
###############
'nak hari, masih ingat sewaktu ibu pesan akan menanyakanmu tentang evita?'
"Oh, masih, bu Laras. Jadi apa ibu mau menanyakannya sekarang?"
'apa kau sedang sibuk? apa sekarang sudah jam makan siangmu?'
"Sama sekali tidak sibuk. Dan jam makan siang saya sendiri sebenarnya bebas kapan saja. Kebetulan juga sekarang saya belum lapar."
'ooo...begitu. oke. jadi bisa kita bicara sebentar?'
"Tentu, bu. Silahkan silahkan..."
'anu, ibu cuma mau memberitaumu...sekitar 4 bulan lalu ibu, tak sengaja menemukan beberapa buku harian evita dibawah kasur spring-bed sewaktu ibu sedang bersih-bersih kamarnya. dann...'
"Maaf, bu, saya sela. Saya yakin ibu tak enak hati kalau mengatakannya lebih jelas pada saya..."
'ya?'
"Sudah, Evita sudah memperlihatkan buku harian itu pada saya. Atas inisiatifnya sendiri."
'haaa? ja-jadi...nak hari sudahh...'
"Kalau yang ibu maksud tentang...maaf terdengar ibu kurang sopan...pendapatnya tentangg...se*s itu."
'iya-iya-iya. iya yang itu. owalaah...jadi apa kau sudah tau...tentang itu?'
"Sudah. Dan tak jadi masalah. Kami sudah membicarakan dan kami akan tetap jadi menikah. Evita sudah memastikannya, bu Laras."
'bagaimana sih?...aduh, ibu malah jadi bingung sendiri ini. lah bagaimana bisa tak jadi masalaaah? evita bilang jijik padaa...'
"Maaf bu Laras, iya begitulah. Saya berharap ibu tak jadi khawatir karena ini. Sudah clear kami bicarakan dan sekaligus kami selesaikan. Intinya kami tetap akan jadi menikah."
'ohhh...dengan - tanpa...itu?'
"Ya, bu."
'bagaimana bisaaa? bagaimana kau bisa menerima begitu saja calon istrimu...'
"Bu Laras, maaf...sebaiknya ibu tenangkan pikiran saja. Besok di pertemuan akan kami pastikan kami akan berkata iya untuk tanggal pernikahannya. Tapi sekali lagi maaf beribu maaf, bisakah ibu... merahasiakann..."
'iya, tentu. akan ibu rahasiakan...selamanya...kalau perlu sampai ibu mati, ibu akan jaga kerahasiaannya."
__ADS_1
"Bu Larasss...jangan bicara seperti itu."
'bingung, nak, kenapa dia sampai bisa nulis seperti itu. dan ibu tidak tau lagi mesti ngomong apa sekarang... ini pasti sangat berat buat nak hari sendiri. tapi kau sungguh yakin, akan terus dengan rencana pernikahan kalian ini? '
"Yakin 1000%, bu Laras."
'oh tuhaann...nak hari...'
"Tidak apa. Saya sudah pernah menikah, saya sudah memiliki 3 anak... sekarang dengan masalah evita ini, ya masa iya saya masih juga menuntut lebih? Tidak, bu, saya tidak akan menuntut apapun dari Evita. Termasuk pada yang satu itu.
Setelah kami menikah nanti, dia masih akan bisa terus bekerja. Masih bisa terus aktif disetiap kegiatan yang pernah diikutinya. Bahkan ke 3 anak saya pun tidak akan lantas menjadi beban baru bagi Evita."
'oh tuhannn...'
"Saya sangat mencintai dan menyayangi putri ibu..."
'oh, benarkah? kau sudah jatuh cinta pada putri ibu? yang lain sendiri itu?'
"Hahaa...jangan disebut begitu, bu. Evita sesungguhnya seorang wanita hebat dan mengagumkan dimata saya."
'tau, ibu sebenarnya sangat tau seperti apa dia itu. dia itu tipe wanita wonder woman sebenarnya. diam-diam sebenarnya ibu sudah lama salut sama setiap kesibukannya. cuma, ibu segan saja memuji dia... biarpun dia anak kandung ibu sandiri, ibu harus akui kalau anak ibu yang satu itu susah untuk ditebak.'
"Ya, bu. Saya bisa mengerti. Tapi saya juga harus mengakui, saya sudah semakin bisa memahami dia. Sayaa...sudah benar-benar, maaf ibu, kepincut Evita. Saya sudah tak bisa lagi kalau harus dipisahkan darinya."
selama 4 bulan terakhir ini, sebenarnya berat banget nanggung rahasia ini sendirian. ibu sebisa mungkin ngga cerita ke siapa-siapa. bahkan ke bocahnya sendiri.'
"Ya ibu, saya bisa mengerti..."
Percakapanku via telpon dengan oma Laras tadi siang...satu hari sebelum esok Sabtu berkumpul lagi dirumah beliau.
