengek hal lain.
"Apa usianya yang lebih muda 10 tahun darimu itu yang bikin kau merasa agak berkeberatan dijodohkan dengan adik iparmu itu, Har?" tanya Irfan sahabatku, cukup prihatin begitu mendengar cerita yang ku-curhatkan ke hadapannya.
"Salah dua, tiga, empat, limanya?" Irfan sepertinya berminat menanggapi lebih jauh keluh kesahku.
"Aku tidak suka dijodohkan. Aku masih betah hidup sendiri. Aku tidak sreg dengan Safira karena dia itu adik iparku. Itu alasan utama."
Itu jujur. Prinsipku memang pada ketiga semua hal itu.
"Ooo..." Kepala Irfan terangguk-angguk.
Separuh bergumam aku berucap,
"Berharap sekali Safira tiba-tiba menolakku. Supaya pertemuan itu tak perlu terjadi. Siituasi itu nanti pasti cuma akan bikin canggung kami berdua..."
"Dia sudah setuju dan bersedia dijodohkan denganmu?" Seruputan kopi Irfan tak cukup memancing seleraku biarpun aku seorang penggila kopi. Sedang tidak punya mud baik seperti di saat ini, mendengar suara seruputan Irfan pada kopi ngebulnya pun malah justru bikin telingaku sakit.
Menanggapi apa yang tadi ditanya Irfan aku memberi jawab sambil menghembus nafas,
__ADS_1
"Sepertinya sih begitu. Seminggu lalu orangtuaku sudah membahas tentang ini ke keluarganya dan sampai sekarang belum ada kabar penolakannya."
"Apa itu berarti Safira sudah bersedia?"
"Sepertinya iya sudah."
"Atau mungkin dia menolak, Har, tapi pihak keluarga istrimu belum saja memberitaukannya ke kalian di saat-saat ini?"
"Tidak mungkin," gelengku skeptis. "Kalau Safira memang menolaknya, untuk apa mereka berlama-lama memberitaukan pada kami? Kemungkinan besarnya gadis itu sudah setuju dan keluarga mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk membahas itu lebih lanjut. Ya di pertemuan itu nanti."
"Wahh...parah."
"Bikin pusing, Fan."
"Iya iya, aku bisa mengerti itu."
"Bodohnya...," Aku menepuk kening, "...aku tidak dari jauh-jauh hari terpikirkan mengantisipasi ini, dan memacari saja ceweq sembarangan tapi yang sesuai dengan seleraku sendiri."
Kepala Irfan kembali terangguk-angguk sependapat dengan cetusanku. Tanggapnya, "Ya sudah, bagaimana kalau dari sekarang saja kau mulai mencari wanita itu?"
Mencari di sekarang ini?... Sambil mengerucutkan mulut aku menggeleng. "No. Sudah terlanjur merasa malas memulainya."
"Waduhh..." Irfan menyeruput lagi kopinya. "Jadi bagaimana kesimpulan akhirmu?"
"Ck..." Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Tak taulah."
"Safira itu bukan tipemu, Har?" tanya Irfan sambil meletakkan kembali mug ke atas meja, memasang wajah serius menanti apa jawabanku.
"Mmm..." Pertanyaan Irfan itu membuatku terdiam berpikir keras sejenak dalam membayangkan sepintas orangnya, "Kalau berbicara tentang apa dia tipeku atau tidaak, aku bisa menjawabnya saat ini juga bahwa yaa dia itu bukan tipeku." Menegaskan omonganku ini kepalaku mengangguk-angguk. "Sangat-sangat bukan tipeku. Safira terlalu muda, nyaris masih kekanak-kanakan. Memang orangnya cukup manis, baik, ramah, penurut..." aku sedang mengutip kata-kata mama, "...tapi itu jenis-jenis sifat seorang wanita yang justru kupandang membosankan."
Irfan melongo, "O-oww..."
"Aku lebih sreg bergaul akrab dengan adik dibawah Ranti. Lidia namanya. Sayangnya Lidia sekarang sudah punya pacar dan kabarnya sudah bertunangan dengan pacarnya itu. Lidia berpacaran dengan pria itu sudah sejak lama. Semenjak mereka sama-sama kuliah dulu."
"Oo...teman kuliah"
__ADS_1
"Ya."