Jadi oma Laras sudah lebih dulu tau tentang ini, sejak di 4 bulan lalu itu, beberapa minggu jelang pertemuan keluarga mempertemukan aku dengan Safira.
Oma 'terpaksa' bersikap seolah tak ada apa-apa, dan oma langsung setuju begitu aku memutuskan memilih Evita.
Dan barulah dihari ini oma Laras memutuskan untuk membahasnya padaku.
Evita...
Sang ibu sendiri sudah mengakui sulit memahami gadis itu. Maksudnya mungkin di satu-dua hal tertentu.
Buatku pribadi...semakin kumengenal Evita, seiring waktu berlalu, kuyakin kelak aku pasti semakin bisa juga memahami dirinya.
Seperti yang terjadi kemarin malam di tepi laut Ancol, memori pertama pertautan hati kami naik tingkat berlevel-level. Itu juga otomatis masuk kedalam bagian pemahamanku tentangnya.
__ADS_1
Evita, seorang gadis menarik karena secara fisik ia memang memiliki wajah yang cantik. Warna kulitnya eksotis, dan terutama memiliki bentuk tubuh kewanitaan sangat ideal.
Ramping semampai bertinggi sekitar 10cm dibawahku. Berbahu santai dengan lebar bahunya itu sama dengan lebar pinggang atau pinggulnya.
Bisa kusebutkan secara keseluruhan bentuk tubuh Evita berciri persegi panjang yakni tak memiliki lekuk tubuh signifikan, walau tetap saja dengan lekuk bagus yang ia miliki pada bagian dada ituu...
Tapi bukan berarti aku ini pemilih wanita dan mewajibkan diri harus memiliki pasangan nyaris sempurna.
Tidak, aku tidak begitu.
Hanya memang kebetulan hatiku kepincut Evita, yang kebetulan juga ia adalah seorang pemilik tampilan diri begitu nyaris menyempurna itu.
Tak dipungkiri naluri bawaan yang namanya pria memang 'selalu' menyukai hal-hal indah didepan mata yang terdapat pada diri seorang wanita. Dan jujur, aku mengagumi mereka para wanita yang sangat menjagai bentuk tubuh dan tampilan fisik keseluruhan mereka.
Aku menyukai hal yang terakhir itu dilakukan pula oleh seorang Evita. Tak sembarangan menampilkan dirinya kedepan mata publik, meskipun lebih menyukai kesimpelan dan kepraktisan, namun ia tak lantas kekurangan pesona dalam menampilkannya sedemikian.
Aktif bergerak dalam berjuta kegiatan, aktif menyalurkan energi ke hal-hal positif, dengan sendirinya semua itu membentuk dirinya menjadi seperti ia terlihat sekarang. Mengandung aura mempesona.
Kuyakin bukan menurutku saja. Dalam 3 tahun, beberapa pria telah berusaha untuk mendekati dan ingin memilikinya.
Ia pun mempesonakanku...seperti kemarin malam kutemukan dia berkemeja flanel, jins dan sepasang kets merah, muncul begitu saja didepan mata yang kemudian terjelaskan dalam perjalanan kami menuju kawasan Tanjung Priok : "Cuti Kamis dan Jumat. Ngga mud pergi kerja, jadi aku..."
"Kau tidak mud karena kau sudah ingin membicarakannya denganku sebelum Sabtu lusa."
"Ya."
"Oke. Dan apa diam-diam kau punya kemampuan Teleportasi atau semacamnya? Membuatmu sekedip mata bisa pindah tempat ke mana saja termasuk ke gerbang Perum tadi itu? Kau tau pula aku akan lewat disana di jam ini."
"Aku memang sudah dalam perjalanan kerumah bang Hari, mau ketemuan sepulang abang kerja. Tapi tadi mama Alin yang ku sms dan kukabari.
Mama bilang bang Hari baru saja mengeluarkan mobil, mau pergi lagi. Jadi ya sekalian saja kutunggu ditempat tadi itu."
"Ooo..."
"Mama bilang bang Hari mau ada janji tenis-an dengan klien. Jadi itu bagaimana?"
"No problem. Bicara denganmu adalah prioritas utamaku."
"Ooh..."
Setelah itu kami tak mengobrol apa-apa lagi. Karena kusengaja, aku mulai hafal satu kebiasaan lain yang diterapkan Evita, dia tidak suka ada obrolan diantara dirinya dan kekonsentrasianku mengemudi.
Ini bikin penasaran, suatu saat nanti akan kucoba tanyakan apa cuma aku yang ia beginikan atau memang ia mengharuskan ini pada siapa saja yang mengemudi untuknya.
__ADS_1
Kemudian pembicaraan terlanjutkan juga begitu kami sudah mencari dan mendapat tempat di pinggiran berpasir tepi laut Ancol, tempat dimana terjadinya peningkatan drastis level keintiman kami...